• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Mengapa Buzzer Itu Begitu Penting dalam Pemerintahan Jokowi?

Ali Syarief by Ali Syarief
January 21, 2025
in Feature, Layanan Publik
0
Abu Janda Dukung Prabowo di Pilpres 2024, Ini Alasanya
Share on FacebookShare on Twitter

Pemerintahan Jokowi dikenal sebagai salah satu era politik yang sarat dengan digitalisasi dan pemanfaatan media sosial secara masif. Dalam lanskap komunikasi politik modern ini, keberadaan buzzer menjadi salah satu elemen kunci yang menentukan arah narasi publik. Namun, fenomena ini menimbulkan pertanyaan: mengapa pemerintahan Jokowi begitu bergantung pada buzzer, dan bagaimana hal ini kontras dengan pendekatan era Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto?

Buzzer: Senjata Narasi di Era Digital

Pada pemerintahan Jokowi, buzzer muncul sebagai aktor utama dalam membentuk opini publik. Mereka beroperasi di media sosial untuk menciptakan citra positif tentang Jokowi dan kebijakannya, sekaligus menyerang pihak-pihak yang dianggap lawan politik. Dalam skala tertentu, mereka bukan hanya penyebar informasi, tetapi juga alat propaganda yang membentuk realitas alternatif di dunia maya.

Peran buzzer menjadi penting karena masyarakat kini lebih banyak mengakses informasi melalui media sosial dibandingkan media konvensional. Namun, peran mereka sering kali menuai kritik karena banyaknya penyebaran hoaks, manipulasi informasi, dan serangan personal yang dilakukan atas nama pemerintah atau pihak-pihak tertentu.

Kontradiksi dengan Era Soeharto

Jika dibandingkan dengan era Soeharto, pendekatan yang diambil untuk mengontrol narasi publik sangat berbeda. Pada masa Orde Baru, Soeharto lebih memilih menggunakan orang-orang terdidik, seperti profesor dan doktor dari universitas terkemuka, untuk menciptakan narasi yang mendukung pemerintah. Tokoh-tokoh akademik ini tidak hanya menjadi corong kebijakan pemerintah, tetapi juga memberikan legitimasi intelektual terhadap berbagai kebijakan melalui publikasi ilmiah, pidato, atau seminar.

Pendekatan Soeharto terkesan lebih terstruktur, berbasis keilmuan, dan menyasar kalangan elite sebagai target audiensnya. Sebaliknya, di era Jokowi, narasi lebih sering dibangun melalui pendekatan populis yang menyasar masyarakat awam. Buzzer, yang kerap dipandang sebagai kelompok “gelandangan digital,” mengandalkan strategi serangan langsung yang emosional dan sensasional untuk membangun citra atau menghancurkan kredibilitas lawan.

Dinamika yang Memperkuat Peran Buzzer

Ada beberapa faktor yang membuat buzzer begitu relevan dalam pemerintahan Jokowi:

  1. Media Sosial sebagai Medan Perang Baru: Di era digital, informasi bergerak dengan sangat cepat. Media sosial menjadi ruang utama bagi pemerintah untuk menjangkau masyarakat luas dengan biaya rendah.
  2. Kemudahan Aksesibilitas: Berbeda dengan era Soeharto yang membutuhkan mekanisme birokrasi untuk menyebarkan propaganda, buzzer era Jokowi bisa langsung menjangkau jutaan orang hanya dengan beberapa klik.
  3. Target yang Berbeda: Soeharto berfokus pada membentuk opini kalangan elite, sementara Jokowi berupaya menciptakan keterhubungan emosional dengan rakyat biasa melalui narasi yang sederhana dan mudah dicerna.

Masalah Etis dan Dampaknya

Namun, keberadaan buzzer juga menimbulkan masalah serius. Penggunaan buzzer secara masif kerap kali dianggap merusak demokrasi karena menciptakan polarisasi yang tajam di masyarakat. Tindakan mereka yang sering menyerang pribadi lawan politik, menyebar kebencian, atau memanipulasi informasi telah memperburuk kualitas diskursus publik.

Sebaliknya, di era Soeharto, meskipun kontrol terhadap narasi juga ketat, cara yang digunakan lebih mengedepankan kesopanan akademik dan tidak terlalu vulgar dalam menyerang lawan. Ini menciptakan kesan bahwa pemerintahan memiliki tingkat intelektualitas yang lebih tinggi, meskipun tetap otoritarian.

Kesimpulan

Perbedaan mencolok antara pasukan narasi Soeharto dan Jokowi mencerminkan perubahan zaman dan strategi komunikasi politik. Jika era Soeharto menggunakan akademisi untuk membangun legitimasi intelektual, era Jokowi justru memanfaatkan buzzer yang sering kali tidak memiliki kredibilitas akademik, tetapi efektif dalam membentuk opini publik dengan cara instan.

Namun, keberadaan buzzer menunjukkan ironi besar: pemerintahan yang mengklaim dekat dengan rakyat justru melibatkan aktor yang memperkeruh suasana demokrasi. Dalam konteks ini, penting untuk mempertanyakan apakah keberhasilan membangun citra dan menyerang lawan dengan cara-cara seperti ini benar-benar mencerminkan pemerintahan yang kuat, atau justru memperlihatkan kelemahan dalam menghadapi kritik secara substantif.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Untuk Sri Mulyani : “Sumber Pajak Baru Yang Menyehatkan Rakyat”

Next Post

PT Pantai Indah Kapuk Dua (Milik Aguan) Menguasai Mayoritas Saham di Perusahaan Pemilik HGB Laut Tangerang

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Feature

METAMORFOSA MAFIA PERADILAN MENJADI MAFIA HUKUM (Ketika Pemberantasan Kalah Cepat dibandingkan Pertumbuhan Kanker Hukum)

June 20, 2026
Penangkapan Pangeran Roy Suryo
Feature

Penangkapan Pangeran Roy Suryo

June 20, 2026
Duplikasi Pola Represi Rezim: Ketika BEM “Jadi-Jadian” Digunakan untuk Membungkam Kritik
Feature

Duplikasi Pola Represi Rezim: Ketika BEM “Jadi-Jadian” Digunakan untuk Membungkam Kritik

June 20, 2026
Next Post
PT Pantai Indah Kapuk Dua (Milik Aguan) Menguasai Mayoritas Saham di Perusahaan Pemilik HGB Laut Tangerang

PT Pantai Indah Kapuk Dua (Milik Aguan) Menguasai Mayoritas Saham di Perusahaan Pemilik HGB Laut Tangerang

Prabowo Siap Lanjutkan Program Pembangunan Jokowi

Soal Makan Bergizi Gratis Prabowo Tidak Cari Nama dan Tak Butuh Ucapan Terima Kasih

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Ketika Mahasiswa Digendong ke Mana-mana oleh Gibran
Feature

Ketika Mahasiswa Digendong ke Mana-mana oleh Gibran

by Karyudi Sutajah Putra
June 20, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - "Dak gendong ke mana-mana. Dak gendong ke...

Read more
Tangkap Tiyo Ardianto!

Tangkap Tiyo Ardianto!

June 16, 2026
Mahasiswa Memasuki Kawasan Monas Teriak Jokowi Offside

Ketika Mahasiswa Sudah Muak Lihat Pejabat Negara

June 16, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

METAMORFOSA MAFIA PERADILAN MENJADI MAFIA HUKUM (Ketika Pemberantasan Kalah Cepat dibandingkan Pertumbuhan Kanker Hukum)

June 20, 2026
Penangkapan Pangeran Roy Suryo

Penangkapan Pangeran Roy Suryo

June 20, 2026
Duplikasi Pola Represi Rezim: Ketika BEM “Jadi-Jadian” Digunakan untuk Membungkam Kritik

Duplikasi Pola Represi Rezim: Ketika BEM “Jadi-Jadian” Digunakan untuk Membungkam Kritik

June 20, 2026

SARJANA MENUMPUK, INDUSTRI KEKURANGAN TALENTA

June 20, 2026

PRABOWO DAN STRATEGI PEMBERANTASAN KORUPSI

June 20, 2026
An Orangutan Will Never Deliver a Speech: Why Language Makes Humans Unique

An Orangutan Will Never Deliver a Speech: Why Language Makes Humans Unique

June 20, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

METAMORFOSA MAFIA PERADILAN MENJADI MAFIA HUKUM (Ketika Pemberantasan Kalah Cepat dibandingkan Pertumbuhan Kanker Hukum)

June 20, 2026
Penangkapan Pangeran Roy Suryo

Penangkapan Pangeran Roy Suryo

June 20, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...