Fusilatnews – Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang mampu mengimpor barang termewah dari negeri seberang. Bukan pula bangsa yang tergoda diskon produk luar negeri lalu melupakan jati dirinya. Bangsa yang benar-benar besar—dan patut disebut mulia—adalah bangsa yang mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Dari beras hingga benang, dari sendal jepit hingga semikonduktor, dari sayur dapur hingga bahan baku industri. Kemandirian itulah yang menentukan derajat sebuah bangsa di mata dunia—dan lebih penting lagi—di mata rakyatnya sendiri.
Cak Imin, dalam sebuah kunjungan ke Majalaya, mengucapkan dengan getir apa yang selama ini hanya menjadi bisik-bisik: “Semua yang kita pakai, kita makan, masih bergantung pada impor.” Ia tak sedang berretorika. Ia hanya sedang menyuarakan kenyataan yang menyakitkan. Kenyataan bahwa negeri yang dulu menjadi pusat rempah dunia, kini harus mengimpor garam. Negeri agraris yang sawahnya luas, kini tergantung pada beras Vietnam dan Thailand. Bahkan sepatu yang kita pakai—yang dibuat di negeri sendiri—alasnya pun impor.
Ini bukan sekadar soal ekonomi. Ini soal martabat. Bangsa yang tidak bisa menyediakan kebutuhannya sendiri, tidak bisa disebut berdaulat. Bangsa yang mengemis barang dari luar negeri tidak punya kehormatan untuk berdiri sejajar di forum internasional. Ia akan selalu menjadi pasar, bukan produsen. Konsumen, bukan pencipta.
Seorang pemikir ekonomi klasik, Adam Smith, pernah mengingatkan: “No society can surely be flourishing and happy, of which the far greater part of the members are poor and miserable.” Maka, bagaimana mungkin kita berbicara tentang kemajuan dan pertumbuhan, jika sebagian besar rakyatnya tidak punya pekerjaan karena industri lokal dihancurkan oleh produk impor murah?
Lihatlah sejarah bangsa-bangsa yang bangkit. Jepang, setelah luluh lantak oleh bom atom, membangun kembali dengan satu tekad: berdiri di atas kaki sendiri. Mereka menutup diri, bukan karena membenci dunia, tetapi karena mencintai martabat bangsanya. Mereka tidak ingin generasi setelahnya tumbuh dengan rasa rendah diri karena tak mampu membuat jarum sekalipun. Kini, mereka bukan hanya mampu membuat jarum, tapi juga teknologi tercanggih di dunia.
Bandingkan dengan kita. Masih kita banggakan jalan tol dan gedung pencakar langit yang sebagian besar bahan bakunya impor. Masih kita puja pertumbuhan ekonomi yang bertumpu pada belanja barang dari luar. Sementara industri lokal kita terengah-engah, kalah bersaing, bahkan mati sebelum berkembang. Bahkan pemerintah sendiri, lewat berbagai proyek, lebih senang mengimpor ketimbang memberdayakan produk dalam negeri.
John F. Kennedy pernah berkata, “Let every nation know… that we shall pay any price, bear any burden… to assure the survival and the success of liberty.” Tapi bagaimana bisa kita bicara tentang kemerdekaan dan kebebasan, jika nasi yang kita makan pun bergantung pada kemurahan negara lain?
Apa jadinya jika tiba-tiba dunia menutup diri? Jika laut tak bisa dilayari? Jika perang dagang meletus? Apa yang akan kita makan, pakai, gunakan? Mandiri bukan pilihan mewah di masa kini. Mandiri adalah keharusan jika kita ingin eksis di masa depan.
Cak Imin benar ketika ia meminta pembatasan impor yang mengganggu industri dalam negeri. Tapi permintaan saja tak cukup. Yang diperlukan adalah keberanian politik. Keputusan strategis. Kebijakan yang berpihak. Tidak cukup hanya dengan verifikasi data UMKM, tetapi juga komitmen untuk membeli dari mereka, membesarkan mereka, dan menjadikan mereka tulang punggung ekonomi nasional.
“Self-reliance is the only road to true freedom,” kata Pat Nixon. “And being one’s own person is its ultimate reward.” Kemandirian bukan berarti menutup diri dari dunia. Tapi itu berarti dunia tidak bisa menutup kita dari kehidupan. Kemandirian adalah cara paling elegan untuk menolak dijajah. Sebab penjajahan gaya baru tak datang dengan meriam, tapi dengan kontainer dan nota impor.
Jika kita tidak ingin menjadi bangsa pelayan di negeri sendiri, maka saatnya berdiri. Mulailah dari hal yang paling sederhana: membeli produk sendiri, memproduksi apa yang kita butuhkan, dan menghormati jerih payah petani, pengrajin, dan pelaku UMKM yang selama ini bertarung sendirian.
Mandiri atau mati. Tidak ada pilihan ketiga.
























