• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Crime

Penjarahan di Sibolga: Anatomy of Hunger (Karena Harus Survive) vs Anatomy of Crime (Kesererakahan)

fusilat by fusilat
November 29, 2025
in Crime, Feature
0
Penjarahan di Sibolga: Anatomy of Hunger (Karena Harus Survive) vs Anatomy of Crime (Kesererakahan)
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Penjarahan yang terjadi di sebuah minimarket di Sibolga belakangan ini memicu kegaduhan. Video ratusan orang menyerbu rak-rak, menenteng beras, roti, air mineral, dan popok bayi berseliweran di lini masa. Di ruang percakapan publik, amuk itu segera dilabeli: kriminal. Titik. Tapi label yang tergesa-gesa sering gagal membaca wajah lain dari sebuah peristiwa: wajah lapar yang tidak sempat menunggu putusan moral.

Dalam catatan panjang bencana—di Aceh pascatsunami 2004, di New Orleans saat Badai Katrina 2005, di Palu pascagempa 2018—penjarahan selalu muncul sebagai epilog yang hampir otomatis. Fenomena itu melompati batas bangsa, suku, histeria bahasa, juga warna kulit. Karena motifnya universal: bertahan hidup. Ketika logistik negara tersendat dan perut meraung, hukum paling primitif bukanlah KUHP, melainkan naluri.

Bantuan yang telat lima hari, jalan darat yang terputus, kampung yang terendam atau terisolasi—ini adalah kondisi ketika “negara hadir” berubah menjadi catatan kaki dalam pidato. Di medan seperti itu, mencuri sebotol air mineral bukan pernyataan ideologis, melainkan pernyataan biologis. Meminjam istilah antropologi bencana: disaster anomie. Ketertiban rontok, digantikan oleh mekanisme survival lokal. Penjarahan di Sibolga, dengan demikian, bukanlah anomali budaya, melainkan konstanta kemanusiaan: terjadi pada bangsa mana pun, suku mana pun, ketika krisis menghabisi ruang memilih.

Amuk di Sibolga adalah drama insting. Ia bukan tindakan “mulia”, tapi tidak juga lahir dari kebengisan murni. Ia lahir dari urgensi yang tak kenal terminologi etika. Inilah penjarahan reaktif—simptom, bukan karakter. Ia bisa diredam dengan bantuan cepat, jalur logistik yang terbuka, tenda darurat yang berdiri sebelum masyarakat berdiri menyerbu. Ia bukan direncanakan di ruang rapat. Ia tidak dibiayai APBN. Ia tidak punya blueprint.

Bandingkan dengan amuk lain yang nadanya justru hening, rapinya administratif, dan eksekusinya tak butuh massa: penjarahan sumber daya alam dan kas negara oleh oknum pejabat dan lingkar oligarki. Ini adalah penjarahan proaktif—direncanakan, dihitung, disamarkan dalam kontrak, regulasi, hingga proposal. Mereka tidak butuh lima hari tanpa makan untuk bertindak. Mereka bertindak karena rakus, bukan karena lapar.

Jika warga mengambil mi instan dari rak karena terdesak pangan, itu adalah kriminal dalam spektrum survival. Tapi ketika pejabat mengambil izin tambang untuk lingkar sendiri, mengamankan rente IKN untuk kroni bisnis, atau memarkir utang negara demi proyek yang merumpun pada elite tertentu—itu bukan survival. Itu predatory. Ia bukan epilog. Ia adalah plot utama.

Hukum melihat keduanya sebagai pelanggaran. Tapi nalar publik harus melihat perbedaannya dengan kacamata yang lebih tajam. Yang pertama adalah jeritan mendadak dari keterlambatan sistem. Yang kedua adalah tindakan kriminal yang genuin, organik, dan ideologis dalam kemurnian niatnya: memperkaya diri, memelihara ekosistem oligarki, menjarah masa depan publik itu sendiri.

Penjarahan di Sibolga bisa terjadi pada bangsa mana pun karena ia berangkat dari insting. Tapi penjarahan uang negara dan SDA oleh pejabat serta oligarki tidak terjadi karena insting mempertahankan hidup, melainkan insting mempertahankan kuasa. Insting mempertahankan dominasi. Dan terutama: mempertahankan impunitas.

Di Sibolga, massa datang karena perut kosong.
Di ibu kota, penjarahan datang karena kantong ingin dikosongkan—buat diisi ulang, buat diri sendiri.

Dan di antara keduanya ada jarak yang jauh: jarak antara manusia yang lapar dan manusia yang memelihara kelaparan sebagai peluang.


 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

KETIKA PROSES HUKUM MENJADI ANCAMAN DEMOKRASI

Next Post

Neokolonialisme Berkedok PSN

fusilat

fusilat

Related Posts

Reshuffle Kabinet Prabowo 27 April 2026: Daur Ulang Stok Lama atau Perawatan Penjilat?
Birokrasi

Reshuffle Kabinet Prabowo 27 April 2026: Daur Ulang Stok Lama atau Perawatan Penjilat?

April 28, 2026
Feature

Ketika Iman Jadi Transaksi: Kita Sedang Menawar Tuhan?

April 28, 2026
Feature

NEGARA DENGAN DEMOKRASI BOHONG-BOHONGAN

April 28, 2026
Next Post

Neokolonialisme Berkedok PSN

Makar atau Manipulasi? Saat Hukum Harus Menyentuh Jokowi

Harus Dipidanakan Tokoh Utamanya - Merampok Uang Rakyat Untuk PSN

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Reshuffle Kabinet “4L”
Birokrasi

Reshuffle Kabinet “4L”

by Karyudi Sutajah Putra
April 27, 2026
0

Jakarta - Untuk kelima kalinya sejak dilantik sebagai Presiden RI pada 21 Oktober 2024, Prabowo Subianto melakukan reshuffle atau perombakan...

Read more
IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

April 27, 2026
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Reshuffle Kabinet Prabowo 27 April 2026: Daur Ulang Stok Lama atau Perawatan Penjilat?

Reshuffle Kabinet Prabowo 27 April 2026: Daur Ulang Stok Lama atau Perawatan Penjilat?

April 28, 2026

Ketika Iman Jadi Transaksi: Kita Sedang Menawar Tuhan?

April 28, 2026

NEGARA DENGAN DEMOKRASI BOHONG-BOHONGAN

April 28, 2026
Tragedi Bekasi: 14 Nyawa Melayang dalam Tabrakan KRL, Alarm Keras Keselamatan Transportasi

Tragedi Bekasi: 14 Nyawa Melayang dalam Tabrakan KRL, Alarm Keras Keselamatan Transportasi

April 28, 2026
Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

April 28, 2026

Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni

April 28, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Reshuffle Kabinet Prabowo 27 April 2026: Daur Ulang Stok Lama atau Perawatan Penjilat?

Reshuffle Kabinet Prabowo 27 April 2026: Daur Ulang Stok Lama atau Perawatan Penjilat?

April 28, 2026

Ketika Iman Jadi Transaksi: Kita Sedang Menawar Tuhan?

April 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist