Fusilatnews – Pertanyaan paling ironis dari perjalanan demokrasi Indonesia belakangan ini bukanlah sekadar siapa yang berkuasa, melainkan bagaimana mungkin orang-orang dengan kapasitas dan kompetensi terbatas dapat duduk di singgasana kepemimpinan tertinggi republik ini. Nama Joko Widodo dan Gibran Rakabuming Raka muncul sebagai contoh paling terang benderang: sosok yang bukan hanya berhasil menduduki jabatan strategis, tapi bahkan diproyeksikan menjadi simbol estafet politik bangsa. Pertanyaannya, siapa yang sebenarnya tolol dalam situasi ini?
Di negeri dengan jumlah akademisi melimpah, dengan tokoh-tokoh hebat, cerdas, dan berpengalaman bertaburan, mengapa justru figur-figur yang paling dipertanyakan kapasitasnya bisa menguasai panggung? Ironinya lagi, ketika hukum dilanggar terang-terangan melalui keputusan kontroversial Mahkamah Konstitusi yang membuka jalan politik bagi Gibran, para cendekiawan, kaum intelektual, dan mereka yang selama ini lantang bicara seakan-akan memilih jalan sunyi: diam. Mereka menaminkan, seolah hanya penonton yang bertepuk tangan dalam pertunjukan sirkus politik.
Apakah mereka tidak melihat absurditas ini? Atau barangkali mereka terlalu takut kehilangan posisi, fasilitas, atau kenyamanan? Di titik ini, “si tolol” bukan lagi hanya para penguasa yang mempermainkan hukum dan etika politik. Tolol sesungguhnya adalah mereka yang tahu kebenaran, mengerti salah-benarnya, tapi memilih bungkam demi keselamatan pribadi.
Sejarah bangsa membuktikan: pemimpin besar tidak lahir dari nepotisme dan kalkulasi politik pragmatis, melainkan dari keberanian moral dan integritas. Namun, hari ini kita dipaksa menelan kenyataan pahit—bahwa kepemimpinan bisa diwariskan seperti harta benda, sementara otoritas hukum bisa dipelintir demi kepentingan keluarga politik.
Pertanyaan “siapa yang tolol” bukan sekadar retorika, tapi refleksi keras bagi seluruh elemen bangsa. Jika rakyat, akademisi, dan tokoh intelektual terus diam, maka jawaban paling jujur adalah: kita semua sedang ditololkan—bahkan mungkin rela menjadi tolol.


























