Fusilatnews – Kalau di Amerika kita mengenal sherif, di Jepang ada koban, maka di Bali ada pecalang. Tiga nama berbeda, tapi sebenarnya punya satu misi: menjaga rasa aman di tengah masyarakat. Bedanya, masing-masing punya cara unik sesuai budaya dan sistem sosialnya.
Sherif di Amerika biasanya dipilih langsung oleh warga. Karena itu, ia punya tanggung jawab moral sekaligus politik untuk menjaga wilayahnya. Polisi koban di Jepang bekerja di pos kecil yang tersebar di lingkungan-lingkungan. Mereka dekat dengan warga, bahkan sering membantu hal-hal sepele seperti mengantar orang tersesat.
Nah, di Bali ada yang istimewa: pecalang. Mereka bukan polisi negara, bukan pula aparat yang lahir dari sistem modern, tapi penjaga keamanan adat. Pecalang biasanya hadir saat upacara agama, perayaan adat, hingga kegiatan komunitas di desa-desa. Tugasnya sederhana tapi penting: mengatur lalu lintas, mengawasi jalannya acara, bahkan ikut menengahi kalau ada keributan kecil.
Kenapa kehadiran pecalang membuat Bali terasa aman? Karena mereka ada di tengah-tengah komunitasnya sendiri. Pecalang bukan orang luar, mereka saudara, tetangga, atau kerabat kita. Mereka mengenal siapa yang tinggal di banjar, siapa yang baru datang, siapa yang mungkin bikin masalah. Dengan begitu, pecalang bisa menjaga keamanan bukan dengan kekerasan, tapi dengan pendekatan sosial.
Inilah yang jadi rahasia keamanan Bali. Di saat turis berdatangan dari seluruh dunia, masyarakat lokal tetap merasa tenang. Pecalang jadi penghubung antara adat, masyarakat, dan wisatawan. Mereka menghadirkan wajah keamanan yang ramah sekaligus tegas.
Kalau di Amerika keamanan dibangun lewat politik, di Jepang lewat sistem negara yang rapi, maka di Bali keamanan lahir dari kebersamaan adat. Pecalang mengingatkan kita bahwa rasa aman bukan hanya soal polisi berseragam dan senjata, melainkan soal kepercayaan, kedekatan, dan solidaritas sosial.





















