Fusilatnews – Pada sebuah pesta sederhana yang dihadiri teman-teman lama, seorang pangsioenan — rambutnya memutih, langkahnya pelan, tapi matanya masih menyala — tiba-tiba dipanggil naik ke panggung.
MC, dengan senyum menggoda, bertanya,
“Apakah Bapak masih sering pergi ke dokter?”
Sang pangsioenan menjawab ringan,
“Ya, saya sering pergi ke dokter!”
“Kenapa?” tanya MC lagi, penasaran.
Dengan nada tenang tapi mengandung kelakar, sang pangsioenan berkata,
“Pasien harus sering pergi ke dokter… hanya dengan begitu dokter bisa bertahan hidup.”
Ruangan pun meledak oleh tawa dan tepuk tangan. Jawaban itu terdengar lucu, tapi juga menyimpan logika yang tak bisa dibantah: dalam hidup, kita saling menopang, meski kadang lewat cara yang tak disadari.
MC melanjutkan, “Apakah Bapak juga sering ke apotek?”
“Tentu saja,” jawab sang pangsioenan tanpa ragu. “Apoteker dan asistennya juga harus hidup.”
Suasana kembali riuh. Namun MC, yang tampaknya mulai menikmati irama candaan itu, bertanya lagi,
“Kalau begitu, apakah Bapak benar-benar meminum obatnya?”
Dengan wajah serius yang membuat hadirin menahan tawa, sang pangsioenan berkata pelan,
“Tidak… Saya sering membuangnya karena saya juga harus hidup.”
Tawa pun pecah lebih keras dari sebelumnya. Di balik kelucuan itu, ada makna terselubung: hidup sehat bukan sekadar soal menelan obat, tapi juga menjaga keseimbangan antara percaya dan bersyukur, antara medis dan mental.
Ketika sesi hampir berakhir, MC berterima kasih, “Terima kasih, Pak, sudah mau hadir dan berbagi cerita.”
Sang pangsioenan menatap MC sambil tersenyum kecil, lalu berkata,
“Sama-sama… Saya tahu, Anda juga harus hidup.”
Kalimat itu, meski disampaikan ringan, menampar lembut kesadaran semua yang hadir: bahwa setiap profesi, setiap peran, setiap tawa di ruangan itu — semuanya saling menopang untuk bertahan.
Namun sebelum MC sempat menutup acara, ia menambahkan satu pertanyaan iseng,
“Bapak sering aktif di grup WhatsApp juga, ya?”
Dengan wajah bersinar, sang pangsioenan menjawab,
“Ya! Saya terus mengirim pesan karena saya juga ingin hidup! Kalau saya tidak aktif, teman-teman mengira saya sudah mati dan admin grup akan menghapus saya!”
Kali ini tawa pecah tanpa henti.
Namun di balik tawa itu, ada sesuatu yang lebih dalam. Humor sang pangsioenan bukan sekadar lelucon. Ia adalah refleksi kecil tentang hidup di usia senja: bahwa keberadaan seseorang sering kali hanya diukur dari kehadirannya — dari tanda-tanda kecil bahwa ia masih “ada”.
Di usia yang menua, sang pangsioenan mengajarkan bahwa hidup bukan semata urusan panjangnya napas, tapi seberapa sering kita menebar senyum, menyalakan tawa, dan membuat orang lain merasa hidup juga.
Dan malam itu, di antara tawa panjang dan tepuk tangan hangat, semua orang tahu: sang pangsioenan bukan sekadar hidup — ia sedang menghidupi.






















