Jakarta, Fusilatnews – 23 Juli 2025 — Dalam suasana peringatan HUT ke-52 Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) dan menyongsong Kongres Persatuan KNPI ke-17 pada Oktober 2025, kembali mencuat isu klasik yang terus menghantui tubuh organisasi ini: perpecahan yang tak kunjung usai.
Hal itu disampaikan dalam diskusi bertajuk “Menyatukan Pemuda, Majukan Bangsa” yang digelar di Markas Pemuda, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Selasa malam (23/7). Hadir sebagai pembicara Sekjen DPP KNPI versi Riyano Panjaitan, Suhawi; pakar hukum tata negara Prof. Margarito Kamis; aktivis senior Razakin Zuraid; dan Drs. Fredy Latimahina. Acara dimoderatori oleh Rustam P.
Suhawi menegaskan bahwa legenda perpecahan KNPI sejatinya tidak perlu terjadi, andai seluruh pihak menjaga komitmen terhadap amanah sejarah, terutama semangat Sumpah Pemuda 1928. “KNPI dibentuk sebagai buah pikiran cemerlang kelompok Cipayung (HMI, GMNI, GMKI, PMKRI, PMII) sebagai wadah tunggal pemuda nasional. Tapi sekarang, KNPI justru terpecah-pecah karena masuknya ormas pemuda parpol yang berprinsip: tiada kawan atau lawan abadi, kecuali kepentingan,” ujarnya.
Ia menyebut saat ini terdapat lima versi KNPI yang masing-masing mengklaim legalitas, membuat pemerintah kebingungan menentukan sikap. “Sub-ormas Cipayung bahkan sempat menuntut KNPI dibubarkan. Padahal jika semua berpijak pada nilai-nilai ideologis, tidak akan terjadi seperti ini,” kata Suhawi.
KNPI: Kebun Binatang atau Kebun Bunga?
Dalam paparannya, panelis Razakin Zuraid menyampaikan bahwa makna kata “persatuan” menunjukkan adanya pecahan yang mendahuluinya. Ia menyoroti kondisi pemuda kelas menengah yang mengalami tekanan ekonomi seperti cicilan rumah, kartu kredit, hingga godaan pragmatisme politik.
“KNPI sekarang ini bukan lagi wadah tunggal pemuda. Ia berubah jadi kebun binatang. Tapi jika berhasil secara ekonomi dan ideologis, ia bisa jadi kebun bunga. Sayangnya, itu belum difahami Menpora,” ujar Razakin dengan analogi tajam.
Prof. Margarito menambahkan bahwa menyatukan KNPI memerlukan pendekatan inovatif. Ia menekankan pentingnya membangun narasi pemuda yang otonom dan berdaya pikir. “Pemuda itu bukan ‘ini bapakku’, tapi ‘inilah aku’. Ia harus mengenali kondisi, berpikir dengan akal, bukan hanya otot,” katanya.
Harapan pada Pemerintahan Baru
Menjelang Kongres KNPI ke-17 Oktober mendatang, Ketua Umum KNPI versi Cipayung, Riyano Panjaitan, menyatakan harapannya agar Presiden Prabowo Subianto dapat mengambil langkah tegas menyatukan kembali KNPI.
“Bonus demografi sudah di depan mata. Tapi kalau pemudanya terpecah karena alasan pragmatis yang non-ideologis, bangsa ini bisa kehilangan momentum emasnya,” kata Riyano.
Sejumlah tokoh turut hadir dalam acara ini, di antaranya Almanzo Bonara, Nasdian, Jamal, Diko, Rizal Akbar, Pandi, dan Wulan. Mereka menyuarakan semangat serupa: satukan pemuda, satukan Indonesia.
Mahdi

























