Washington – Fusilatnews – Iran tidak sendiri. Negara itu memiliki dukungan kuat dari sekutu-sekutunya, dan setiap aksi militer terhadap Teheran berisiko memicu konflik global yang dapat berujung pada kekalahan Amerika Serikat. Demikian peringatan keras dari mantan presenter Fox News, Tucker Carlson.
Pernyataan itu disampaikan Carlson pada Kamis, di tengah meningkatnya ketegangan seputar program nuklir Iran. Teheran menegaskan bahwa pengayaan uranium merupakan bagian yang tak terpisahkan dari program nuklirnya, sekaligus menolak tuntutan Amerika Serikat—termasuk dari Presiden saat itu, Donald Trump—yang menuntut penghentian total aktivitas pengayaan.
Desakan AS yang dinilai provokatif ini, menurut Carlson, telah mengguncang proses negosiasi yang tengah dimediasi oleh Oman. Pembicaraan antara Washington dan Teheran mengenai kesepakatan nuklir pengganti perjanjian 2015 kini berada dalam ketidakpastian, memperbesar risiko eskalasi militer.
Melalui akun X (dulu Twitter), Carlson menuding tokoh konservatif seperti Mark Levin telah mendorong agenda perang dengan Iran atas nama pencegahan proliferasi senjata nuklir. Ia menegaskan bahwa tudingan bahwa Iran nyaris membangun bom nuklir adalah narasi lama yang tidak didukung oleh intelijen yang kredibel.
“Itu bohong. Tidak ada informasi intelijen yang sahih yang menunjukkan Iran sedang membangun atau akan segera memiliki bom nuklir. Kalau memang benar begitu, kita sudah berperang sejak lama,” tulis Carlson.
“Iran tahu hal ini, dan karena itu mereka tidak membuat bom. Tapi mereka juga tahu, tidak masuk akal jika program senjatanya dihentikan total.”
Carlson mempertanyakan motif di balik kampanye ketakutan tersebut. Ia menilai wacana ancaman nuklir hanyalah kedok untuk tujuan utama: pergantian rezim di Iran, yang akan menyeret kembali tentara Amerika ke Timur Tengah.
“Mengapa Mark Levin kembali membicarakan senjata pemusnah massal? Karena mereka ingin mengalihkan perhatian dari agenda sebenarnya, yaitu menggulingkan pemerintahan Iran. Tapi mereka tidak berani menyatakan itu secara terbuka,” lanjutnya.
Menurut Carlson, rekam jejak buruk Amerika dalam menggulingkan pemimpin asing telah menjadikan istilah “regime change” identik dengan kegagalan dan kehancuran. Karena itu, propaganda ketakutan kembali dipakai untuk memuluskan intervensi.
“Mereka bilang, ‘Iran tidak boleh punya bom! Mereka bisa menyerang Los Angeles!’ Retorika semacam itu hanya alat untuk menghasut.”
Ia juga memperingatkan bahwa serangan terhadap Iran akan membawa konsekuensi jauh lebih besar dibandingkan perang-perang sebelumnya seperti di Irak atau Libya.
“Iran memang tidak memiliki senjata nuklir, tapi mereka punya persenjataan rudal balistik yang mematikan. Banyak di antaranya diarahkan ke pangkalan militer AS di Teluk, sekutu kita, dan infrastruktur energi penting. Dalam sepekan, ribuan nyawa Amerika bisa melayang. Krisis minyak akan menghancurkan ekonomi global. Bayangkan harga bensin tembus $30 per galon.”
Lebih jauh, Carlson menekankan bahwa Iran bukan negara yang terisolasi. Ia kini menjadi bagian dari BRICS—blok ekonomi dan politik yang mencakup Rusia, Tiongkok, dan negara-negara besar lainnya. Jaringan aliansi ini, menurut Carlson, menjadikan Iran kekuatan global yang tidak bisa dianggap enteng.
“Iran bukan Irak, Libya, atau Korea Utara. Ia punya mitra kuat. BRICS kini mencakup sebagian besar wilayah daratan dunia, penduduk, ekonomi, dan kekuatan militer. Iran punya hubungan militer erat dengan Rusia, dan menjual sebagian besar minyaknya ke Tiongkok. Menyerang Iran berarti memancing kekuatan global. Ini bisa jadi awal dari perang dunia. Dan kita—Amerika—bisa kalah.”
Carlson menutup pernyataannya dengan mengkritik upaya-upaya sistematis untuk memprovokasi Iran dengan tuntutan yang tidak realistis, demi menjebak Trump agar meninggalkan janji kampanye antiperangnya.
Hingga kini, lima putaran perundingan tidak langsung telah digelar antara Iran dan AS guna membahas pengganti kesepakatan nuklir 2015. Namun, negosiasi itu tersendat karena perbedaan tajam soal tuntutan AS agar Iran menghentikan seluruh aktivitas pengayaan uranium.




















