OLEH : ENTANG SASTRAATMADJA
Ditelaah dari aspek fisik dan kualitas gabah, terekam ada beberapa kendala penyerapan gabah di musim hujan. Daro sosi fisik, kendala tersebut antara lain, pertama, kurangnya infrastruktur penyimpanan gabah yang memadai dan tahan terhadap cuaca hujan. Kedua,
kurangnya alat dan mesin yang memadai untuk menyerap gabah di musim hujan. Ketiga, kondisi jalan yang buruk dan berlumpur di musim hujan dapat menghambat transportasi gabah.
Sedangkan dari aspek kualiras sendiri, kendala yang dihadapi adalah pertama, gabah yang dipanen di musim hujan dapat memiliki kualitas yang rendah karena kelembaban yang tinggi. Kedua, gabah dapat rusak akibat hujan, sehingga mengurangi kualitas dan nilai jualnya.
Diluar kedua kendala diatas (fisik dan kualitas), ada pula kendala lain yang lebih bersifat ekonomis, yakni pertama, harga gabah di musim hujan dapat rendah karena ketersediaan gabah yang melimpah. Kedua, biaya produksi gabah di musim hujan dapat tinggi karena kondisi cuaca yang buruk dan keterbatasan infrastruktur.
Tak kalah pentting untuk dicermati, kurangnya sumber daya manusia yang memadai untuk menyerap gabah di musim hujan dan kurangnya informasi yang memadai tentang harga gabah, ketersediaan gabah, dan lain-lain, j7gq merupakan kendala lain yang butuh penanganan dengan segera.
Itulah berbagai kendala yang harus dijawab sekiranya panen padi berlangsung di saat hujan. Perum Bulog sebagai operator pangan dan Pengusaha Penggilingan Padi (PERPADI) yang ditugaskan Pemerintah untuk menyerap gabah kering panen kali ini, tentu perlu memahami dengan seksama kendala-kendala yang disampaikan diatas.
Hal ini patut dicermati, mengingat tugas yang diemban Perum Bulog untuk menyerap gabah kering panen sebesar 0,9 juta ton setara beras dan PERPADI sebesar 2,1 juta ton setara beras, bukanlah pekerjaan mudah untuk diwujudkan. Artinya, sangat dibutuhkan adanya terobosan cerdas untuk menjawab kendala-kendala yang menghadang.
Untuk menjawabnya, sekurang-kurangnya ada beberapa terobosan cerdas yang dapat dilakukan, baik dalam kairannya dengan terobosan teknologi, terobosan logistik, terobosan ekonomi dan terobosan sosial. Terobosan cerdas ini perlu digarap secara bersamaan dalam sebuah gerakan yang dalam prakteknya membutuhkan peran serta segenap komponen bangsa.
Kaitannya dengan terobosan teknologi dapat ditempuh pengembangkan sistem penyimpanan gabah yang tahan air dan dapat menjaga kualitas gabah. Selanjutnya,
penggunaan mesin pengering gabah untuk mengurangi kelembaban gabah dan meningkatkan kualitasnya. Dan
mengembangkan sistem informasi penyerapan gabah yang dapat memantau ketersediaan gabah, harga gabah, dan lain-lain.
Selanjutnya, terobosan logistik dapat ditempuh pengembangan jaringan logistik yang efektif untuk mengangkut gabah dari petani ke pengolah. Kemudian, bekerja sama dengan perusahaan logistik untuk meningkatkan efisiensi pengangkutan gabah. Dan menggunakan kendaraan yang tahan air untuk mengangkut gabah di musim hujan.
Dari sisi terobosan ekonomi dapat dilakukan pengembangan sistem harga gabah yang fleksibel untuk mengakomodasi perubahan harga gabah di musim hujan. Lalu,
mengembangkan program insentif untuk petani yang dapat meningkatkan motivasi mereka untuk menjual gabah di musim hujan. Dan bekerja sama dengan lembaga keuangan untuk meningkatkan akses petani ke kredit dan lain-lain.
Terakhir berkaitan dengan terobosan sosial dapat ditempuh pengembangan program pendidikan untuk petani yang dapat meningkatkan pengetahuan mereka tentang cara menjual gabah di musim hujan. Kemudian, bekerja sama dengan organisasi petani untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam menjual gabah di musim hujan. Dan mengembangkan program sosialisasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjual gabah di musim hujan.
Panen padi di musim hujan, selama ini betul-betul merupakan tragedi kehidupan yang sangat merugikan bagi kehidupan nya. Hasrat untuk berubah nasib, menjadi susah untuk dilakukan. Dengan keterbatasannya, petani berjuang keras untuk menghasilkan gabah kering panen yang berkualitas. Tapi, apa mau dikata, jika sinar matahari tak kunjung tiba. Gabah basah sangat tidak bisa dihindari para petani.
Untung Presiden Prabowo cukup tanggap dan bergerak cepat untuk memberi solusi atas masalah yang berkembang selama ini. Dengan spirit mempercepat terwujudnya kesejahteraan petani, kini Pemerintah meluncurkan kebijakan “satu harga” gabah, yakni sebesar Rp. 6500,- per kg. Selain itu, Presiden Prabowo juga memberi penekanan khusus agar Perum Bulog dan Perpadi diminta untuk membeli gabah sekurang-kurangnya Rp. 6500,-
Lebih keren lagi, kini Pemerintah mencabut persyaratan kadar air dan kadar hampa tertentu dalam penyerapan gabah di lapangan. Langkah ini, jelas mampu menghilangkan para oknum yang selama ini doyan mempernainkan harga gabah dibawah HPP. Lewat kebijakan satu harga gabah, petani tidak bakal was-was jika harga gabahnya akan anjlok saat panen berlangsung. Berapa pun kadar air dan kadar hampa, Perum Bulog dan Perpadi serta offtaker lain, mesti membeli gabah minimal di harga Rp. 6500,-
Demikian langkah nyata Pemerintah untuk menjadikan petani makmur dan sejahtera. Berbagai kendala diatas, diharapkan mampu dijawab lewat kerja keras dan kerja cerdas, setelah Pemerintah meluncurkan kebijakan yang memperkuhatkan kecintaannya kepada petani. Betul 100 %, petani butuh pembelaan dan perlindungan. Salah besar kalau ada pemimpin bangsa yang cuma omon-omon saja akan membela petani. Padahal, fakta yang terjadi, pelan tapi pasti, petani terpunggirkan dari hiruk pikuknya pembangunan. (PENULIS, KETUA DEWAN PAKAR DPD HKTI JAWA BARAT).





















