Sebelumnya
Oleh : Pipiet Senja
Selama dua minggu dirawat di RS Polri, Pipiet Senja berusaha menulis dan terus menulis untuk menyelesaikan dua novel anak-anak. Meskipun harus menahan rasa sakit pada urat nadinya yang ditempeli jarum abocat dikarenakan kerasnya memencet keyboard.
Tanpa sadar, tahu-tahu darah sudah merembes dari jarum yang tergeser-geser, hingga membasahi seprei. Omelan Butet dan para perawat tidak digubrisnya demi mengejar tekadnya. Esoknya, ia dikonsulkan ke poliklinik bedah sambil membawa USG perut yang terbaru. Ternyata poli bedah sudah banyak pasiennya dengan segala keluh kesahnya. Ada yang tidak berdaya menanggung biaya, penyakit bawaan yang tak kunjung sembuh, dan sebagainya. Dari sanalah ia mendapat inspirasi dan semangat hidup.
Spesialis Urologi dan Bedah rumah sakit itu seorang perwira menengah polisi. Melihat catatan status penyakitnya, dokter itu menyarankan agar dilakukan bedah umum laparatomi di RSCM yang alatnya sudah canggih.
Sejak itu di penghujung bulan Juli 2009, ia berobat ke RSCM Jakarta Pusat, ditemani putrinya. Kembali mereka mendapat perlakuan yang kurang mengenakkan. Sampai Butet menangis di depan petugas loket, sedangkan ia tergeletak di bangku ruang tunggu poliklinik Jantung selama satu jam sambil menahan rasa sakit yang tiada berujung. Tak ubahnya seorang gelandangan, pikirnya.
Sampai pukul empat sore, Butet muncul dengan seorang petugas yang membawa kursi roda. Seketika ia berucap, “Sueeeer Mom! Beneran, gak enak banget jadi orang miskin! Banyak dihina, dilecehkan, dan…ya Allahu Rabb!”.
Operasi di Bulan Ramadhan
Setelah dua hari dirawat, rumah sakit baru memberi transfusi, sebuah tindakan yang sangat telat. Tidak cuma itu, ia divonis harus angkat limpa, karena sudah membesar. Dokter memutuskan untuk melakukan dua tindakan sekaligus, operasi pengangkatan limpa dan kandung empedu. Kabar itu tentu sangat mengejutkan mereka.
Selama menunggu masa operasi tersebut, mereka pulang ke rumah. Ia banyak melakukan salat istikharah, mempergiat ibadah malam, dan menjalin silaturahim. Tak lupa ia juga memperbanyak sedekah. Selain memenuhi biaya sehari-hari dan biaya pengobatan, ia juga harus memenuhi kebutuhan emaknya di Cimahi, ketiga anak asuhnya, dan adik-adik yang sering minta bantuannya.
Jika memakai hitung-hitungan matematis, mustahil ia sanggup memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu hanya dengan mengandalkan uang bulanan dari kantor, royalti dan honorarium sebagai pembicara. Namun ia senantiasa berpegang teguh pada prinsip, setiap sen yang ia keluarkan untuk sedekah tidaklah menjadi sia-sia, sebaliknya akan berlipat ganda balasan dan pahalanya.
Selain itu, Pipiet Senja telah membuktikan keajaiban-keajaiban yang diberikan Allah sepanjang hidupnya. Beberapa kali masuk ICCU, ruang isolasi, dinyatakan coma, sebanyak itu pula Allah meloloskan dirinya dari lubang maut, dan terus berkarya memberi manfaat pada orang lain.
Akhirnya jadwal operasi diperoleh dari dokter bedah Memet dari poli Bedah, yakni 10 September 2009. Tanggal itu bertepatan dengan bulan Ramadhan 1430 Hijriyah, tepatnya sepuluh hari sebelum hari raya Idul Fitri.
Saat itu pula ujian datang dari siapa lagi kalau bukan pelayanan rumah sakit. “Ini benar-benar ujian puasa buat Butet, Ma. Haus, lapar, dibentak-bentak suster pula. Pokonya terhina banget!”.
Ujar putrinya itu. Lalu, sekitar jam sembilan malam, Butet duduk di lantai kamar, pelan-pelan membuka makanan yang dibelinya dan belum sempat disantap. Meleleh sudah hati ibunya melihat keletihannya. Sepanjang hari itu ia harus ujian, mengerjakan tugas kuliahnya pun di jalanan, dan bolak-balik menanyakan kamar rumah sakit, apakah ada yang masih kosong.
“Maafkan Mama ya Nak, maafkan Mama,” suara parau Pipiet Senja tercekat di tenggorokan.
“Mama, jangan pernah minta maaf lagi sama Butet, ya, pliiiis, pliiiiis….” sambil memeluk ibunya erat-erat, kemudian mencium pipi-pipinya dengan penuh sayang.
“Aku ingin menangis sesenggukan. Bukan tangis duka lara melainkan tangis terharu, tangis bahagia. Betapa ingin kuserukan namanya, agar semua orang, seluruh penghuni ruangan yang bagaikan neraka dunia ini mengetahui bahwa aku memiliki seorang anak perempuan!”

























