• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Crime

KORUPSI SEBAGAI HABITUS

Radhar Tribaskoro by Radhar Tribaskoro
September 14, 2025
in Crime, Feature
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Radhar Tribaskoro

Saya ingin memberikan standing applause atas reshuffle kabinet yang dilakukan Presiden Prabowo beberapa hari lalu. Sebuah langkah yang menandai bahwa ia tidak buta dan tidak tuli terhadap gelombang keresahan rakyat. Ia memilih bertindak: mengganti, merombak, dan—setidaknya untuk sementara—mencoba merebut kembali kepercayaan publik yang goyah. Belum sempurna, tentu. Tapi ada satu hal yang ditegaskan: ia ingin kabinet berintegritas, dan ia ingin pemberantasan korupsi tanpa kompromi. Meski begitu, sebelum kita percaya pada janji dan tekad itu, ada baiknya kita bertanya lagi: apa sebenarnya yang kita maksud dengan “korupsi”? Dan mengapa ia begitu abadi, seakan menolak mati?

Korupsi, kata orang, adalah musuh bangsa. Tapi ia selalu hadir seperti saudara tua yang tak bisa kita usir. Ia bukan lagi sekadar maling yang menyusup di malam hari, melainkan tuan rumah yang duduk di ruang tamu, disuguhi teh manis, diajak bicara, dan akhirnya diterima. Sejak republik ini lahir, ia telah menempel pada kulit sejarahnya.

Pada tahun 1950-an, ketika republik masih muda, devisa dikeruk melalui permainan impor beras dan tekstil. Sebagian elite politik ikut bermain, sebagian birokrat tersenyum di balik meja. Presiden Soekarno sendiri mengakui: korupsi sudah merasuk. Ia mendirikan sebuah badan pemberantasan, tapi tubuh institusi itu lemah. Ia tak mampu menegakkan tulang punggung.

Dua dasawarsa kemudian, di bawah bendera Orde Baru, korupsi menemukan rumahnya yang nyaman. Pertamina, di bawah Ibnu Sutowo, menggelembungkan utang hingga 10 miliar dolar—angka yang menakjubkan di tahun 1970-an. Soeharto menguasai negara dengan patronase: kekuasaan dibagi seperti kue pesta. Siapa yang loyal, diberi bagian. Maka korupsi bukanlah penyimpangan, tapi instrumen. Ia menjadi darah dalam peredaran politik.

Reformasi 1998 membawa harapan. Orang percaya bahwa demokrasi akan melahirkan kebersihan. Komisi Pemberantasan Korupsi dibentuk, pengadilan tipikor berdiri, ratifikasi konvensi internasional diteken. Nama-nama besar dijebloskan ke penjara: menteri, gubernur, ketua DPR. Tapi harapan itu segera berubah jadi ironi. Korupsi tidak berhenti, ia hanya bertransformasi. Dari pusat, ia merembes ke daerah. Dari satu geng elite, ia bercabang ke ratusan dinasti lokal.

Apa yang sesungguhnya terjadi?

Barangkali jawabnya ada dalam sebuah konsep yang dingin, akademis, tapi tak kalah tajam: habitus. Pierre Bourdieu, sosiolog Prancis itu, menyebut habitus sebagai sejarah yang telah berubah menjadi alamiah, disposisi yang merasuk ke tubuh sosial dan membuat manusia bertindak tanpa sadar. Habitus bukan sekadar kebiasaan, ia adalah cara pandang, cara merasa, cara bereaksi—yang diwariskan, diulang, dan akhirnya terasa “normal”.

Dalam politik Indonesia, habitus itu bernama korupsi.

Sejak awal, pejabat negeri ini belajar bahwa kekuasaan bukanlah pelayanan, melainkan akses ke sumber daya. Bahwa jabatan bukan amanah, melainkan hak istimewa untuk membagi rente. Bahwa setoran, uang pelicin, dan loyalitas politik adalah mekanisme bertahan hidup. Korupsi menjadi bagian dari logika kekuasaan—terlarang di teks hukum, tapi wajar dalam praktik sehari-hari.

Michael Johnston, seorang ilmuwan politik Amerika, menulis tentang empat sindrom korupsi. Pertama, influence market, yang lazim di negara maju: pengaruh politik dijual ke korporasi. Kedua, elite cartel: elite berbagi rente dalam kesepakatan diam-diam. Ketiga, oligarchs and clans: patron lokal membangun dinasti. Keempat, official moguls: pejabat berkuasa mutlak memperkaya diri.

Indonesia, sialnya, mengidap semuanya.

Di Jakarta, sindrom elite cartel menampilkan wajahnya: partai-partai bersekongkol dalam koalisi besar, berbagi kursi dan proyek. Di daerah, oligarchs and clans tumbuh subur: anak, menantu, ipar, semua bergantian menjadi bupati. Sementara di puncak kekuasaan, tak jarang muncul official moguls: pejabat tinggi yang menentukan kontrak infrastruktur dengan pena yang bisa menggerakkan triliunan rupiah.

Korupsi, dengan begitu, tak lagi berdiri sebagai kasus per kasus. Ia menjelma jadi ekosistem, atau seperti yang kerap dikatakan, kanker. Perbedaannya jelas: sebuah kasus bisa diselesaikan dengan operasi. Kanker, sebaliknya, menyebar ke seluruh tubuh, merusak jaringan, dan membuat tubuh itu hidup dalam sakit yang permanen.

Di titik ini, kita perlu jujur: korupsi di Indonesia bukanlah anomali. Ia adalah normalitas yang dibentuk oleh habitus.

Bourdieu mengingatkan: habitus terbentuk dari sejarah panjang, dari struktur yang memaksa. Orde Lama menanamkan logika bahwa perusahaan negara adalah sumber patronase. Orde Baru menyempurnakannya dengan patronase terpusat. Reformasi melanjutkannya dengan patronase terdesentralisasi. Dari struktur itulah lahir pejabat yang permisif, oportunis, kompromistis. Mereka mungkin mengutuk korupsi di depan mimbar, tapi membisiki bawahannya untuk menyiapkan dana taktis.

Habitus itu direproduksi setiap kali pejabat naik jabatan dengan membeli tiket politik. Ia direproduksi setiap kali kontraktor menyiapkan amplop untuk memenangkan tender. Ia direproduksi setiap kali masyarakat menganggap “uang rokok” sebagai hal biasa. Inilah mengapa pemberantasan korupsi sering gagal: yang dilawan bukan hanya orang, melainkan struktur sosial yang telah menjadikan korupsi sebagai kebiasaan “alami”.

Tapi apakah kita harus menyerah?

Tidak. Justru di sinilah perlunya keberanian untuk mengubah habitus. Dan itu hanya mungkin bila struktur yang membentuknya diguncang.

Pertama, politik. Biaya politik mahal adalah akar patronase. Selama partai dibiayai oleh sponsor gelap, pejabat akan terus merasa berhak mengambil “balik modal”. Maka pembiayaan partai harus diatur ulang, dengan subsidi negara yang transparan.

Kedua, birokrasi dan BUMN. Jabatan harus diberikan berdasarkan merit, bukan patron. Bila direksi BUMN terus diperlakukan sebagai hadiah politik, habitus pejabat akan tetap oportunis. Kita perlu sistem seleksi yang diawasi publik, terbuka, dan berbasis kinerja.

Ketiga, transparansi. Korupsi hidup dalam gelap. Maka anggaran, kontrak, dan laporan harus dibuka. Teknologi digital memungkinkan itu: e-procurement, blockchain, audit publik. Tanpa keterbukaan, habitus lama akan tetap berkuasa.

Keempat, hukum. Hukuman harus konsisten, tanpa pandang bulu. Kita memerlukan shock therapy. Penjara tidak cukup; aset harus disita. Korupsi harus dipukul di jantungnya: insentif ekonomi.

Kelima, budaya publik. Masyarakat pun harus ikut. Selama rakyat masih berkata “biar sedikit asal kebagian”, selama jual-beli suara dianggap lumrah, habitus korupsi akan terus dipelihara. Pendidikan politik harus menanamkan etika pelayanan, bukan sekadar aturan.

Rasanya memang terlalu berat. Seperti ingin mengangkat gunung. Tapi sejarah mengajarkan bahwa habitus bisa berubah bila ada rupture dalam struktur. Tiongkok berhasil menanam habitus baru melalui kaderisasi partai dan disiplin kolektif. Botswana dan Rwanda mengubah arah dengan penegakan hukum yang keras dan kepemimpinan yang berani. Indonesia pun pernah mencicipi itu: ketika KPK berdiri dengan taring tajam di awal 2000-an, ada rasa takut di kalangan pejabat. Sayang, gigi itu kemudian dipatahkan.

Hari ini, kita kembali pada pilihan lama: menyerah pada habitus korupsi, atau berani mengguncang strukturnya.

Korupsi di Indonesia bukanlah cerita tentang beberapa tikus yang mencuri di lumbung padi. Ia adalah cerita tentang lumbung yang sejak awal dibangun tanpa dinding kokoh, sehingga semua orang merasa wajar untuk mengambil segenggam. Dari pejabat tinggi sampai rakyat kecil, semua pernah merasakan dan membenarkannya.

Tetapi sebuah bangsa tidak bisa dibangun di atas normalitas korupsi. Ia akan terus pincang, tersandera, tak beranjak.

Maka, barangkali inilah saatnya kita berkata: cukup sudah. Saatnya membangun struktur yang memaksa lahirnya habitus baru—habitus pelayanan, bukan rente; habitus keterbukaan, bukan kompromi; habitus keberanian, bukan asal aman.

Tanpa itu, republik ini akan terus hidup dengan kanker yang pelan-pelan melumpuhkan. Dan sejarah hanya akan menulis kita sebagai bangsa yang tak pernah berani melawan dirinya sendiri.===

Cimahi, 13 September 2025

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Beras Bulog: Antara Harapan dan Keraguan

Next Post

Korupsi sebagai Habitus: Pelajaran dari Georgia, Estonia, dan Singapura untuk Indonesia

Radhar Tribaskoro

Radhar Tribaskoro

Related Posts

Ketika Nalar Menjadi Dasar Beragama
Feature

Ketika Nalar Menjadi Dasar Beragama

December 9, 2025
Mengenal dan Memahami Ahlussunnah wal Jamaah
Feature

Mengenal dan Memahami Ahlussunnah wal Jamaah

December 9, 2025
Pidato Prabowo yang Membuat Perut Kembung
Feature

Prabowo Mulai Kehilangan Nalar Sehatnya

December 9, 2025
Next Post
Mempertanyakan Pembebasan Bersyarat Koruptor

Korupsi sebagai Habitus: Pelajaran dari Georgia, Estonia, dan Singapura untuk Indonesia

Jejak Gelap Kuota Haji: KPK Bongkar Dugaan Penghilangan Barang Bukti di Kantor Maktour Travel

NU Tak Bisa Disandera Keluarga: Tuntutan Mundur Ketua PBNU

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Hilangnya Asketisme Elite NU
Feature

Hilangnya Asketisme Elite NU

by fusilat
December 9, 2025
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024 Jakarta - Asketisme, gaya hidup yang pantang terhadap kenikmatan duniawi demi mencapai...

Read more
Antara Retorika dan Realita: Bisakah Prabowo Tumbangkan Outsourcing?

Prabowo Hapus Utang KUR Petani Korban Banjir Sumatera, Ini Kata LBH Keadilan

December 8, 2025
KIP “Lapor” Kapolri Soal Putusan Sengketa Ijazah Jokowi: Lukai Rasa Keadilan Publik

KIP “Lapor” Kapolri Soal Putusan Sengketa Ijazah Jokowi: Lukai Rasa Keadilan Publik

December 8, 2025
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

18
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Ketika Nalar Menjadi Dasar Beragama

Ketika Nalar Menjadi Dasar Beragama

December 9, 2025
Kalimantan: The Lost World

Wo, Hutan Bukan Kebun Kayu

December 9, 2025
Mengenal dan Memahami Ahlussunnah wal Jamaah

Mengenal dan Memahami Ahlussunnah wal Jamaah

December 9, 2025
Pidato Prabowo yang Membuat Perut Kembung

Prabowo Mulai Kehilangan Nalar Sehatnya

December 9, 2025
Diledek PDIP,  PSI Partai Lebih Banyak Baliho Daripada Pengurusnya,  PSI Mencak-mencak Tak Terima

“Budaya Mundur yang Mati: Ketika Jabatan Lebih Berharga dari Kehormatan”

December 9, 2025
LEGALISASI KEJAHATAN PERUSAKAN HUTAN DENGAN PEMUTIHAN: SEBUAH IRONI

LEGALISASI KEJAHATAN PERUSAKAN HUTAN DENGAN PEMUTIHAN: SEBUAH IRONI

December 9, 2025

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Ketika Nalar Menjadi Dasar Beragama

Ketika Nalar Menjadi Dasar Beragama

December 9, 2025
Kalimantan: The Lost World

Wo, Hutan Bukan Kebun Kayu

December 9, 2025

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...