• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Merasa di Aniaya RRT: Tubuh di Panggung, Hukum di Belakang: Playing Victim Seorang yang Tak Pernah Hadir di Pengadilan

Ali Syarief by Ali Syarief
February 2, 2026
in Feature, Tokoh/Figur
0
Titik Uji PSI 2029:  Bila Menang Diserang – Gagal Lemah
Share on FacebookShare on Twitter

“Dalam keadaan sakit pun ambisinya masih menggelora.”
“Sudah pernah jadi pengusaha, wali kota, gubernur, presiden.”
“Anaknya wakil presiden, mantunya gubernur, anak bungsunya ketua partai.”

Fusilatnews – Dalam kondisi sakit—wajah ancur, tubuh ringkih, langkah tertatih—ia justru semakin rajin tampil.
Naik panggung.
Berfoto.
Menerima tamu.
Hadir ke mana-mana.

Ke semua tempat yang ada kamera.
Kecuali satu: pengadilan.

Di titik ini, publik berhak bertanya: mengapa orang yang mengaku masih “sanggup” berdiri di panggung politik, selalu tak sanggup berdiri di depan hukum?

Jawabannya pelan-pelan menjadi jelas. Ini bukan soal kesehatan. Ini soal strategi. Jokowi sedang menjalankan satu manuver klasik dalam politik kekuasaan: playing victim—menggeser posisi dari subjek yang harus dimintai pertanggungjawaban, menjadi objek yang patut dikasihani.

Di panggung PSI, ia bukan hadir sebagai pendukung partai. Ia tampil sebagai terdakwa tanpa sidang—seseorang yang merasa diadili opini publik, tapi menolak forum resmi peradilan. Ia mengulang-ulang kalimat yang sama, dengan suara parau dan gestur letih:

“Saya masih sanggup.”
“Saya masih sanggup.”
“Saya masih sanggup.”

Kalimat itu terdengar seperti pembelaan. Bukan pembelaan di hadapan hakim, tentu saja, melainkan di hadapan kamera. Sebab di pengadilan, pembelaan harus diuji. Di panggung politik, ia cukup dipentaskan.

Di sinilah metafora hukum bekerja dengan telanjang:
ia ingin simpati juri publik, tanpa pernah mau masuk ruang sidang.

Ia merasa “dianiaya” oleh kritik Rismon, Roy, dan Tifa. Merasa dihina, direndahkan, diserang—terutama karena ia sedang sakit. Tapi dalam hukum, rasa tersinggung bukan dalil. Dalam keadilan, air mata bukan bukti. Yang diuji bukan perasaan, melainkan perbuatan.

Dan justru karena itulah pengadilan selalu dihindari.

Panggung memberi ruang narasi tunggal.
Pengadilan memaksa dialog dua arah.
Panggung memproduksi empati.
Pengadilan menuntut pertanggungjawaban.

Maka sakit pun akhirnya dijadikan alat bukti palsu: bukan untuk mencari kebenaran, melainkan untuk menggugurkan kritik. Seolah siapa pun yang bertanya dianggap tidak manusiawi karena “orangnya sedang sakit”.

Padahal publik melihat hal lain.

Alih-alih iba, yang muncul justru sinisme:

“Dalam keadaan sakit pun ambisinya masih menggelora.”
“Sudah pernah jadi pengusaha, wali kota, gubernur, presiden.”
“Anaknya wakil presiden, mantunya gubernur, anak bungsunya ketua partai.”

Jika hukum punya istilah ne bis in idem—tak bisa diadili dua kali untuk perkara yang sama—maka publik punya istilah sendiri: tak pernah cukup.

Inilah paradoksnya:
di panggung, ia mengaku kuat;
di hadapan hukum, ia selalu absen.

Di politik, ia masih sanggup;
di pengadilan, ia selalu tak siap.

Seorang negarawan sejati akan membiarkan hukum berjalan, meski pahit. Tapi yang kita saksikan hari ini adalah figur yang lebih nyaman menjadi korban narasi ketimbang subjek pertanggungjawaban. Playing victim bukan sekadar gaya komunikasi—ia telah menjadi tameng hukum.

Dan yang paling luar biasa—atau justru paling mengerikan—adalah ini:
bahkan sakit pun kini diproduksi sebagai komoditas politik.

Tubuh yang ringkih menjadi argumen.
Gesture tertatih menjadi pembelaan.
Suara parau menjadi alibi.

Dunia, bagi figur ini, seolah tak pernah cukup. Kekuasaan sudah diraih, keluarga sudah diamankan, panggung masih dikejar. Dan satu-satunya batas yang tampak bukanlah etika, bukan hukum, melainkan mati.

Sejarah kelak tak bertanya seberapa sakit ia di panggung.
Sejarah akan bertanya: mengapa ia selalu absen ketika hukum memanggil?

Dan itu pertanyaan yang tak bisa dijawab dengan simpati.

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

GABAH DISERAP, PETANI TERJERAT: Menggugat Kebijakan “Any Quality” ala Bulog

Next Post

Ketika Ketaatan Disalahpahami, Rumah Menjadi Neraka

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Feature

Repositioning IKIP in Indonesia’s Learning Ecosystem

June 16, 2026
Feature

Divided education is failing Muslim Societies

June 16, 2026
DPR dan BGN Belum Berubah
Feature

DPR dan BGN Belum Berubah

June 16, 2026
Next Post
Ketika Ketaatan Disalahpahami, Rumah Menjadi Neraka

Ketika Ketaatan Disalahpahami, Rumah Menjadi Neraka

Siapa yang Dimaksud Tokoh Oposisi Itu?

Siapa yang Dimaksud Tokoh Oposisi Itu?

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tangkap Tiyo Ardianto!
Feature

Tangkap Tiyo Ardianto!

by Karyudi Sutajah Putra
June 16, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta -  Dalam hati mungkin Tiyo Ardianto memang ingin...

Read more
Mahasiswa Memasuki Kawasan Monas Teriak Jokowi Offside

Ketika Mahasiswa Sudah Muak Lihat Pejabat Negara

June 16, 2026
Idrus Marham dan Kebangkrutan Moral

Idrus Marham dan Kebangkrutan Moral

June 15, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Repositioning IKIP in Indonesia’s Learning Ecosystem

June 16, 2026

Divided education is failing Muslim Societies

June 16, 2026
DPR dan BGN Belum Berubah

DPR dan BGN Belum Berubah

June 16, 2026

Ketika Organisasi Tua Masih Peduli pada Dapur Bangsa (Membaca Surat Terbuka KOSGORO tentang Makan Bergizi Gratis)

June 16, 2026
Forum Sarasehan KOSGORO Sampaikan Delapan Rekomendasi Penguatan Program Makan Bergizi Gratis kepada Presiden

Forum Sarasehan KOSGORO Sampaikan Delapan Rekomendasi Penguatan Program Makan Bergizi Gratis kepada Presiden

June 16, 2026

PRABOWO PERLU MENGUMUMKAN NATIONAL CONTINGENCY PLAN

June 16, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Repositioning IKIP in Indonesia’s Learning Ecosystem

June 16, 2026

Divided education is failing Muslim Societies

June 16, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist