Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan dan Survei Indonesia (KSI) / Sarjana Pendidikan Bahasa Indonesia UNS
Jakarta – Tak ada yang lebih bebas selain menafsirkan makna puisi. Sebab puisi adalah karya fiksi. Rekaan. Fiktif. Meskipun ada juga puisi yang ditulis berdasarkan fakta.
Puisi bukan karya ilmiah yang perlu otoritas untuk menafsirkan atau memaknainya. Pun bukan ayat suci yang perlu otoritas sekelas majelis ulama untuk menafsirkannya.
Begitu pun ketika kita hendak menafsirkan sebuah puisi karya AM Hendropriyono yang melabeli dirinya sebagai Anggota Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI). Kita pun bebas menafsirkannya. Bebas memaknai apa saja.
Dengan puisi itu, mungkin Hendropriyono sedang menyentil dirinya sendiri. Mungkin juga menyentil Jokowi. Mungkin pula menyentil Try Sutrisno.
Dan puisi Hendropriyono yang sedang kita tafsirkan itu berjudul, “Estafet Kehidupan” yang dimuat detik.com, Senin, 28 Juli 2025.
Puisi itu sesungguhnya tayang prematur, karena bekas Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) itu menulis titi mangsa di bagian bawah puisi: Jakarta, 30 Juli 2025.
Sebab itu, puisi tersebut bisa dianggap tidak ada, karena saat tayang sesungguhnya puisi itu belum ditulis.
Tapi baiklah, namanya juga fiksi. Yang patut dipersalahkan adalah detik.com. Bagaimana bisa media itu menayangkan puisi dua hari sebelum karya sastra itu ditulis?
Sementara di bagian atas puisi, atau semacam pengantar, bekas Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan di era Presiden Soeharto yang berlanjut ke era Presiden Abdurrahman Wahid ini menulis, “Persembahanku untuk hari ulang tahun Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 2025.”
Puisi itu tak panjang, tapi juga tak pendek. Sedang-sedang saja. Ada 5 bait di sana. Begini selengkapnya:
ESTAFET KEHIDUPAN
Anak kita, bukan pelayan usia
mereka bukan bahu untuk memikul raga renta
mereka adalah benih masa depan
yang tumbuh bukan untuk kembali ke akar
melainkan menjulang ke cahaya zaman
Kita yang tua –
bukan raja yang menunggu disembah
melainkan penulis bab terakhir
yang harus rampung tanpa jeda
dengan tangan sendiri
dan jiwa yang rela
Biarlah mereka mengurus anak-anaknya
sebagaimana dulu kita mengurus mereka
tanpa menoleh pada orang tua kita
yang telah menyatu dengan sunyi
Sebab hukum alam tidak bisa ditawar:
yang muda lahir untuk hidup
yang tua hadir untuk pergi
dan semua yang datang pasti akan kembali
pada kesunyian abadi
Maka diamlah
dengan martabat
dengan bijak
Karena selesai dengan tenang
adalah tugas paling agung
dari jiwa yang matang
Jika dilihat dari cara Hendropriyono melabeli dirinya sebagai Anggota LVRI, dan juga makna dari bait terakhir atau pamungkas, tak berlebihan jika dikatakan puisi itu ditujukan salah satunya bagi Forum Purnawirawan Prajurit TNI yang beberapa waktu lalu mengirim surat kepada DPR dan MPR untuk meminta Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dimakzulkan.
Salah satu tokoh yang menonjol dalam forum itu adalah Try Sutrisno, mantan Wakil Presiden RI dan juga mantan Panglima ABRI, kini TNI.
Apakah puisi itu untuk menyentil Try Sutrisno dkk agar diam dengan bermartabat, dengan bijak, karena selesai dengan tenang adalah tugas paling agung dari jiwa yang matang?
Bisa jadi. Tapi bisa jadi pula untuk menyentil dirinya sendiri yang masih suka cawe-cawe terhadap urusan pemerintah usai pensiun. Baik pemerintahan Presiden ke-7 RI Joko Widodo maupun kini pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Tanpa cawe-cawe Hendropriyono, sepertinya akan terlalu sulit bagi anaknya, Diaz Hendropriyono untuk mendapatkan posisi di pemerintahan Jokowi, dan kini di pemerintahan Prabowo sebagai Wakil Menteri Lingkungan Hidup.
Pun untuk menyentil Jokowi yang setelah pensiun masih suka cawe-cawe pemerintahan Prabowo-Gibran. Diketahui, Jokowi adalah ayahanda dari Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Anak kita, kata Hendropriyono, bukan pelayan usia. Mereka bukan bahu untuk memikul raga renta. Mereka adalah benih masa depan yang tumbuh bukan untuk kembali ke akar, melainkan menjulang ke cahaya zaman.
Mungkin Hendropriyono menganggap Try Sutrisno dkk yang sudah renta itu menjadi beban generasi muda seperti Gibran yang merupakan benih masa depan.
Try Sutrisno dkk yang sudah tua, demikian mungkin maksud Hendropriyono, bukan raja yang menunggu disembah, melainkan penulis bab terakhir yang harus rampung tanpa jeda dengan tangan sendiri dan jiwa yang rela (ikhlas).
Mungkin juga sindiran itu ditujukan kepada Hendropriyono sendiri, dan juga Jokowi.
Biarlah generasi muda seperti Gibran, demikian pula mungkin maksud Hendropriyono, mengurus anak-anaknya, sebagaimana dulu Try Sutrisno dkk mengurus generasi muda, tanpa menoleh pada orang tua yang telah meninggal dunia.
Sebab, katanya, hukum alam tidak bisa ditawar: yang muda lahir untuk hidup, yang tua hadir untuk pergi (mati), dan semua yang hidup pasti akan mati.
Namun, mungkin saja puisi itu juga sekalian ditujukan kepada Hendropriyono sendiri, ibarat menepuk air di dulang tepercik muka sendiri; dan juga Jokowi, meskipun kita tahu tokoh intelijen itu adalah orang dekat bekas Gubernur DKI Jakarta dan Walikota Solo itu.
Tapi, namanya juga fiksi, segala kemungkinan bisa terjadi. Termasuk ketika Hendropriyono menyentil dirinya dan juga Jokowi agar diam dan tak perlu cawe-cawe lagi terhadap pemerintah usai dirinya dan wong Solo itu pensiun.
Jokowi dan dirinya, demikian mungkin maksud Hendropriyono, diamlah dengan bermartabat. Dengan bijak. Karena pensiun dengan tenang adalah tugas paling mulia dari jiwa yang paripurna.
Jokowi dan Hendropriyono, kalian pun sudah tua sebagaimana Try Sutrisno dkk. Mungkin demikianlah maksud bapak mertua dari eks-Panglima TNI Jenderal (Purn) Andika Perkasa ini. Mungkin!

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan dan Survei Indonesia (KSI) / Sarjana Pendidikan Bahasa Indonesia UNS



















