Fusilatnews – Di tengah derasnya arus informasi dan banjir bacaan di era digital, kita seperti berada di sebuah zaman yang gemar membaca namun enggan memahami. Gawai pintar, koneksi internet, dan media sosial telah menjadikan setiap orang memiliki akses membaca yang tak terbatas. Tapi ironisnya, semakin banyak yang bisa membaca, justru semakin sedikit yang benar-benar memahami. Bukan soal buta huruf, tapi buta makna.
“Memang benar – banyak yang bisa membaca – tetapi tidak faham maksudnya, esensinya, substansinya; akhirnya memaki-maki,” ujar seorang intelektual yang lelah dengan debat kusir di kolom komentar media sosial. Kutipan ini, walau terdengar sederhana, adalah potret nyata dari rendahnya tingkat literasi kritis bangsa ini.
UNESCO mencatat, minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen—artinya, dari 1.000 orang, hanya satu yang benar-benar gemar membaca. Namun yang lebih memprihatinkan, survei Program for International Student Assessment (PISA) tahun 2018 menunjukkan bahwa kemampuan memahami bacaan siswa Indonesia berada di peringkat 72 dari 77 negara. Data ini bukan sekadar angka, tetapi alarm bahwa kita hidup di tengah masyarakat yang lebih senang menyerap informasi secara mentah ketimbang mengunyah makna di baliknya.
Maka jangan heran jika opini yang bernas sering kali dibalas dengan caci maki. Argumen dijawab dengan fitnah. Esai dianggap agitasi, kritik dinilai sebagai kebencian. Bukan karena tulisannya buruk, tapi karena pembacanya gagal menangkap gagasan. Dalam suasana seperti ini, akal sehat tak lagi dianggap penting—yang utama adalah keberpihakan. Benar dan salah ditentukan oleh siapa yang bicara, bukan oleh isi yang dibicarakan.
“Kelompok seperti itu, tidak perlu dilawan. Jauhi saja,” lanjut si narasumber yang memilih hening daripada berdebat dengan kebisingan. Dalam dunia yang makin riuh oleh emosi dan disinformasi, keheningan bukan tanda kekalahan, tapi bentuk tertinggi dari perlawanan intelektual.
Tentu bukan berarti kita harus menyerah pada keadaan. Namun ada saatnya energi kita lebih berguna untuk membangun ruang-ruang dialog yang sehat, ketimbang sibuk membalas umpatan dari mereka yang bahkan tidak membaca dengan utuh, apalagi dengan akal. Karena sesungguhnya, musuh utama demokrasi bukan kebodohan, melainkan mereka yang merasa pintar karena bisa membaca, tapi menolak berpikir.
Di negeri yang warganya lebih sering tersinggung daripada memahami, kita dituntut untuk tidak hanya pintar bicara, tapi juga sabar mendengarkan. Karena membaca tanpa memahami, pada akhirnya hanya akan melahirkan generasi yang gaduh dan penuh prasangka.


























