• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Science & Cultural

Kalau Mau Nikah: Carilah Lelaki Batak

Pipiet Senja by Pipiet Senja
June 18, 2022
in Science & Cultural
3
Kalau Mau Nikah: Carilah Lelaki Batak

Sunset | dok.istimewa

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Pipiet Senja

Medio 1974 | Kembali aku masuk perawatan, RSPAD.

Aku dan Mak seperti ditakdirkan untuk bergantian diopname. Acapkali kami dirawat satu kamar. Mak dengan macam-macam keluhan, sakit kepala, maag, dan darah tinggi. Sementara aku dengan takdir kelainan darah bawaan, cacat genetik wajib transfusi darah seumur hidup.

Sekali ini aku sampai berbulan-bulan diopname. Jangan heran  kalau sampai berhari-hari tak ada seorang pun yang besuk.

Orang serumah mungkin sudah bosan harus saban hari besuk aku. Mulanya aku merasa sedih diabaikan begitu. Bayangkan saja, sementara pasien lain dibesuk oleh banyak orang, aku bengong sendirian. Bahkan tanpa pakaian yang layak, tanpa persediaan makanan di luar ransum rumah sakit.

Tak jarang aku kelaparan, bosan, lelah dan nyaris putus asa. Ya, demikianlah warna masa-masa remajaku. Sarat dengan rasa sakit, derita, dan tanpa masa depan.

Keadaanku yang demikian tak jarang menimbulkan rasa simpati dan iba pasien lain. Ada saja ibu-ibu yang mengulurkan tangan, memberi aku penganan, kue-kue kering atau buah-buahan.

Ketika itulah aku punya seorang sahabat. Namanya Betty, umurnya sebayaku berasal dari Ambon. Betty mengidap kelainan jantung. Dia sedang menunggu kesempatan untuk dioperasi jantung. Betty putri bungsu seorang Bupati. Tak heran kalau persediaan makanan dan buah impornya setumpuk, memadati lemari kecilnya. Sebagian sering dibagikan kepada pasien lain, termasuk aku yang paling kenyang.

Kami menempati sebuah kamar bernomer tiga di pavilyun kelas perwira itu. Status kami yang sama-sama pasien, itulah agaknya yang merekatkan hubungan kami menjadi erat. Bahkan dari hari ke hari terasa lebih erat, sudah bagaikan saudara kandung saja. Untuk mengusir rasa sepi, biasanya kami mengisinya dengan macam-macam permainan. Main catur, ular tangga, mengisi TTS, tebak-tebakan. Macam-macamlah!

“Kamu senang, ya, banyak adiknya,” cetus Betty suatu hari.

“Kamu juga pasti senang kan, punya banyak kakak.”

Betty tiba-tiba menangis pilu, kubelai-belai punggungnya dan tak tahu apa yang harus kukatakan sebagai penghiburan. Ucapannya ada benarnya, memang yang sering membesuknya adalah paman dan bibinya. Terakhir Mami Betty besuk sekitar sebulan yang lalu.

Betul, Betty dibekali banyak uang saku. Namun, saat-saat sakit begini siapa lagi yang butuh duit? Kasih sayang, perhatian, simpati, dan dorongan semangat keluarga. Itulah yang paling kami butuhkan!           

“Mereka bukan tak sayang kamu, Betty. Mami dan Papi kamu mungkin saat ini sangat sibuk di Ambon,” hiburku.

“Pokoknya, beta iri sama kamu. Orangtua kamu dan adik-adikmu  penuh perhatian sama kamu!”           

“Iya, tetapi kami miskin, Betty. Mereka juga terpaksa jarang besuk aku….”

Kami pun merunduk dalam bisu. Senyap sangat menyergap kalbu kami. Dari balik tirai jendela kamar, kami akan memandangi suasana di luar. Para pasien yang ramai dikunjungi sanak saudara. Sementara kami sangat kesepian, aaah!

Betty akan membujukku, agar mau menemaninya jalan-jalan ke luar. Minggat! Ya, sejak saat itulah aku mengenal istilah Minggat dari rumah sakit. Kami melakukannya kalau hari libur. Karena penjagaannya jadi longgar.

Seperti yang terjadi hari Minggu itu.

“Kita pigi ke Senen,  yuuk?” ajak Betty tak lama setelah makan pagi.

“Lagi? Rasanya belum lama kita ke sana. Jummat lalu itu, kamu borong makanan dan baju …”

“Liburannya sekarang jadi sering, ya?” Betty tertawa. Dia langsung membeli beberapa potong baju yang bagus dan mahal harganya.

“Kamu harus memilih satu,” desaknya.

 “Nggak, ah, nanti Bapak marah,” elakku.

 Bapak memang suka marah kalau mengetahui ada anaknya yang mau menerima begitu saja pemberian orang. Kata Bapak, kita jangan bermental pengemis. Jangan merasa malu karena miskin. Lebih baik memberi daripada sebaliknya dan …. Bla, bla, bla!

Aku pun menyembunyikan penganan atau buah-buahan pemberian orang. Kalau pun membagikannya kepada adik-adik, aku akan mewanti-wanti mereka agar tidak usah menceritakannya kepada Bapak.

Sikap Bapak ini pula yang membuat hubungan Mak dengan keluarganya tak harmonis. Bapak tak suka kalau Mak sampai meminta-minta kepada saudara-saudaranya.

“Biarlah mereka sadar sendiri kalau mau bantu,” kata Bapak.

Sejauh itu paling hanya seorang adik Mak yang terkadang membantu.

“Bapakmu itu aneh,” kata Betty mendumel. “Kamu kan tak meminta, tapi dikasih demi persahabatan, please, please ….”

Aku tersenyum sambil mengamati wajahnya yang hitam manis dengan dua lesung pipit. Rambutnya kribo dipangkas pendek. Kalau tersenyum sederetan gigi putihnya akan terpampang bagus. Seuntai kalung emas dengan liontin salib menghiasi lehernya. Ya, Betty seorang Protestan. Namun, itu sama sekali bukan penghalang sebuah persahabatan yang tulus.

“Kamu ini seperti mamakasih aja!” aku seketika nyeletuk.

“Apa itu mamakasih?”

“Hmm, itu bahasa Sunda. Seseorang mendadak bertingkah, berkeinginan nyrleneh, dan aneh-aneh. Ditujukan buat orang yang akan pergi selamanya, eh, sorry!” Seketika aku menutup mulut.

Untuk sesaat aku pandangi wajah si Ambon manise. Tak ada reaksi, bersikap wajar saja.

“Oh, barangkali beta ini mau mati sebentar lagi, ya?” katanya sambil tertawa lepas.

“Biarlah begitu. Yah, daripada banyak menyusahkan keluargaku di Ambon!”

Entah kenapa, tiba-tiba bulu romaku meremang. Hiy, ada apa nih?

“Ssst, sudahlah. Maafkan aku, lupakan omonganku itu.”

Kami pun naik bajaj. Bawaan kami cukup banyak. beberapa kantong berisikan baju-baju Betty. Satu kantong besar berisikan majalah-majalah, buku-buku dan novel buatku. Sebelum di depan pintu gerbang rumah sakit, Betty tiba-tiba minta turun. Aku memandangnya keheranan.

“Kenapa?”

“Takut kepergok Tanteku. Beta lupa. Kemarin dia janji mau datang siang ini. Eeh, bagaimana kalau lewat jalan belakang saja, yuk?”

“Iya, ayo …. “           

Aku protes keras. Habis, jalannya akan memutar jauh sekali. Aku pandangi wajahnya. Masya Allah, kenapa wajah Betty berubah begitu? Tampak kebiru-biruan dan bibirnya ungu. Aku menyentuh tangannya. Diii-ngiiin!

“Betty, kamu teh ini kenapa atuh?”

“Aduh, Bunda Maria…. Dada beta mendadak sakiiit!” Betty berseru, mengaduh sambil mendekap daddanya sebelah kiri.

Sebelum aku menyadari apa yang tenagh terjadi, tiba-tiba … bruuuk!

“Betty! Kenapa pingsan?” pekikku panik.

Aku berlari dan menjerit-jerit menuju pos penjagaan. Dua orang prajurit segera mengulurkan tangan.

“Naaah, kalian habis minggat lagi, ya?” tanya salah seorang  prajurit.

Dia mengenali kami. Tanpa banyak bicara, mereka segera mengangkut Betty ke ruang isolasi. Saat itu belum ada ruangan ICCU.

Sementara aku bagai linglung kembali ke ruangan perawatan sambil menjinjing kantong besar. Mereka tak membiarkan aku menunggu, karena aku sendiri pasien. Mereka tak mau mengambil resiko agaknya. Khawatir kalau kemudian aku pun ambruk.

Ketika aku akan memasuki kamar, dua orang perawat sedang bercakap-cakap. Aku menguping diam-diam.           

“Anak-anak itu nakal sekali… Gak bisa dilarang, ya!”

“Hmmm …. Entah berapa kali mereka minggat!”

“Padahal dua-duanya pasien gawat, tuh!”

“Iya, yang satu jantungnya sudah parah. Satunya lagi kanker darah, barangkali ya? Ditransfusi melulu kerjanya, tuh …”

“Kalau kanker darah, paling banter umurnya beberapa bulan lagi!”

Degggh!

Lututku terasa goyah, lemas sekali. Langit seakan runtuh di atas kepalaku. Namun, aku memaksakan diri melanjutkan langkah menuju kamarku dan merebahkan tubuhku di pembaringan. Lama aku merenungkan percakapan kedua perawat itu.

Kanker darah, katanya. Apakah itu aku? Bukankah di kamar ini hanya aku yang suka ditransfusi melulu?

Jadi, ceritanya aku mengidap kanker darah? Begitukah?

Apa karena itu, Mak, Bapak, dan adik-adik suka memanjakan aku?

Sejuta tanya berkecamuk dalam otakku. Tak terjawabkan.  Semuanya menjadi gelap. Tak berpengharapan. Tak ada masa depan sama sekali.

Esok harinya aku mendapat kabar duka cita itu. Betty tak tertolong lagi. Dia telah dijemput Sang Pencipta. Betty telah terbebas dari derita, rasa sakit, ketakutan, dan kesepian yang menyiksa.

Selamat jalan, sahabat tersayang. Semoga kamu mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya.

“Tolong Dokter, izinkan aku pulang. Kalau gak pulang aku bisa mati di sini,” pintaku kepada Dokter Qomariyah. Air mataku bercucuran hebat.

Syukurlah, dokter perempuan berwajah jelita dan asli Sunda itu, akhirnya mengizinkan aku pulang. Untuk sementara aku merasa tenang bisa berada di tengah-tengah keluarga. Kalaupun aku memang akan mati, biarlah di tengah kehangatan kasih sayang mereka, pikirku pasrah.

Kelak setelah menjadi seorang penulis, aku merangkai kisah nyata ini dalam dua cerpen indah. Kuberi judul; Kamboja Berguguran, Desember Kelabu.

Cerpen yang telah membuat pembacaku bercucuran airmata. Mungkin karena saat menuliskannya pun aku sambil bercucuran airmata. Menulis dari hati, maka sampainya pun langsung ke hati, makjleb!

Oya, tak berapa lama aku kembali masuk rumah sakit. Kali ini hanya sebentar, tiga hari saja. Karena kelelahan mendadak sering mimisan. Nah, saat itu pula dokter Qomariah memberi pesan sbb;

“Neng, tenang saja jangan putus asa. Jangan pernah menyerah, ya. Insya Allah, kamu bisa bertahan, asalkan disiplin transfusi. Kelak, kalau mau nikah, carilah lelaki Batak.”

“Batak? Kenapa begitu, Dokter?” tanyaku seraya menatapnya, penasaran sekali.

“Karena suku Batak tak ada yang Thallasemia!” jelasnya terdengar serius sekali.

Alhasil, kubawa serta kemanapun daku melangkah. Mencari lelaki Batak, heloooow!

Note; Saat ini umurku 65 tahun, anak dua, cucu lima. Penulis 203 buku, telah berkelana ke berbagai negara dengan karya. Spesial untuk anak-anak Thaller; berdamailah dengan kondisi kita, tetap disiplin transfusi dan minum kelasi besi. Berdoa senantiasa yakin dengan KemahaKasihan Sang Pencipta. Jangan pernah menyerah!

Salam Perjuangan!

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Harga Cabai Melejit, Zulhas Akan Temui Mentan

Next Post

Serangan Balik PAN Tonjok PKB

Pipiet Senja

Pipiet Senja

Related Posts

Rabat Jadi Ibu Kota Buku Dunia UNESCO 2026, Wilson Lalengke Ucapkan Selamat!
News

Rabat Jadi Ibu Kota Buku Dunia UNESCO 2026, Wilson Lalengke Ucapkan Selamat!

April 15, 2026
Petani, Sensor, dan Pasar: Ketika Pisang Tidak Lagi Sekadar Pisang (Catatan Kecil tentang Masa Depan yang Diam-Diam Sudah Datang)
Feature

Petani, Sensor, dan Pasar: Ketika Pisang Tidak Lagi Sekadar Pisang (Catatan Kecil tentang Masa Depan yang Diam-Diam Sudah Datang)

April 11, 2026
Hisab, Presisi Langit, dan Tafsir di Bumi
Feature

Hisab, Presisi Langit, dan Tafsir di Bumi

March 19, 2026
Next Post
Serangan Balik PAN Tonjok PKB

Serangan Balik PAN Tonjok PKB

SWASTANISASI PELAKSANAAN IBADAH HAJI

Anies, Prabowo dan Ganjar, 3 Nama Yang Memuncaki Hasil Survey, Tapi Belum Tentu Bisa Maju Di 2024.

Comments 3

  1. Arisqa Putra says:
    4 years ago

    Saya sbg orang Batak bingung, setau saya thallasemia bisa mengindap pada siapa saja tanpa memandang Suku, ada apa dibalik cerita itu & kenapa si pasien bisa bertahan hidup sampai usia 65 thn, padahal tdk diceritakan bhw wanita itu menikah dgn Pria Batak. Ceritanya menarik👍

    Reply
    • fusilat says:
      4 years ago

      Terima kasih, nanti Ibu Pipit Senja, akan membalasnya.

      Reply
    • Pipiet Senja says:
      4 years ago

      Thallasemia bukan penyakit melainkan cacat genetik. Kelainan darah bawaan. Saat itu memang beberapa suku kita banyak membawa gen thallasemia seperti: Sunda, Betawi, Melayu, Minang, Aceh dan Jawa. Sangat langka ditemukan pada suku Batak.
      Saya menikah dengan lelaki Batak. Meskipun kemudian berpisah.
      Terima kasih komentarnya.

      Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia
News

Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

by fusilat
April 17, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Awal minggu ini beredar sejumlah laporan media internasional yang mengungkap adanya upaya Amerika Serikat (AS) untuk memperoleh akses...

Read more
Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

April 15, 2026
Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

April 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Gelombang Migrasi Politik ke PSI Menguat, NasDem Terkikis—Isu Merger dengan Gerindra Mencuat

Gelombang Migrasi Politik ke PSI Menguat, NasDem Terkikis—Isu Merger dengan Gerindra Mencuat

April 18, 2026
Ketika Kritik Dipidanakan, Demokrasi Sedang Diuji (dengan Kasus Ubedilah dan Saiful Mujani)

Ketika Kritik Dipidanakan, Demokrasi Sedang Diuji (dengan Kasus Ubedilah dan Saiful Mujani)

April 18, 2026
Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

April 17, 2026
Pilkada Jakarta Selesai, Inisial S atau Kaesang?

PSI Klaim ‘Borong’ Kader NasDem, Nama-nama Disimpan: Manuver Senyap atau Sinyal Perang Politik?

April 17, 2026
Baru Dilantik, Ketua Ombudsman Langsung Berhadapan dengan Hukum

Baru Dilantik, Ketua Ombudsman Langsung Berhadapan dengan Hukum

April 17, 2026
Ini Bukan Dendam Biasa: Jejak Pembusukan Hukum di Balik Kasus Andrie Yunus

Ini Bukan Dendam Biasa: Jejak Pembusukan Hukum di Balik Kasus Andrie Yunus

April 17, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Gelombang Migrasi Politik ke PSI Menguat, NasDem Terkikis—Isu Merger dengan Gerindra Mencuat

Gelombang Migrasi Politik ke PSI Menguat, NasDem Terkikis—Isu Merger dengan Gerindra Mencuat

April 18, 2026
Ketika Kritik Dipidanakan, Demokrasi Sedang Diuji (dengan Kasus Ubedilah dan Saiful Mujani)

Ketika Kritik Dipidanakan, Demokrasi Sedang Diuji (dengan Kasus Ubedilah dan Saiful Mujani)

April 18, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...