• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home News

Menimbang Kemungkinan Anies Gagal dapat Tiket Capres

Karyudi Sutajah Putra by Karyudi Sutajah Putra
June 14, 2023
in News
0
Ditengah Slogan Perubahan, Anies Berkomitmen Tidak Akan Menghapus Rencana Jokowi Secara Keseluruhan

B

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Dr Anwar Budiman SH MH: Pemerhati Politik/Dosen Ilmu Hukum Tata Negara Program Pascasarjana Universitas Krisnadwipayana, Jakarta.

JAKARTA – Devide et impera! Pecah dan kuasailah!

Apakah strategi imperialisme ala Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang sudah terbukti berhasil mengadu domba bangsa Indonesia di masa pemerintahan kolonial Belanda itu kini sedang coba diterapkan elite-elite politik di Tanah Air menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024?

Pertanyaan tersebut patut dilontarkan. Pasalnya, ada partai-partai koalisi pengusung calon presiden yang mengalami gejala perpecahan internal. Mereka adalah Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP) yang mengusung Anies Baswedan sebagai capres untuk Pilpres 2024. KPP terdiri atas Partai Nasdem, Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). 

Entah siapa yang mengusung strategi “devide et impera” itu. Apakah pihak eksternal ataukah ada musuh dalam selimut. Yang jelas, KPP mengalami gejala perpecahan internal. Jika perpecahan KPP benar-benar terjadi, maka Anies Baswedan terancam tidak beroleh tiket capres di Pilpres 2024.

Ya, berdasarkan Pasal 222 Undang-Undang (UU) No 7 Tahun 2017 tentang Pemilu, pasangan calon presiden-calon wakil presiden hanya bisa diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik yang memenuhi syarat sebagai berikut:

Pertama, memperoleh minimal 25% suara sah nasional pada pemilu anggota DPR sebelumnya; atau kedua, memperoleh minimal 20% dari total jumlah kursi DPR.

Adapun ambang batas pencalonan presiden (presidential threshold) tersebut sudah dipenuhi oleh tiga partai pengusung Anies Baswedan itu.

Berikut rincian perolehan suara Nasdem, Demokrat, dan PKS pada Pemilu 2019:

Nasdem: 9,05%

Demokrat: 7,77%

PKS: 8,21%

Total: 25,03%

Berikut perolehan kursi Nasdem, Demokrat, dan PKS di DPR periode 2019-2024:

Nasdem: 10,26%

Demokrat: 9,39%

PKS: 8,70%

Total: 28,35%

Dengan demikian, jika koalisi dan dukungan dari ketiga partai itu tetap solid, Anies Baswedan dipastikan bisa masuk ke bursa capres Pilpres 2024.

Sebaliknya, jika satu partai saja hengkang dari koalisi maka Anies akan gagal mendapatkan tiket capres Pilpres 2024.

Dalam survei berbagai lembaga kredibel, di antara tiga calon presiden yang elektabilitasnya tinggi,  yakni Prabowo Subianto,  Ganjar Pranowo, dan Anies Baswedan,  memang mantan Gubernur DKI Jakarta itu selalu berada di peringkat terbawah. Akan tetapi para politisi itu tentu sadar bahwa Anies tak bisa dipandang sebelah mata. Mengapa?

Pertama, terkait “track records” atau rekam jejaknya ketika memimpin Ibu Kota. Kedua, terkait kapasitas dan integritasnya. Ketiga, terkait siklus politik lima atau sepuluh tahunan di Indonesia, di mana sosok presiden berikutnya yang dikehendaki rakyat adalah antitesis dari presiden yang akan digantikannya. Anies kini dikenal luas sebagai antitesis Presiden Jokowi.

Patut diduga ada dua cara elite-elite politik dalam mencoba men-“devide at impera” partai-partai pengusung Anies Baswedan. Pertama, “intimidasi”. Kedua, “iming-iming” atau godaan.

Dari serentetan peristiwa yang menimpa elite-elite Nasdem akhir-akhir ini, tampaknya dugaan “intimidasi” dari ‘invisible hands” atau tangan-tangan tak kelihatan tak dapat dinafikan.

Adapun iming-iming-nya antara lain godaan kepada Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) untuk menjadi cawapres bagi capres selain Anies. Padahal bisa saja itu cuma godaan belaka. 

Iming-iming inilah yang tampaknya memicu ketidaksabaran elite-elite Demokrat yang kemudian mendesak agar cawapres bagi Anies segera diumumkan, disertai ‘ancaman” akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap keberadaan KPP.

Elite-elite Nasdem pun tak kalah garang. Mereka mempersilakan jika Demokrat hendak hengkang dari KPP.

Saling Intai

Nasdem selaku deklarator Anies capres sudah menyerahkan penentuan cawapres ke mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu. Lalu mengapa Anies tak kunjung mengumumkan cawapresnya?

Ini terkait dengan strategi politik. Kata Sun Tzu (544-496 SM), strategi adalah senjata utama dalam perang.

Belanda masih jauh. Pendaftaran capres baru dibuka 19 Oktober mendatang. Anies mungkin masih “wait and see”, menunggu dan melihat siapa sosok cawapres yang akan mendampingi capres kubu sebelah. Ini penting untuk menakar kekuatan dan kelemahan lawan, sehingga cawapres yang akan dipilih pun yang bisa mengimbangi kekuatan lawan tersebut. 

Dalam konteks yang sama, kubu sebelah pun tak kunjung mengumumkan siapa sosok cawapresnya, baik Prabowo Subianto ataupun Ganjar Pranowo.

Akhirnya kedua atau ketiga kubu itu dalam posisi saling mengintai kekuatan dan kelemahan kubu lawan. Mereka saling mengunci. 

Inilah yang tampaknya kurang mendapat perhatian elite-elite partai itu sehingga mereka terlibat perselisihan internal dengan saling membuka front. Padahal, kalau terus-menerus terlibat pertikaian internal, KPP bisa pecah dan kemudian bubar. Anies Baswedan pun terancam tak beroleh tiket capres di Pilpres 2024.

Pihak-pihak yang bertikai itu pun akan “sampyuh”, istilah dalam bahasa Jawa yang artinya sama-sama mati.

Mereka ibarat “rebut balung tanpa isi” atau berebut tulang tanpa sumsum. Sebab yang selama ini mereka perebutkan ternyata tidak ada isinya, karena Anies Baswedan akhirnya tidak mendapatkan tiket capres Pilpres 2024. Maka sia-sialah perjuangan mereka selama ini, terutama Anies Baswedan.

Kalau kemungkinan buruk ini benar-benar terjadi, yakni Anies Baswedan gagal mendapatkan tiket capres, lalu siapa yang harus bertanggung jawab? Silakan timbang untung dan ruginya, manfaat dan mudaratnya. 

Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

KPK Sedang Selidiki 6 Pejabat Menyusul Klarifikasi LHKPN

Next Post

Keputusan MK Soal Pemilu System Proporsional Tertutup

Karyudi Sutajah Putra

Karyudi Sutajah Putra

Related Posts

Aktivis 98 Kutuk Teror Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus
Birokrasi

Vonis Kasus Andrie Yunus: Pelanggengan Impunitas dan Remiliterisasi

June 12, 2026
IPW Apresiasi Polda Metro Jaya Ungkap 141 Kasus Curanmor dalam Sebulan
Birokrasi

IPW Apresiasi Polda Metro Jaya Ungkap 141 Kasus Curanmor dalam Sebulan

June 12, 2026
IPW Desak Propam Polda Metro Jaya Sidangkan Penyidik Polres Depok
Birokrasi

IPW Sarankan Judicial Review ke MK Jika Tak Puas dengan UU Polri Baru

June 12, 2026
Next Post
Mahkamah Konstitusi (MK)  Besok Menggelar Rapat Pleno Hakim Untuk Pilih  Ketua dan Wakil Ketua MK  

Keputusan MK Soal Pemilu System Proporsional Tertutup

Kishida Ambil Langkah-langkah Baru Untuk Medongkrak Angka Kelahiran Yang Menurun di Tengah Rumor Pemilu

Kishida Ambil Langkah-langkah Baru Untuk Medongkrak Angka Kelahiran Yang Menurun di Tengah Rumor Pemilu

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Aktivis 98 Kutuk Teror Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus
Birokrasi

Vonis Kasus Andrie Yunus: Pelanggengan Impunitas dan Remiliterisasi

by Karyudi Sutajah Putra
June 12, 2026
0

Jakarta - FusilatNews.--Pengadilan Militer II-08 Jakarta akhirnya menjatuhkan vonis terhadap empat personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) setelah terbukti melakukan penyiraman...

Read more
IPW Desak Propam Polda Metro Jaya Sidangkan Penyidik Polres Depok

IPW Sarankan Judicial Review ke MK Jika Tak Puas dengan UU Polri Baru

June 12, 2026

Siapa SA Anggota DPR RI dari Madura yang Diduga Jual-Beli Titik MBG?

June 9, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Menantang Prabowo: Bangsa ‘Besar’ yang Devisanya Terkikis Impor

Gagal Berkali-kali, Ketika Jadi Presiden Gagal Lagi

June 12, 2026
Macet Sampi 19 Kilometer, Hingga Pemudik di Pelabuhan Merak Pingsan

Negara Jadi Pedagang, Rakyat Jadi Pelanggan: Untuk Apa Kita Memiliki Pemerintah?

June 12, 2026
Per 1 September 2023 Pertamina Naikkan Semua Harga BBM Non Subsidi

Kenaikan BBM dan Momentum Kerakusan

June 12, 2026

REVOLUSI KEDUA DAN UJIAN MORAL PARA VETERAN

June 12, 2026

SURAT TERBUKA UNTUK NANIK S. DEYANG Membangun Generasi, Memperkuat Negara

June 12, 2026
Aktivis 98 Kutuk Teror Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus

Vonis Kasus Andrie Yunus: Pelanggengan Impunitas dan Remiliterisasi

June 12, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Menantang Prabowo: Bangsa ‘Besar’ yang Devisanya Terkikis Impor

Gagal Berkali-kali, Ketika Jadi Presiden Gagal Lagi

June 12, 2026
Macet Sampi 19 Kilometer, Hingga Pemudik di Pelabuhan Merak Pingsan

Negara Jadi Pedagang, Rakyat Jadi Pelanggan: Untuk Apa Kita Memiliki Pemerintah?

June 12, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist