Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Bukan Budi Arie Setiadi namanya kalau tidak pragmatis. Ketika kekuatan Joko Widodo mulai melemah, Ketua Umum Projo itu langsung balik badan dan mencampakkan Presiden ke-7 RI itu. Kini, Budi Arie menyatakan dukungan penuh kepada Presiden Prabowo Subianto.
Sebelumnya, selama dua periode atau 10 tahun, Projo mendukung penuh pemerintahan Jokowi, sehingga diidentikkan dengan pro-Jokowi.
Namun, hal itu dibantah Budi Arie. Projo, katanya, bukan singkatan dari pro-Jokowi. Projo yang dipersepsikan singkatan dari pro-Jokowi, kata Budi Arie, hanya bahasa media saja supaya gampang.
Menurut Budi Arie, Projo berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti negeri, atau dari bahasa Jawa Kawi yang berarti rakyat.
Selain “meluruskan” makna Projo, Budi Arie juga mengaku akan mengubah logo Projo supaya tidak ada kesan kultus individu.
Diketahui, logo Projo adalah siluet wajah Jokowi dalam lingkaran berwarna putih. Logo itu kini mau diubah.
Ada sejumlah hal yang memicu Budi Arie mencampakkan Jokowi dan balik badan mendukung Prabowo.
Pertama, bekas Menteri Komunikasi dan Informatika di era Jokowi ini merasa terintimidasi oleh Prabowo yang beberapa waktu lalu sempat bertanya kepada Budi Arie mau masuk partai apa?
Baca : https://fusilatnews.com/kongres-projo-iii-ketidakhadiran-prabowo-tamparan-simbolik-bagi-jokowi/
Diketahui, Prabowo adalah Ketua Umum Partai Gerindra. Mungkin ia menghendaki Budi Arie masuk partainya. Bukan ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang didukung Jokowi.
Kedua, Jokowi sudah tidak punya kekuatan politik lagi sehingga Budi Arie berpaling ke Prabowo yang saat ini posisi politiknya sedang kuat-kuatnya.
Ada adagium di dunia politik: tak ada kawan atau lawan abadi, yang abadi adalah kepentingan. Hari ini kawan, esok boleh jadi lawan. Hari ini lawan, esok boleh jadi kawan. Semua tergantung kepentingan.
Ketiga, Budi Arie merasa takut sehingga bernaung ke Prabowo dan Gerindra dengan harapan mendapatkan perlindungan baik secara politik maupun hukum. Maklum, nama Budi Arie kerap dikaitkan dengan kasus gratifikasi perlindungan akun judi online saat menjabat Menteri Kominfo.
Jokowi dinilai Budi Arie tak bisa melindungi dirinya lagi. Jangankan melindungi Budi Arie, Jokowi melindungi dirinya sendiri saja belum tentu bisa.
Dalam kasus dugaan ijazah palsu Jokowi, dan juga kasus dugaan korupsi proyek kereta cepat Jakarta-Bandung alias Whoosh, misalnya, belum tentu bekas Walikota Solo itu bisa lolos.
Keempat, Budi Arie mungkin berharap dirinya dilibatkan lagi dalam pemerintahan Prabowo, entah sebagai Komisaris BUMN atau apalah yang penting punya kuasa meskipun sedikit.
Itulah, sekali lagi, sejumlah alasan mengapa Budi Arie mencampakkan Jokowi di satu pihak, dan di pihak lain mendukung penuh Prabowo. Sampai-sampai singkatan Projo bukan pro-Jokowi lagi, dan logo Projo pun akan diubah supaya tidak bernuansa Jokowi lagi.

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
























