• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Economy

Menantang Prabowo: Bangsa ‘Besar’ yang Devisanya Terkikis Impor

Ali Syarief by Ali Syarief
August 16, 2025
in Economy, Feature
0
Menantang Prabowo: Bangsa ‘Besar’ yang Devisanya Terkikis Impor
Share on FacebookShare on Twitter

Prabowo Subianto kerap tampil gagah di panggung politik. Dengan suara lantang, ia menyebut Indonesia sebagai bangsa besar. Kata-kata itu terasa membakar semangat, seolah negeri ini benar-benar perkasa dan mandiri. Namun, retorika hanyalah retorika. Di balik gegap gempita pidato, ada kenyataan pahit yang tidak bisa ditutupi: Indonesia, yang katanya bangsa besar, masih harus mengimpor beras, gula, kedelai, jagung, bawang putih, daging sapi, garam, BBM, dan LPG untuk memenuhi kebutuhan pokok rakyatnya.

Ironis, bukan? Negeri yang mengklaim sebagai lumbung pangan dunia ternyata masih mengimpor beras dari Thailand dan Vietnam. Negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia masih mendatangkan garam dari Australia dan Tiongkok. Ladang minyak dan gas terbentang dari Aceh hingga Papua, tetapi BBM dan LPG tetap didatangkan dari Timur Tengah.


Devisa yang Bocor ke Luar Negeri

Ketergantungan pada impor ini bukan hanya memalukan dari sisi martabat, tetapi juga menggerus devisa negara. Data Kementerian Investasi mencatat, devisa Indonesia terkuras hingga Rp 450 triliun hanya untuk impor minyak, BBM, dan LPG. Bayangkan, ratusan triliun rupiah yang seharusnya bisa dipakai membangun kilang minyak modern, memperkuat riset pertanian, atau menyejahterakan petani, malah dialirkan ke luar negeri.

Dan itu baru sektor energi. Di bidang pangan, impor kedelai, beras, gula, jagung, dan daging setiap tahun juga menyedot puluhan triliun rupiah. Padahal, kebutuhan itu bisa dipenuhi dari tanah sendiri jika pemerintah serius membangun kedaulatan pangan.


Devisa Masuk: Tidak Seimbang

Memang benar, ekspor Indonesia masih menghasilkan surplus. Pada 2024, nilai ekspor mencapai US $264,7 miliar, sementara impor sebesar US $233,66 miliar, sehingga tercatat surplus US $31,04 miliar. Namun, ini adalah surplus terendah dalam empat tahun terakhir. Artinya, keuntungan dari ekspor tidak sebanding dengan derasnya impor yang terus menggerogoti devisa.

Bahkan pada April 2025, surplus perdagangan hanya US $158 juta—angka terendah sejak pandemi 2020. Situasi ini memperlihatkan bahwa “kebesaran” Indonesia di sektor ekspor semakin rapuh, karena sebagian besar ekspor masih berupa bahan mentah (seperti batu bara dan CPO), bukan hasil industri bernilai tambah tinggi.

Per Juni 2025, cadangan devisa memang masih berada di level US $152,6 miliar. Namun, angka itu bisa cepat terkikis jika pola impor—khususnya BBM, LPG, beras, dan pangan pokok—tidak dikendalikan. Dengan laju impor sebesar sekarang, cadangan devisa hanya ibarat tabungan yang menunggu waktu untuk habis.


Sindiran untuk Retorika Bangsa Besar 

Pak Prabowo, rakyat mungkin masih bertepuk tangan saat Anda berpidato dengan penuh semangat tentang kebesaran bangsa. Tapi di meja makan mereka, nasi yang disuapkan bisa jadi dari beras impor. Tahu dan tempe yang mereka santap berasal dari kedelai impor. Garam yang mereka taburkan pun datang dari negeri asing.

Seorang bijak pernah berkata: “Bangsa yang besar adalah mereka yang bisa memenuhi kebutuhannya sendiri.” Dengan standar itu, Indonesia saat ini belum layak disebut bangsa besar. Kita baru besar dalam slogan, tapi masih kerdil dalam kemandirian pangan dan energi.


Tantangan untuk Prabowo

Di sinilah tantangan sejati untuk Prabowo sebagai Presiden. Apakah ia berani membuktikan kata-kata tentang bangsa besar itu lewat tindakan nyata?
Apakah ia berani memutus ketergantungan pada impor beras, kedelai, dan gula?
Apakah ia mampu menghentikan kebocoran devisa ratusan triliun rupiah untuk BBM dan LPG impor?

Bangsa besar sejati tidak diukur dari pidato lantang atau jargon politik. Bangsa besar adalah bangsa yang mandiri dalam pangan dan energi, bangsa yang devisanya tidak bocor karena impor kebutuhan pokok, bangsa yang berdiri di atas kakinya sendiri.

Jika Prabowo gagal menjawab tantangan ini, maka kebesaran Indonesia akan tetap menjadi puisi kosong—indah didengar, tapi asin terasa, persis seperti garam impor yang masih kita beli hingga hari ini.


 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Sawah Baru Papua: Impian Pangan atau Labirin Sosial?

Next Post

Diamnya Erick Thohir di Tengah Jerat Hukum

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Birokrasi

Menakar Nasionalisme Penguasa dan Pengusaha Negara (Ketika Sistem Politik Kehilangan Kompas Moral)

July 24, 2026
Feature

Jumat Mubarak: Menolong Kebodohan

July 24, 2026
KETIKA PRESIDEN BICARA DENGAN MASYARAKAT
Feature

Ketika Presiden Menyebut “Londo Ireng”

July 24, 2026
Next Post
Diamnya Erick Thohir di Tengah Jerat Hukum

Diamnya Erick Thohir di Tengah Jerat Hukum

Papua, Hortikultura, dan Jepang: Menanam Masa Depan

Papua, Hortikultura, dan Jepang: Menanam Masa Depan

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Habis Nanik, Terbitlah Hotman
Feature

Habis Nanik, Terbitlah Hotman

by Karyudi Sutajah Putra
July 23, 2026
0

Jakarta - Setelah Nanik S Deyang, kini giliran pengacara kondang Hotman Paris Hutapea yang menyatakan mundur. Jika Nanik mundur dari...

Read more
Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

July 11, 2026
AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

July 10, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Menakar Nasionalisme Penguasa dan Pengusaha Negara (Ketika Sistem Politik Kehilangan Kompas Moral)

July 24, 2026

Jumat Mubarak: Menolong Kebodohan

July 24, 2026
KETIKA PRESIDEN BICARA DENGAN MASYARAKAT

Ketika Presiden Menyebut “Londo Ireng”

July 24, 2026
Reshuffle Kabinet “4L”

“Londo Ireng” & “Wedhus Ireng” Prabowo

July 24, 2026
Hidayah Itu Hanya Sampai kepada Orang yang Berilmu

Hidayah Itu Hanya Sampai kepada Orang yang Berilmu

July 24, 2026
Esensi Berislam: Ketika Akal Menemukan Tuhan, Hati Menemukan Diri

Esensi Berislam: Ketika Akal Menemukan Tuhan, Hati Menemukan Diri

July 24, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Menakar Nasionalisme Penguasa dan Pengusaha Negara (Ketika Sistem Politik Kehilangan Kompas Moral)

July 24, 2026

Jumat Mubarak: Menolong Kebodohan

July 24, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...