• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

KETIKA PROSES HUKUM MENJADI ANCAMAN DEMOKRASI

Radhar Tribaskoro by Radhar Tribaskoro
November 29, 2025
in Feature, Law
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Radhar Tribaskoro
Menyertai Tim Hukum Pembela Bang Eggi Sudjana (BES) dalam Legal Opini terkait Perkara Dugaan Penggunaan Ijazah Palsu


Ada yang getir terasa dalam perkara ijazah ini. Bukan pada lembaran kertas itu sendiri—kertas selalu rapuh, mudah disobek, mudah pula dibakar—melainkan pada cara sebuah negara, dengan segala perangkat kekuasaannya, merespons pertanyaan sederhana dari warganya. Di negeri yang katanya demokratis, pertanyaan bukanlah permusuhan; ia adalah bentuk paling dasar dari kepedulian: keinginan memastikan bahwa yang memerintah tetap tegak pada kejujuran.

Namun kepedulian semacam ini rupanya dianggap ancaman.


Ijazah sebagai Informasi Publik, Bukan Milik Pribadi

Pertanyaan tentang keabsahan ijazah, sebagaimana tercantum dalam opini hukum Tim Pembela Eggi Sudjana dkk, seharusnya berdiri di atas prinsip yang terang: bahwa setiap dokumen yang digunakan untuk menduduki jabatan publik tidak lagi sepenuhnya bersifat privat. Ia telah beralih menjadi informasi publik, karena jabatan itu sendiri adalah mandat rakyat.

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Kebenaran bukan lagi sesuatu yang boleh diuji dan dibuka, melainkan sesuatu yang harus dijaga, bahkan bila perlu dengan tafsir hukum yang menyempit.

Di sinilah demokrasi mulai retak—bukan oleh keributan, melainkan oleh keheningan yang dipaksakan.


Ketika Pelapor Didahulukan Menjadi Tersangka

Di banyak negara, pelapor adalah saksi. Dan saksi adalah cahaya, karenanya hukum memberi mereka perlindungan agar dapat bicara tanpa diintimidasi. Tetapi dalam perkara ini, sebagaimana diulas dalam opini hukum tersebut, posisi itu terbalik: pelapor justru menjadi tersangka lebih cepat daripada perkara yang mereka laporkan diproses.

Ini ironi yang tak perlu dirayakan.

Apa artinya negara bila kecurigaan lebih tajam pada penanya kebenaran daripada pada objek laporan? Apa artinya kepolisian bila lebih cekatan memproses suara yang merisaukan kekuasaan ketimbang menjawab kekhawatiran publik?


Hukum yang Jernih, atau Keruh Mengikuti Arah Politik?

Hukum semestinya seperti air—jernih, tenang, tetapi berdaya. Namun ketika prosedur dilompati, syarat formil diabaikan, penyitaan dilakukan tanpa dasar hukum yang memadai, atau laboratorium forensik bekerja tanpa fondasi administratif yang jelas, maka yang mengalir bukan lagi air, melainkan arus keruh. Arus yang tidak mengikuti kontur keadilan, melainkan kontur kepentingan kekuasaan.

Dan dalam kekeruhan itulah demokrasi kehilangan bayangannya sendiri.


Kriminalisasi Pertanyaan: Preseden yang Gelap

Ijazah boleh jadi hanya penanda kecil dari integritas pemimpin. Namun lebih kecil lagi keberanian negara untuk menjawabnya. Alih-alih membuka informasi, menunggu debat publik berjalan, dan membiarkan terang menyelesaikan perkara, respons yang diambil justru mempercepat proses hukum dengan nada keras—mempidanakan para penanya.

Demokrasi tidak mati oleh dentum senapan, ia mati oleh rasa takut. Ketika rakyat belajar bahwa bertanya itu berbahaya dan kritik dianggap kejahatan, maka keheningan akan tumbuh. Dan keheningan adalah awal dari kekuasaan yang tak lagi merasa perlu diawasi.


“Cawe-cawe”: Dari Arahan, Menjadi Upaya Membungkam

Konstitusi memberi ruang bagi presiden untuk cawe-cawe ketika negara membutuhkan arahan. Tetapi bila cawe-cawe bergeser menjadi upaya menjaga kesunyian kritik, maka kita berada di wilayah berbeda: di mana kekuasaan tidak memperkuat demokrasi, melainkan menutup ruang-ruang koreksinya.

Sejarah republik ini pernah mencatat masa ketika kebenaran dikurung. Kita pun tahu bagaimana ujungnya.


Utopia sebagai Benih Demokrasi

Pada akhirnya, perkara ini bukan sekadar tentang Eggi Sudjana, TPUA, atau selembar ijazah. Ini adalah cermin tentang cara negara memperlakukan kritik. Ketika kekuasaan lebih mengandalkan kekuatan ketimbang argumentasi, pemidanaan alih-alih transparansi, maka yang sesungguhnya sedang diuji adalah kekokohan republik itu sendiri.

Kita selalu memiliki mimpi tentang negeri yang lebih tenang—di mana rakyat bertanya tanpa takut, pejabat memimpin tanpa sembunyi, dan hukum mengalir sebagai sungai jernih, bukan selokan kering yang stagnan oleh kekuasaan.

Mungkin itu utopis. Tapi demokrasi justru selalu bermula dari mimpi utopia. Yang menghancurkannya adalah ketika negara sendiri berhenti bermimpi.


Epilog: Pertanyaan sebagai Panggilan, Bukan Ancaman

Demokrasi tidak runtuh dalam sehari. Ia memudar perlahan lewat kebiasaan yang dibiarkan: kriminalisasi kritik, pelanggaran prosedur, penolakan akses informasi, dan preseden bahwa kebenaran tidak perlu diuji—cukup diperintahkan.

Barangkali inilah sisi tergelap dari kasus ini: bukan soal benar atau tidaknya dokumen, melainkan bagaimana negara menegakkan preseden bahwa pertanyaan harus ditakuti.

Padahal, pertanyaan tentang ijazah bukan hanya pertanyaan administratif. Ia adalah panggilan moral: untuk memastikan bahwa negara ini masih setia pada janji paling elementer demokrasi—bahwa kebenaran boleh diuji, dan rakyat boleh bertanya. Bahwa negara tidak berhak takut pada rakyatnya sendiri.

Karena saat kebenaran dianggap ancaman, maka republik telah kehilangan keberanian melihat dirinya di cermin cahaya.


 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Ketika Musibah Bersuara Jelas—Pelakunya Bukan Hujan, Melainkan Tangan Manusia

Next Post

Penjarahan di Sibolga: Anatomy of Hunger (Karena Harus Survive) vs Anatomy of Crime (Kesererakahan)

Radhar Tribaskoro

Radhar Tribaskoro

Related Posts

Feature

Ketika Iman Jadi Transaksi: Kita Sedang Menawar Tuhan?

April 28, 2026
Feature

NEGARA DENGAN DEMOKRASI BOHONG-BOHONGAN

April 28, 2026
Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?
Feature

Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

April 28, 2026
Next Post
Penjarahan di Sibolga: Anatomy of Hunger (Karena Harus Survive) vs Anatomy of Crime (Kesererakahan)

Penjarahan di Sibolga: Anatomy of Hunger (Karena Harus Survive) vs Anatomy of Crime (Kesererakahan)

Neokolonialisme Berkedok PSN

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Reshuffle Kabinet “4L”
Birokrasi

Reshuffle Kabinet “4L”

by Karyudi Sutajah Putra
April 27, 2026
0

Jakarta - Untuk kelima kalinya sejak dilantik sebagai Presiden RI pada 21 Oktober 2024, Prabowo Subianto melakukan reshuffle atau perombakan...

Read more
IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

April 27, 2026
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Ketika Iman Jadi Transaksi: Kita Sedang Menawar Tuhan?

April 28, 2026

NEGARA DENGAN DEMOKRASI BOHONG-BOHONGAN

April 28, 2026
Tragedi Bekasi: 14 Nyawa Melayang dalam Tabrakan KRL, Alarm Keras Keselamatan Transportasi

Tragedi Bekasi: 14 Nyawa Melayang dalam Tabrakan KRL, Alarm Keras Keselamatan Transportasi

April 28, 2026
Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

April 28, 2026

Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni

April 28, 2026

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 28, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Ketika Iman Jadi Transaksi: Kita Sedang Menawar Tuhan?

April 28, 2026

NEGARA DENGAN DEMOKRASI BOHONG-BOHONGAN

April 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...