• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Birokrasi

Makan Bergizi Gratis: Ketika Politik Lebih Penting dari Keselamatan Anak

fusilat by fusilat
September 30, 2025
in Birokrasi, Feature
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Nazaruddin

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto awalnya digadang-gadang sebagai tonggak penting untuk melawan stunting dan ketidakmerataan gizi anak. Namun, seiring berjalannya waktu, program ini justru berubah menjadi ironi: kasus keracunan massal, ribuan dapur fiktif, hingga gaya represif terhadap kritik. Alih-alih menghadirkan rasa aman dan sehat, MBG kini tampak lebih sebagai proyek politik ketimbang program kesehatan publik.

Data resmi Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat korban keracunan sudah lebih dari 4.700 anak. Lembaga independen bahkan menyebut jumlahnya menembus 5.000. Tragisnya, Kepala BGN menanggapi dengan enteng: angka itu hanya “0,5 persen” dari total penerima manfaat. Pernyataan ini mencerminkan mentalitas birokratis yang menormalisasi penderitaan, seolah ribuan anak yang sakit hanyalah angka statistik yang bisa dikecilkan.

Lebih jauh, publik menemukan adanya 5.000 dapur fiktif MBG—tercatat di data, tetapi tak pernah ada wujudnya. BGN berkilah bahwa itu sekadar “booking lokasi” yang belum dibangun, seakan formalitas administratif lebih penting daripada fakta bahwa uang rakyat bisa tersedot untuk entitas yang tidak pernah ada.

Masalah lain justru terletak pada komposisi kepemimpinan BGN. Hampir semua pejabat kunci berasal dari latar belakang militer, kepolisian, atau bidang non-gizi. Tak satu pun ahli gizi menempati posisi strategis. Tak heran, standar keamanan pangan lemah dan SOP distribusi longgar: makanan basi, telur berulat, bahkan pernah tersiar kabar menu ikan hiu masuk daftar hidangan.

Nuansa represif pun semakin kentara. Wartawan CNN sempat kehilangan kartu pers istana hanya karena menanyakan MBG langsung kepada Presiden—meski akhirnya dikembalikan setelah biro pers meminta maaf. Sekolah dan orang tua ditekan lewat perjanjian untuk tidak menuntut bila terjadi keracunan. Pemerintah daerah dan sekolah tidak dilibatkan dalam perencanaan, tetapi justru dipaksa bertanggung jawab saat masalah muncul. Kritik dari DPR, aktivis, hingga akademisi lebih sering dijawab dengan defensif ketimbang evaluatif.

Pertanyaan mendasar pun muncul: apa sesungguhnya tujuan di balik program ini?

Pertama, MBG jelas berfungsi sebagai alat legitimasi politik. Memberi makan gratis jutaan anak adalah program spektakuler yang mudah dijual di panggung publik. Kedua, desainnya yang sangat sentralistis dan dikelola dengan pendekatan militeristik menunjukkan bahwa pemerintah lebih mengutamakan kecepatan dan kontrol ketimbang kualitas gizi dan keselamatan. Ketiga, keterlibatan politisi dan pengusaha penyedia dapur menegaskan bahwa MBG bukan sekadar program kesehatan, melainkan juga proyek ekonomi-politik raksasa.

Padahal, gizi bukan persoalan logistik semata. Ia adalah soal ilmu, kualitas, dan keberlanjutan. Ketika program sebesar ini dikelola dengan pola komando tanpa basis keilmuan, yang lahir bukanlah generasi sehat, melainkan risiko baru: keracunan massal, pemborosan anggaran, dan runtuhnya kepercayaan publik.

Jika pemerintah sungguh serius, evaluasi independen mutlak dilakukan: libatkan ahli gizi, epidemiolog, dan pemerintah daerah; transparansikan data keracunan dan dapur fiktif; hentikan kontrak berbasis kedekatan politik; serta tempatkan keselamatan anak sebagai prioritas utama. Tanpa itu semua, MBG hanya akan tercatat dalam sejarah sebagai proyek gizi terbesar dengan cacat paling sistemik.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

PPP dan Kutukan Sisifus

Next Post

Damai Hari Lubis: Jokowi Belum Terpidana, tapi Sudah Terkena Sanksi Moral Publik

fusilat

fusilat

Related Posts

Syarat Dosen Lebih Tinggi dari Presiden/Wapres: Paradoks yang Dibiarkan
Birokrasi

Syarat Dosen Lebih Tinggi dari Presiden/Wapres: Paradoks yang Dibiarkan

April 27, 2026
Ibrah dari Runtuhnya Moral Para “Penjaga Moral”
Crime

Ibrah dari Runtuhnya Moral Para “Penjaga Moral”

April 27, 2026
Tanggapan PAN dan Gerindra Terkait Keakraban  Jokowi-Prabowo-Erick Thohir
Feature

Prabowo, Klaim, dan Bayang-Bayang Kemunafikan (Disonansi Kognitif)

April 27, 2026
Next Post
Bumi Pertiwi Dirusak Fir’aun Bin Raja Jawa

Damai Hari Lubis: Jokowi Belum Terpidana, tapi Sudah Terkena Sanksi Moral Publik

Prabowo: Pemimpin Zaman Sekarang Harus Terbuka terhadap Kritik

Prabowo dan Ancaman “September Kelam”: Kewaspadaan Politik di Tengah Gejolak Lokal

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa
Feature

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

by Karyudi Sutajah Putra
April 24, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Letkol Teddy Indra Wijaya kini sudah bisa...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

RPP Tugas TNI: Wujud Remiliteriasi yang Bahayakan Kehidupan Demokrasi

April 24, 2026
Jangan Lawan Parpol!

Jangan Lawan Parpol!

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Syarat Dosen Lebih Tinggi dari Presiden/Wapres: Paradoks yang Dibiarkan

Syarat Dosen Lebih Tinggi dari Presiden/Wapres: Paradoks yang Dibiarkan

April 27, 2026
Ibrah dari Runtuhnya Moral Para “Penjaga Moral”

Ibrah dari Runtuhnya Moral Para “Penjaga Moral”

April 27, 2026
Tanggapan PAN dan Gerindra Terkait Keakraban  Jokowi-Prabowo-Erick Thohir

Prabowo, Klaim, dan Bayang-Bayang Kemunafikan (Disonansi Kognitif)

April 27, 2026

Belajar dari Kongo, Perebutan Kepentingan Geopolitik & Ekonomi di Kawasan Afrika (Neo-Kolonialisme Dulu dan Relevansi Kekinian, Termasuk Kawasan Asia Tenggara)

April 27, 2026
Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 26, 2026

Menjaga Langit Nusantara: Menakar Marwah Bebas Aktif di Tengah Krisis Karakter Bangsa

April 26, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Syarat Dosen Lebih Tinggi dari Presiden/Wapres: Paradoks yang Dibiarkan

Syarat Dosen Lebih Tinggi dari Presiden/Wapres: Paradoks yang Dibiarkan

April 27, 2026
Ibrah dari Runtuhnya Moral Para “Penjaga Moral”

Ibrah dari Runtuhnya Moral Para “Penjaga Moral”

April 27, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...