• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Crime

KORUPSI SISTEMIK, KORUPSI YANG TAK PERNAH USAI

Radhar Tribaskoro by Radhar Tribaskoro
August 25, 2025
in Crime, Feature
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Radhar Tribaskoro

Setiap rezim selalu datang dengan janji yang sama: memberantas korupsi. Tetapi kenyataan yang berulang membuktikan, sistemlah yang selalu menang. Baru-baru ini, publik kembali dikejutkan oleh dua peristiwa: OTT terhadap Imanuel Ebenezer, Wakil Menteri Tenaga Kerja yang dulu dikenal sebagai aktivis keras, dan vonis 18 bulan penjara untuk Tom Lembong, teknokrat reformis yang selama ini punya citra bersih.

Kasus Noel memperlihatkan betapa cepat seorang pejabat bisa terseret dalam praktik rente begitu ia masuk ke lingkaran kekuasaan. Sistem politik yang menuntut biaya mahal seolah memaksa setiap aktor mencari jalan pintas. Idealismenya sebagai aktivis runtuh, berganti dengan logika transaksional: untuk bertahan, ia harus ikut bermain.

Kasus Tom Lembong bahkan lebih telanjang. Publik luas melihatnya bukan sekadar pejabat yang tergelincir, melainkan korban dari sistem peradilan yang korup—dari polisi, jaksa, hingga hakim—yang menjadikan hukum sebagai komoditas. Vonis 18 bulan itu justru memicu gelombang dukungan, petisi, dan protes di berbagai ruang publik. Akhirnya Presiden Prabowo turun tangan dengan memberikan abolisi, sebuah langkah politik yang mengindikasikan bahwa lembaga hukum tidak lagi dipercaya untuk menegakkan keadilan secara independen.

Dua peristiwa ini menunjukkan wajah asli persoalan di Indonesia: korupsi bukan lagi soal individu yang serakah, melainkan soal sistem yang cacat. Aktivis bisa jatuh, teknokrat bisa dihukum, bahkan rakyat pun bisa menjadi korban, karena seluruh mekanisme politik, birokrasi, dan hukum sudah tertanam dalam logika rente. Inilah bukti paling mutakhir bahwa korupsi kita telah bersifat sistemik.

Di negeri ini, korupsi tidak lagi sekadar perilaku menyimpang. Ia sudah menjadi sistem. Bukan hanya segelintir orang serakah yang menjarah, melainkan seluruh mekanisme kekuasaan yang dirancang agar rente terus mengalir. Korupsi adalah “metabolisme” politik kita: ia mengatur alokasi sumber daya, menentukan siapa yang naik dan siapa yang jatuh, bahkan menjaga stabilitas rezim.

Korupsi Sistemik: Teori dan Fakta

Apa yang kita saksikan melalui kasus Noel dan Tom bukanlah sekadar kebetulan. Ilmuwan politik Susan Rose-Ackerman (1999) sudah lama mengingatkan tentang fenomena korupsi sistemik, yaitu situasi ketika korupsi bukan lagi perilaku menyimpang segelintir orang, melainkan mekanisme alokasi sumber daya dalam birokrasi dan politik. Dalam kondisi ini, sistem itu sendiri memberi insentif agar aktor-aktornya melakukan korupsi, karena tanpa itu mereka justru tidak bisa bertahan.

Michael Johnston (2005) menjelaskan fenomena ini sebagai “syndrome of oligarchs and clans”, sebuah jaringan patronase antara elite politik dan bisnis yang menopang diri melalui rente. Korupsi menjadi equilibrium—keseimbangan yang dihasilkan oleh sistem, bukan kecelakaan. Dengan kata lain, korupsi adalah produk dari proses jual-beli kekuasaan yang berlangsung terus-menerus antara oligarki dan penguasa.

World Bank (1997) menambahkan bahwa korupsi sistemik bersifat “pervasive, embedded in rules, and affecting most transactions”. Ia meluas dan merata karena sudah ditanamkan dalam aturan formal maupun informal. Bahkan, Samuel Huntington (1968) melihat korupsi dalam situasi seperti ini sebagai “pelumas” sistem politik, sesuatu yang justru membantu elite mempertahankan stabilitas di tengah lemahnya institusi.

Maka, dari sisi teori maupun fakta, kita sampai pada kesimpulan pahit: korupsi di Indonesia telah melembaga. Ia bukan lagi “penyakit” yang bisa diobati dengan sekadar menyingkirkan individu-individu serakah, melainkan bagian dari metabolisme politik kita sendiri. Tetapi dari mana korupsi sistemik ini bermula?

Biaya Politik yang Melahirkan Rente

Sejak pemilu langsung digelar pasca-Reformasi, biaya politik di Indonesia melonjak gila-gilaan. Riset KPK menyebutkan bahwa biaya untuk mencalonkan diri sebagai bupati atau walikota berkisar antara Rp 30–50 miliar, sementara calon gubernur bisa mencapai Rp 100–200 miliar. Untuk pilpres, nilainya sudah pasti triliunan rupiah. Dari mana uang sebesar itu datang? Partai dilarang punya usaha, bantuan negara minim. Akhirnya, para calon menggandeng sponsor bisnis. Sponsor itu tidak gratis. Sebagai imbalan, mereka menuntut akses proyek, konsesi tambang, atau izin usaha. Inilah mengapa kepala daerah silih berganti dijerat KPK. Lebih dari 300 kepala daerah terseret kasus korupsi dalam dua dekade terakhir. Ini bukan kebetulan, melainkan sebuah pola: biaya politik mahal → butuh sponsor → rente jadi jalan keluar.

Bagaimana menjelaskan siklus itu? Pertama, kita melihat Birokrasi sebagai Mesin Uang. Korupsi tidak terjadi di panggung politik saja. Birokrasi kita telah dirancang menjadi mesin rente. Perizinan berbelit, layanan publik lambat, dan proyek negara menjadi ladang pungli. Kasus e-KTP hanyalah puncak gunung es: proyek Rp 5,9 triliun dijarah berjemaah oleh anggota DPR, pejabat, dan pengusaha. Itu bukan kasus satu-dua orang. Itu bukti bahwa birokrasi sudah dijadikan mesin penghisap.

Kedua, hukum bisa dinegosiasikan. Jika hukum berfungsi, korupsi akan runtuh. Tetapi hukum di Indonesia sering berubah menjadi komoditas. Kasus bisa diatur, vonis bisa ditawar. Bahkan, mantan napi korupsi bisa kembali duduk di kursi DPR atau maju pilkada. Artinya, korupsi tidak mengakhiri karier politik, malah justru bagian dari karier itu sendiri. Ketiga, rakyat pun terjebak. Masyarakat juga, mau tak mau, ikut menjadi bagian dari sistem. Politik uang dianggap normal: “kalau tidak menerima sekarang, nanti juga tidak akan dapat apa-apa setelah ia terpilih.” Pungli dianggap wajar: “bayar sedikit biar cepat.” Inilah normalisasi sosial yang membuat korupsi bertahan. Dan terakhir. nepotisme menguatkan rantai. Anak, menantu, kerabat—semua ikut berebut kursi kekuasaan. Meritokrasi dipinggirkan, patronase dijadikan norma. Nepotisme memperkuat loyalitas, dan loyalitas memperkuat rente. Siklus ini berjalan tanpa henti.

Jadi, korupsi di Indonesia bukanlah “penyakit” yang bisa dioperasi lalu sembuh. Ia adalah equilibrium—keseimbangan yang dipelihara oleh politik, birokrasi, hukum, dan masyarakat itu sendiri. Biaya politik mahal, birokrasi rente, hukum selektif, rakyat permisif, dan nepotisme: semua saling menopang.

Itulah mengapa setiap upaya pemberantasan korupsi terasa seperti menimba air dengan ember bocor. KPK bisa menangkap satu, sepuluh, seratus pejabat, tapi sistem akan melahirkan seribu lainnya.

Hukuman Mati Atau Reformasi

Hukuman mati bagi koruptor? Itu solusi jangka pendek, memberi efek takut sesaat, tapi tidak menyentuh akar masalah. Duterte, mantan Presiden Duterte, pernah memberi kuasa tembak ditempat untuk bandar narkoba. Ratusan telah tertembak. Tetapi peredaran narkoba di Pilipina hanya mereda sejenak, sekarang perdagangan barang haram marak kembali. Demikian juga aturan hukuman mati dalam UU No.35/2009 tidak banyak berpengaruh dalam peredaran narkoba di Indonesi. Hukuman mati dalam kasus korupsi, sebagaimana dicontohkan oleh Cina, Vietnam, atau Arab Saudi menunjukkan bahwa eksekusi hanya jadi “alat politik”, bukan obat struktural.

Bandingkan dengan Singapura, yang tanpa hukuman mati berhasil menekan korupsi hingga level terendah di Asia. Rahasianya sederhana: gaji tinggi untuk pejabat, hukum independen, birokrasi transparan, dan meritokrasi.

Jika Indonesia ingin keluar dari lingkaran setan ini, jalannya bukan sekadar “shock therapy”, melainkan reformasi menyeluruh: pembiayaan politik yang bersih, birokrasi digital tanpa rente, penegakan hukum yang tak bisa dinegosiasikan, meritokrasi ASN, dan pendidikan publik untuk melawan normalisasi politik uang.

Penutup

Presiden Prabowo pernah berkata lantang: “Kita akan mengejar koruptor sampai ke Antartika.” Sebuah janji yang menggema, penuh simbol keberanian. Tetapi pertanyaan penting tetap harus diajukan: apa sebenarnya maksud dari pernyataan itu? Apakah yang dimaksud hanyalah memburu individu-individu korup, menangkapi mereka satu per satu untuk memberi efek jera? Ataukah yang dimaksud adalah tekad untuk membasmi korupsi sampai ke akar sistemnya?

Pengalaman dua dekade terakhir mengajarkan kita: menangkap koruptor penting, tetapi tidak pernah cukup. KPK telah menahan ratusan pejabat, kepala daerah, menteri, dan anggota DPR. Namun korupsi tetap hidup, bahkan berkembang dengan wajah baru. Ini karena akar masalahnya ada pada korupsi sistemik: biaya politik yang mahal, birokrasi yang rente, hukum yang bisa dinegosiasikan, budaya politik uang yang dinormalisasi, dan nepotisme yang merajalela.

Jika Presiden Prabowo sungguh ingin menepati janjinya, maka yang harus ia kejar bukan hanya individu, melainkan struktur. Ia harus berani membenahi pembiayaan partai politik agar tidak lagi bergantung pada oligarki. Ia harus mendigitalisasi birokrasi untuk menutup celah rente. Dan yang paling penting—ia harus menjaga independensi birokrasi serta aparat hukum. Tanpa birokrasi profesional dan aparat hukum yang tidak bisa diintervensi, semua slogan antikorupsi akan runtuh.

Di sinilah pelajaran dari Singapura menjadi relevan. Negara kota itu tidak menggunakan hukuman mati untuk memberantas korupsi, melainkan memastikan birokrasi dibayar layak, berjalan transparan, dan bebas dari tekanan politik. Aparat hukumnya berdiri independen, sehingga siapapun yang bersalah dapat ditindak tanpa pandang bulu. Itulah yang membuat Singapura berhasil menekan korupsi ke level terendah di Asia, tanpa harus melakukan kampanye seremonial.

Dengan demikian, janji “mengejar koruptor sampai ke Antartika” hanya akan bermakna bila diartikan sebagai tekad untuk menghancurkan fondasi korupsi sistemik. Jika tidak, ia akan berakhir sebagai slogan heroik tanpa isi. Maka, pertanyaan terakhir yang perlu kita ajukan kepada Presiden Prabowo adalah ini: Apakah Anda akan menjadi pemburu koruptor, atau pembasmi sistem korupsi dengan menjaga independensi birokrasi dan hukum?===

Bekasi, 25 Agustus 2025

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Senayan Terbakar: Rakyat Melawan, Parlemen Membisu

Next Post

Siapa Miskin: Rakyat atau Wakil Rakyat?

Radhar Tribaskoro

Radhar Tribaskoro

Related Posts

Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?
Feature

Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

April 22, 2026
Feature

Pemikiran Hibrid RA Kartini: Lokal dalam Pengalaman, Universal dalam Gagasan

April 22, 2026
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda
Feature

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

April 22, 2026
Next Post
Rakyat Jelata: Suara yang Terlupakan di Tanah Merdeka

Siapa Miskin: Rakyat atau Wakil Rakyat?

Konflik Arya Penangsang dan Joko Tingkir: Pergeseran Wajah Islam Pesisir ke Islam Pedalaman

Konflik Arya Penangsang dan Joko Tingkir: Pergeseran Wajah Islam Pesisir ke Islam Pedalaman

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda
Feature

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

by Karyudi Sutajah Putra
April 22, 2026
0

Jakarta - Jika sebelumnya ada Fadli Zon dan Fahri Hamzah, atau duo F, kini ada Ade Armando dan Abu Janda,...

Read more
JK & Seekor Gajah

JK & Seekor Gajah

April 21, 2026
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

April 19, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

April 22, 2026
Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

April 22, 2026
Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

April 22, 2026

Pemikiran Hibrid RA Kartini: Lokal dalam Pengalaman, Universal dalam Gagasan

April 22, 2026
Pusdis Unhas Gelar Sosialisasi UTBK Inklusif, Siapkan Layanan Ramah Peserta Disabilitas

Pusdis Unhas Gelar Sosialisasi UTBK Inklusif, Siapkan Layanan Ramah Peserta Disabilitas

April 22, 2026
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

April 22, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

April 22, 2026
Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

April 22, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...