• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Economy

Legacy Faisal Basri: Rakyat Indonesia Hidup Lebih Menderita Dibanding Masa Penjajahan Dahulu

Ali Syarief by Ali Syarief
September 10, 2024
in Economy, Feature
0
Ahli : Berkat Dukungan Jokowi dan Bansos, Suara Prabowo-Gibran Naik 26 Juta
Share on FacebookShare on Twitter

Pernyataan Faisal Basri tentang kondisi kehidupan masyarakat Indonesia yang “lebih parah dan menderita dibandingkan masa penjajahan dahulu” mengejutkan banyak pihak. Kritik tajam ini disampaikan dalam diskusi film Bloody Nickel di Taman Ismail Marzuki pada 4 Mei 2024. Sebagai ekonom senior dan peneliti di Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Faisal Basri telah lama dikenal sebagai suara kritis terhadap kebijakan pemerintah, terutama terkait dengan sektor ekonomi dan industri. Pernyataan kontroversial tersebut bukan sekadar retorika; ia didasari oleh analisis mendalam atas berbagai kebijakan ekonomi yang dianggap merugikan rakyat Indonesia.

Salah satu fokus kritik Faisal adalah kebijakan industrialisasi nikel yang digencarkan oleh pemerintah. Ia menegaskan bahwa kebijakan ini lebih banyak menguntungkan investor asing, khususnya dari Cina, daripada rakyat Indonesia. “Rakyat Indonesia merasakan hidup yang lebih parah dan menderita dibandingkan masa penjajahan dahulu,” ungkapnya. Menurut Faisal, keuntungan dari hilirisasi nikel lebih banyak dirasakan oleh investor Cina. Industri ini, alih-alih memberikan dampak positif bagi perekonomian dalam negeri, justru menimbulkan kerugian ekologis dan sosial yang besar. “Kalau dihitung-hitung untung ruginya, bahkan lebih banyak minusnya,” kata Faisal dengan tegas.

Pernyataan tersebut mencerminkan kekecewaan terhadap arah kebijakan ekonomi Indonesia yang dianggap tidak berpihak pada rakyat. Faisal menilai pemerintah gagal dalam menghitung dampak lingkungan dari ekspansi industri nikel. Ia memperkirakan bahwa hampir 90 persen keuntungan dari industri ini jatuh ke tangan perusahaan-perusahaan Cina. “Hampir semua perusahaan dari Cina, keuntungan juga nanti untuk Cina,” tegasnya. Ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak cukup memperhatikan dampak jangka panjang terhadap masyarakat dan lingkungan dalam setiap kebijakan ekonomi yang diambil.

Kritik Faisal bukanlah hal baru. Sebelumnya, pernyataannya mengenai kebijakan ekspor nikel yang dilakukan oleh pemerintah telah menjadi sorotan publik. Dalam video yang viral di media sosial, ia mengkritik keras langkah pemerintah dalam mengelola sumber daya alam Indonesia. Faisal juga menyampaikan kekhawatirannya mengenai transisi energi melalui kendaraan listrik (electric vehicle/EV) yang digalakkan pemerintah. Menurutnya, bahan bakar listrik yang digunakan untuk kendaraan listrik tetap berasal dari batu bara, yang masih merupakan sumber energi paling kotor. “Kendaraan listrik itu masih tetap butuh dicolok ke listriknya PLN. Jadi, tetap saja butuh batu bara. Ujungnya menguntungkan elit yang terlibat dalam industri motor listrik,” jelas Faisal.

Faisal Basri tampaknya berpendapat bahwa pemerintah lebih mementingkan pertumbuhan ekonomi jangka pendek tanpa memperhitungkan kerugian jangka panjang yang harus ditanggung oleh masyarakat. Kritiknya terhadap kebijakan hilirisasi nikel dan transisi energi berbasis kendaraan listrik menunjukkan bahwa pemerintah seolah terperangkap dalam paradoks pembangunan. Di satu sisi, pemerintah berupaya meningkatkan investasi dan pertumbuhan ekonomi dengan menarik investasi asing dan mengembangkan industri hilir. Di sisi lain, pemerintah gagal menciptakan kebijakan yang adil dan berkelanjutan, baik dari segi ekonomi maupun lingkungan.

Apa yang disampaikan Faisal juga menyentuh isu fundamental tentang keadilan ekonomi dan distribusi keuntungan. Ia menyoroti bagaimana kebijakan ekonomi yang diambil pemerintah cenderung menguntungkan segelintir elit, terutama yang memiliki kepentingan langsung dalam proyek-proyek besar seperti nikel dan kendaraan listrik. Hal ini, menurutnya, memperlihatkan bahwa pemerintah lebih memilih untuk mengamankan sumber pendapatan dari pajak dan investasi asing tanpa memperhatikan kesejahteraan rakyat secara keseluruhan.

Bagi Faisal Basri, solusi untuk masalah ini tidak sekadar menghentikan kebijakan yang merugikan, tetapi juga mencari cara untuk memaksimalkan manfaat bagi rakyat. Ia mengusulkan untuk meninjau ulang kebijakan pajak yang ada, terutama untuk kebutuhan dasar seperti pangan. “Pemerintah bisa sebenarnya dengan mengurangi pajak. Ada beberapa barang yang merupakan kebutuhan dasar itu semestinya pajaknya di-nol-kan, artinya jangan memberi pajak banyak,” ujar Faisal. Ia menilai bahwa kesejahteraan rakyat dapat diciptakan dengan cara yang lebih adil, tidak semata-mata bergantung pada pajak sebagai satu-satunya sumber pendapatan negara.

Pernyataan Faisal Basri yang mengaitkan penderitaan rakyat Indonesia dengan kebijakan ekonomi pemerintah yang dianggap kurang berpihak pada rakyat menyiratkan perlunya perubahan yang mendasar. Ia mengingatkan bahwa kesejahteraan sejati bukan hanya tentang pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tetapi juga tentang bagaimana pertumbuhan tersebut bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Dengan kata lain, kritikan Faisal adalah sebuah ajakan untuk kembali mempertimbangkan apakah arah kebijakan ekonomi saat ini sudah benar-benar menguntungkan rakyat banyak atau justru semakin memperlebar jurang ketidakadilan sosial.

Penutup

Legacy Faisal Basri sebagai seorang ekonom yang lantang mengkritik kebijakan pemerintah menunjukkan keberanian untuk berbicara kebenaran di tengah kebisingan politik dan ekonomi. Pandangannya yang tajam mengingatkan kita bahwa kesejahteraan dan keadilan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dalam pembangunan sebuah negara. Apa yang dibutuhkan Indonesia adalah kebijakan yang tidak hanya bertumpu pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga berfokus pada distribusi yang adil dan keberlanjutan jangka panjang.

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Kedua Tim Akan Hadapi Situasi Sulit Dalam laga Indonesia Lawan Australia Tapi Pertandingan bakal Menarik

Next Post

Investigasi Kasus Perundungan di FK Undip: Kemendikbudristek Siapkan Sanksi Tegas

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Feature

DEMOKRASI: SUDAH, TAPI BELUM

July 23, 2026
Ketut Sumedana, Kuda Troya Kejagung di BGN
Feature

Ketut Sumedana, Kuda Troya Kejagung di BGN

July 23, 2026
Jokowi – PSI Ingin Menjadi 3 Besar Pada Pemilu 2029
Feature

Jokowi – PSI Ingin Menjadi 3 Besar Pada Pemilu 2029

July 22, 2026
Next Post
Pengacara Keluarga ARL Minta Kemenkes Beri Beasiswa ke Peserta PPDS berani Laporkan Perundungan

Investigasi Kasus Perundungan di FK Undip: Kemendikbudristek Siapkan Sanksi Tegas

Kemenpan RB Akan Terbitkan Sistem Penggajian Baru ASN PNS dan PPPK.

ASN Harus Berdiri di Atas Aturan, Bukan Sekadar Perintah Atasan Politik

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?
Feature

Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

by Karyudi Sutajah Putra
July 11, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024 Jakarta - Akhirnya, Febrie Adriansyah berhasil diamputasi. Jaksa Agung Muda Bidang Tindak...

Read more
AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

July 10, 2026
Geng Trunojoyo Vs Geng Gedung Bundar, Siapa Menang?

Geng Trunojoyo Vs Geng Gedung Bundar, Siapa Menang?

July 9, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

DEMOKRASI: SUDAH, TAPI BELUM

July 23, 2026
Ketut Sumedana, Kuda Troya Kejagung di BGN

Ketut Sumedana, Kuda Troya Kejagung di BGN

July 23, 2026
SETARA Institute Desak Perlindungan Konstitusional bagi Jemaat Ahmadiyah

Militerisasi Pengawasan Pajak Dinilai Inkonstitusional, Setara Institute: Negara Tak Boleh Menakut-nakuti Wajib Pajak

July 22, 2026
Jokowi – PSI Ingin Menjadi 3 Besar Pada Pemilu 2029

Jokowi – PSI Ingin Menjadi 3 Besar Pada Pemilu 2029

July 22, 2026
Prabowo Resmi Lantik Sudaryono sebagai Kepala BGN, Siap Percepat Program Makan Bergizi Gratis

Prabowo Resmi Lantik Sudaryono sebagai Kepala BGN, Siap Percepat Program Makan Bergizi Gratis

July 22, 2026
Prabowo Copot Kepala BGN Dadan Hindayana, Naniek Deyang Penggantinya

Teka-teki Mundurnya Nanik S Deyang

July 22, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

DEMOKRASI: SUDAH, TAPI BELUM

July 23, 2026
Ketut Sumedana, Kuda Troya Kejagung di BGN

Ketut Sumedana, Kuda Troya Kejagung di BGN

July 23, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist