Fusilatnews – Sejak kapan ijazah bisa menimbulkan chaos? Barangkali sejak logika sehat tak lagi dipakai, dan digantikan oleh paranoia politik yang menjelma menjadi doktrin negara. Bayangkan, kita hidup di republik yang katanya demokratis, tapi mempertanyakan keaslian ijazah seorang mantan presiden dianggap sebagai potensi kekacauan. Ini bukan sketsa Srimulat. Ini kenyataan dari negeri yang mulai alergi terhadap pertanyaan sederhana.
Di dunia normal, ijazah adalah benda remeh temeh. Ditaruh di pigura, dipajang di ruang tamu, atau dilipat di map plastik lalu ditinggalkan di laci. Tapi di Indonesia, ijazah bisa berubah jadi benda suci yang tak boleh disentuh. Konon, memperlihatkannya saja bisa mengganggu stabilitas nasional. Seakan-akan di balik lembar kertas itu tersimpan mantra yang bisa membelah Nusantara.
Lucunya, ini bukan urusan presiden aktif. Ini soal mantan. Ya, mantan presiden yang sudah tidak punya jabatan, tidak lagi memegang kendali negara, tapi masih dilindungi dengan pengamanan logika tingkat tinggi. Bahkan rakyat yang sekadar bertanya bisa dituduh bikin gaduh, seolah bertanya soal ijazah lebih berbahaya daripada korupsi berjamaah.
Tapi, kita maklum. Jokowi memang bukan sendirian. Ia dikelilingi oleh orang-orang yang tak pernah betah hidup dalam terang. Bagi mereka, keterbukaan adalah gangguan, dan transparansi adalah dosa besar. Maka tak heran, muncul pernyataan konyol seperti “memperlihatkan ijazah bisa menimbulkan chaos.” Sebab bagi mereka, kebenaran adalah potensi bom waktu.
Ironi ini bukan cuma memukul wajah peradaban dunia. Tapi juga menampar wajah akhirat. Sebab di setiap agama—apalagi agama mayoritas negeri ini—kejujuran adalah fondasi moral. Tapi tampaknya, kejujuran sudah tak laku dijual. Di pasar kekuasaan, yang laris adalah bungkus-bungkus narasi, bukan isi.
Dan mari kita jujur, yang paling ketakutan bukan rakyat. Rakyat cuma ingin tahu. Yang panik adalah para penjaga narasi. Mereka takut jika satu ijazah terbukti palsu, maka reruntuhan kebenaran bisa menjalar ke mana-mana. Karena satu dusta akan menarik seribu dusta lain, dan akhirnya… well, chaos yang mereka ramalkan bisa terjadi. Tapi bukan karena rakyat. Karena mereka sendiri.
Jadi jika hari ini memperlihatkan ijazah dianggap sebagai ancaman, maka mari kita ucapkan selamat tinggal pada akal sehat. Sebab negeri ini sudah resmi dipimpin oleh rasa takut. Takut pada pertanyaan. Takut pada fakta. Takut pada kemungkinan bahwa rakyat—akhirnya—mulai membaca dengan teliti.
Dan sebagaimana lazimnya dalam drama-drama panjang negeri ini, para tokohnya bukan berakhir di pengadilan, tapi di halaman sejarah yang compang-camping.


























