• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Mempraktikkan Program Guru Penggerak

Karyudi Sutajah Putra by Karyudi Sutajah Putra
May 4, 2023
in Feature
0
Mempraktikkan Program Guru Penggerak
Share on FacebookShare on Twitter


Oleh: Riduan Situmorang

Jakarta – Setelah mengikuti Program Guru Penggerak, saya berusaha untuk membuktikan teori-teori dalam modul tersebut. Karena itu, saya berpikir, tak ada salahnya berbagi tiga pengalaman praktik berikut ini kepada para guru. Pertama, memperbaiki karakter dengan pendekatan coaching. Saya menguji teori ini dengan sebuah eksperimen. Kebetulan, ada dua orang siswa yang masalahnya identik. Dan, menurut saya, kenakalan keduanya pun relatif sama.

Kepada seorang siswa, saya membuat penanganan dengan cara tradisional –saya lebih menonjolkan hukuman dan ancaman kepada siswa tersebut. Hukuman dan ancaman itu, misalnya, saya dasarkan pada peraturan sekolah bahwa jika siswa melanggar, mereka bisa dikeluarkan dari sekolah. Kepada siswa lain, saya membuat penanganan dengan pola coaching.

Dalam materi Program Guru Penggerak di modul 2.3, hubungan coaching dibuat setara. Artinya, posisi guru sebagai coach dan siswa sebagai coache sederajat. Teknisnya, guru menuntun siswa tanpa menggurui. Guru hanya perlu menggali banyak informasi dengan tujuan agar keyakinan siswa makin tebal dan kuat.

Satu catatan penting, guru tak memberi bantuan secara langsung. Guru hanya memberi keyakinan bahwa siswa tersebut mampu menyelesaikan masalah atau mencapai tujuannya dengan modal yang dimiliki siswa itu sendiri. Atas dasar penasaran dengan teori tersebut, saya lantas mencoba menerapkannya pada dua orang siswa saya tadi.

Saya pikir, hasilnya bisa dipertanggungjawabkan karena berasal dari dua kasus dengan posisi yang sama. Hasilnya, dengan pendekatan coaching sekaligus juga dengan pola restitusi, sekilas tidak terlihat perubahan yang kentara pada siswa. Sebaliknya, saya melihat bahwa dengan pendekatan tradisional justru terjadi perubahan yang drastis.

Perlahan dan Pasti

Artinya, pola tradisional jauh lebih baik daripada coaching. Namun, ternyata ini hanya tampak luar. Maksudnya, perubahan siswa dengan pola pendekatan tradisional itu tidak sebenar-benarnya berubah dengan kesungguhan. Sebab, setelah saya periksa, guru lain melaporkan bahwa siswa dengan pendekatan tradisional tetap berulah. Nyaris tak ada kemajuan apa pun.

Demikian juga ketika saya tanyakan melalui teman-teman sekelasnya. Artinya, siswa dengan pendekatan tradisional itu hanya berubah ketika saya masuk. Tentu saja itu adalah perubahan semu karena tidak didasari oleh kesadaran. Masuk akal memang karena dengan pendekatan tradisional, posisi kontrol guru yang diterapkan adalah sebagai penghukum. Jadi, ketika berjumpa dengan saya, siswa tersebut memilih untuk menghindari hukuman dan ancaman.

Sebaliknya terjadi dengan siswa yang saya dekati dengan pola coaching. Ketika saya masuk ke kelas, ia tidak sedisiplin siswa dengan pola tradisional. Jika siswa dengan pola tradisional duduk rapi sehingga nyaris tak bergerak dan bersuara, siswa dengan pola coaching dan restitusi masih terlihat ribut sesekali. Terlihat bahwa perubahan drastis justru dengan tradisional.

Namun, ternyata setelah diperiksa lebih jauh lagi dengan bertanya kepada beberapa guru dan teman sekelasnya, siswa dengan pendekatan coaching tersebut menunjukkan hal yang sama ketika guru yang lain masuk, bahkan ketika guru tak hadir. Dari sanalah saya paham bahwa siswa tersebut berubah pelan-pelan atas kesadaran diri sendiri. Dari sana pula saya menyimpulkan bahwa untuk mendidik anak secara jangka panjang, maka pendekatan yang lebih efektif adalah dengan pola coaching dan restitusi.

Memang, hasilnya terlihat tidak dengan cepat. Ia berubah secara perlahan dan pasti. Praktik kedua, mengefektifkan transfer pembelajaran dengan model diferensiasi. Secara teori, juga dikuatkan dalam Quantum Teaching ala Bobby de Porter, kecenderungan gaya belajar siswa sangat beragam. Karena itulah, kita menyebut tak ada siswa yang bodoh. Hanya ada siswa yang belum bertemu guru yang tepat.

Untuk itu, kiranya perlu penjajakan melalui asesmen diagnostik. Asesmen ini dilakukan untuk melihat posisi dan kecenderungan gaya belajar siswa. Terkait ini, saya juga mencoba melakukannya dengan membuang pikiran buruk. Setelah itu, saya menerapkan cara mengajar untuk mengakomodasi kesemua gaya belajar siswa. Saya bahkan menuruti kemauan mereka mulai dari bagaimana cara masuk kelas.

Tentu saja untuk sebuah eksperimen, saya melakukan cara tradisional di kelas lain, yang secara umum lebih siap karena berada di kelas unggulan. Hasilnya cukup mengejutkan. Kelas yang saya masuki dengan pembelajaran diferensiasi, meski berstatus bukan unggulan, justru mendapat pemahaman yang lebih tinggi, baik secara postest tertulis maupun keterampilan secara lisan. Karena itu, saya sangat meyakini bahwa pembelajaran berdiferensiasi dengan mengandalkan asesmen diagnostik akan sangat membantu guru untuk mengefektifkan proses transfer pelajaran.

Bahagia dalam Belajar

Ketiga, ini terkait dengan fasilitasi minat-bakat siswa. Kebetulan, di sekolah kami ada tiga alumni guru penggerak. Kami mengusulkan kepada kepala sekolah untuk memfasilitasi minat-bakat siswa setiap hari. Kepala sekolah kami ternyata berpikiran yang sama.

Memang, jadwal masuk belajar semakin molor, bahkan terkadang sampai satu jam. Guru-guru tidak sepenuhnya mendukung karena ditengarai mencuri waktu belajar. Namun, faktanya, terus belajar akademik tidak otomatis membuat mereka semakin pintar. Malah terkadang sebaliknya: bosan dan malas. Maksud saya, kita jangan kaku mengartikan jam belajar berarti harus menghabiskannya total belajar.

Anak juga perlu bahagia dalam belajar. Karena itulah, setiap hari sekolah kami selalu membuka pelajaran dengan pertunjukan minat-bakat dari siswa. Pemerolehan siswa nyatanya tak berkurang. Buktinya, meski sekolah kami tidak berstatus unggulan, dalam olimpiade sekolah kami justru menelurkan lebih banyak pemenang.

Selain itu, melihat kegiatan rutin yang kami lakukan di media sosial, alumni kami yang kini kuliah di Undip pun menjapri saya: andai dari dulu seperti ini, saya lebih semangat belajar dan mengeksplorasi minat bakat. Bisa jadi japrian itu subjektif. Tetapi, begitulah faktanya. Siswa butuh sarana untuk mengeksplorasi diri. Kita harus paham bahwa melulu belajar tak akan membuat siswa pintar.

Saya jadi ingat kisah seorang teman. Sejak dari SMP sampai SMA masuk asrama. Malah, masuk kelas akselerasi. Faktanya, pencapaian kami di kemudian hari tak jauh berbeda. Yang ada, dia menyesali masa sekolahnya yang terlalu padat. Dalam kerangka berpikir seperti itulah saya menyadari bahwa belajar itu harus berbahagia. Justru itu, dari akar katanya, bahasa Latin, yaitu schola(e), skhole, scola, skhola, sekolah adalah waktu senggang. Akhirnya, semoga refleksi singkat ini dapat menjadi referensi bagi pendidik. Barangkali kita akan mendapat hasil yang serupa.

Riduan Situmorang, Guru Bahasa Indonesia SMAN 1 Doloksanggul, Guru Penggerak Humbang Hasundutan.

Dikutip dari detik.com, Rabu 3 Mei 2023.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Gunakan Istana Negara Untuk Kepentingan Politik Golongan Sendiri, Presiden Jokowi Dituding Tak Paham Etika

Next Post

Hendardi Sebut “Kick Off” Penyelesaian Non-Yudisial Pelanggaran HAM Masa Lalu adalah Akuntabilitas Semu

Karyudi Sutajah Putra

Karyudi Sutajah Putra

Related Posts

daerah

KEADILAN PERADABAN DALAM KASUS KEBON BINATANG BANDUNG

April 30, 2026
Presiden Prabowo, Waspada! Gejolak September Bisa Jadi Strategi Politik Tersembunyi
Feature

Prabowo Mulai Panik!

April 29, 2026
Feature

Antara Pembatasan Gawai dan Pendidikan Digital

April 29, 2026
Next Post
Hendardi Sebut “Kick Off” Penyelesaian Non-Yudisial Pelanggaran HAM Masa Lalu adalah Akuntabilitas Semu

Hendardi Sebut “Kick Off” Penyelesaian Non-Yudisial Pelanggaran HAM Masa Lalu adalah Akuntabilitas Semu

Maksiat Perselingkuhan Politik

Maksiat Perselingkuhan Politik

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
IPW Apresiasi Kapolda NTT Terkait Mafia BBM Ilegal
Komunitas

IPW Apresiasi Kapolda NTT Terkait Mafia BBM Ilegal

by Karyudi Sutajah Putra
April 30, 2026
0

FusilatNews - Indonesia Police Watch (IPW) mengapresiasi Kapolda Nusa Tenggara Timur (NTT) Irjen Rudi Darmoko yang tidak segan-segan untuk menangkap...

Read more
Presiden Prabowo, Waspada! Gejolak September Bisa Jadi Strategi Politik Tersembunyi

Prabowo Mulai Panik!

April 29, 2026
Reshuffle Kabinet “4L”

Reshuffle Kabinet “4L”

April 27, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
IPW Apresiasi Kapolda NTT Terkait Mafia BBM Ilegal

IPW Apresiasi Kapolda NTT Terkait Mafia BBM Ilegal

April 30, 2026

KEADILAN PERADABAN DALAM KASUS KEBON BINATANG BANDUNG

April 30, 2026
Presiden Prabowo, Waspada! Gejolak September Bisa Jadi Strategi Politik Tersembunyi

Prabowo Mulai Panik!

April 29, 2026

Antara Pembatasan Gawai dan Pendidikan Digital

April 29, 2026

Bom Waktu APBN-P 2026: Rupiah Jebol, Subsidi Meledak, Rakyat yang Nanggung

April 29, 2026
HMI–KAHMI Ditegaskan Saling Terikat dalam Pembinaan Kader di Perguruan Tinggi

HMI–KAHMI Ditegaskan Saling Terikat dalam Pembinaan Kader di Perguruan Tinggi

April 29, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

IPW Apresiasi Kapolda NTT Terkait Mafia BBM Ilegal

IPW Apresiasi Kapolda NTT Terkait Mafia BBM Ilegal

April 30, 2026

KEADILAN PERADABAN DALAM KASUS KEBON BINATANG BANDUNG

April 30, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist