• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Meritokrasi Itu Sunatullah: Mengapa Kita Masih Memelihara “Logika Iblis”?

fusilat by fusilat
January 30, 2026
in Feature
0
Share on FacebookShare on Twitter

By Paman BED

Indonesia sesungguhnya tidak pernah kekurangan aturan tentang meritokrasi. Kita rajin—bahkan gemar—menyusun regulasi, pedoman, indikator kinerja, dan mekanisme seleksi yang tampak modern serta rapi. Di atas kertas, semuanya terlihat ideal, progresif, dan beradab.

Masalahnya bukan pada absennya aturan, melainkan pada ketiadaan keberanian untuk menegakkannya.

Kita hidup di sebuah panggung sandiwara birokrasi, di mana kedekatan lebih dihargai daripada kecakapan, dan loyalitas personal lebih mahal daripada integritas. Kritik diperlakukan sebagai ancaman, bukan sebagai vitamin perbaikan. Akibatnya, meritokrasi hanya tinggal slogan administratif—indah dibaca, hampa dijalankan.

Di balik spanduk reformasi dan jargon profesionalisme, sistem perlahan membusuk oleh nepotisme yang dibungkus rapi dengan istilah “harmoni”, “kebersamaan”, dan “kekeluargaan”.


“Ana Khairun Minhu”: Logika Kuno yang Tak Pernah Mati

Akar persoalan ini sesungguhnya sangat tua—setua sejarah penciptaan manusia itu sendiri.

Dalam QS. Al-A’raf ayat 12, Iblis menolak perintah Tuhan bukan karena ia tidak memahami keutamaan Adam, melainkan karena merasa lebih mulia:

“Aku lebih baik darinya. Engkau ciptakan aku dari api, dan dia dari tanah.”

Inilah cikal bakal kesombongan struktural: merasa superior bukan karena kualitas, melainkan karena asal-usul.

Hari ini, kalimat itu tidak lagi diucapkan dalam bahasa langit. Ia menjelma dalam ungkapan-ungkapan yang sangat akrab di telinga kita:

  • “Dia orang dekatnya bos di sini.”

  • “Dia itu bukan orang kita.”

  • “Yang penting loyal dulu, urusan kompetensi belakangan.”

Kita menilai manusia bukan dari kapasitas dan kontribusinya, melainkan dari garis kedekatan, label sosial, dan silsilah relasi. Kemuliaan diukur dari “bahan dasar”, bukan dari kualitas kerja.

Inilah logika Iblis yang hidup kembali di meja-meja birokrasi modern.


Menabrak Sunatullah, Menjemput Kehancuran

Sunatullah adalah hukum sosial yang dingin dan adil. Ia tidak mengenal kompromi emosional. Ia tidak peduli seberapa fasih doa dilafalkan, jika tindakan bertentangan dengan prinsip sebab-akibat.

Ketika jabatan diberikan bukan kepada yang kompeten, melainkan kepada yang dekat, maka kegagalan bukanlah musibah—melainkan keniscayaan.

Banyak negara maju bukan karena mereka lebih religius, melainkan karena mereka lebih patuh pada sunatullah meritokrasi: menempatkan orang sesuai kapasitas, memberi ruang pada kritik, dan menutup pintu bagi nepotisme.

Sebaliknya, kita sering sibuk mengecat dinding bangunan yang sudah miring, berharap keajaiban datang lewat doa, sambil menolak memperbaiki pondasi. Ini bukan optimisme—ini ilusi yang dipelihara bersama.


Tragedi Orang Baik yang Diam

Namun kesalahan tidak berhenti pada mereka yang rakus kekuasaan. Ada tragedi lain yang jauh lebih sunyi: diamnya orang-orang baik.

Orang-orang kompeten yang memilih bungkam demi kenyamanan.
Profesional yang tahu sistem salah, tetapi memilih aman.
Mereka yang paham, tetapi enggan bersuara.

Diamnya orang baik adalah pupuk paling subur bagi tumbuhnya kesombongan struktural.

Sejarah membuktikan: kehancuran sebuah bangsa jarang disebabkan oleh terlalu banyak orang jahat, tetapi oleh terlalu banyak orang baik yang memilih menjadi penonton sopan saat sistem diselewengkan.


Penutup: Cermin untuk Nurani

Meritokrasi bukan sekadar teknik manajemen sumber daya manusia. Ia adalah pengejawantahan keadilan ilahiah dalam kehidupan sosial.

Menempatkan orang yang tidak kompeten demi balas budi politik atau kekerabatan bukan sekadar kesalahan administratif—itu adalah bentuk pembangkangan terhadap sunatullah.

Sejarah selalu konsisten: organisasi runtuh bukan karena kekurangan orang pintar, melainkan karena orang-orang pintar disingkirkan atau memilih menyingkir.

Pengalaman organisasi modern menunjukkan hal yang sama. Banyak perusahaan keluarga yang mayoritas saham dan kepemimpinannya diwariskan turun-temurun hanya mampu bertahan satu atau dua generasi sebelum akhirnya bangkrut. Sebaliknya, perusahaan yang bertumpu pada meritokrasi—seperti Honda dan banyak korporasi global lain—mampu bertahan, beradaptasi, dan terus maju lintas zaman.

Jika logika ini berlaku pada perusahaan, bagaimana jika yang dipertaruhkan adalah sebuah negara?
Jawabannya bahkan tak membutuhkan perenungan panjang.

Maka pertanyaannya kini bukan lagi soal sistem, melainkan soal keberanian moral:
Apakah kita ingin menjadi Adam—rendah hati dengan ilmu dan tanggung jawab,
atau menjadi bagian dari barisan Iblis—merasa paling benar karena memegang stempel kekuasaan?


Catatan Reflektif

  • Hentikan pemujaan terhadap orang dekat kekuasaan.

  • Rayakan kritik, bukan penjilat.

  • Jangan bangga menjadi penonton yang aman.

  • Integritas yang diam hanyalah kesombongan yang menyamar.


Referensi

  • Al-Qur’an: QS. Al-A’raf: 12; QS. Shad: 76; QS. Al-Ahzab: 62

  • Muthahhari, M. Masyarakat dan Sejarah

  • Young, M. The Rise of the Meritocracy

  • Al-Attas, S. M. N. Islam and Secularism

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Kejagung Geledah Rumah Eks Menteri KLHK Siti Nurbaya Terkait Dugaan Korupsi Tata Kelola Sawit

Next Post

Aktivis, Advokat, Bukan Penyelenggara Negara: Kekeliruan Fatal Ahmad Khozinudin dalam Membaca Hukum

fusilat

fusilat

Related Posts

Feature

Idul Adha dan Kualitas Bangsa: Kritik Teologis untuk Elite Pemimpin

May 27, 2026
Sejarah Melempar Jumrah Saat Haji dan Umroh
Feature

Ka’bah, Tradisi Pagan, dan Cara Agama Mengubah Makna Sejarah

May 27, 2026
Feature

Dari Sexy Killer ke Pesta Babi

May 26, 2026
Next Post

Aktivis, Advokat, Bukan Penyelenggara Negara: Kekeliruan Fatal Ahmad Khozinudin dalam Membaca Hukum

Hortikultura di Lereng Maut: Alarm Tata Ruang Jawa Barat yang Diabaikan

Hortikultura di Lereng Maut: Alarm Tata Ruang Jawa Barat yang Diabaikan

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Evakuasi 380 WNI dari Iran Akan Lewat Jalur Darat, Pemerintah: Wilayah Udara Tidak Bisa Dilewati
Birokrasi

Indonesia Kutuk Israel: Mengapa Kak Sugiono Kebakaran Jenggot?

by Karyudi Sutajah Putra
May 25, 2026
0

Jakarta - Fusilatnews -Indonesia dan tujuh negara lain mengutuk keras tindakan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir dan pasukan Israel...

Read more
Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

May 24, 2026
Aliansi Melawan Rezim Deformasi: Militerisme Bangkit, Reformasi Mati

Aliansi Melawan Rezim Deformasi: Militerisme Bangkit, Reformasi Mati

May 21, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Idul Adha dan Kualitas Bangsa: Kritik Teologis untuk Elite Pemimpin

May 27, 2026
Sejarah Melempar Jumrah Saat Haji dan Umroh

Ka’bah, Tradisi Pagan, dan Cara Agama Mengubah Makna Sejarah

May 27, 2026

Dari Sexy Killer ke Pesta Babi

May 26, 2026

Ekosistem Hukum yang Bolong (Ketika Pengawasan Internal Tidak Akan Pernah Cukup Jika Lingkungan Hukumnya Masih Memelihara Celah)

May 26, 2026
KPK Memble Hadapi Dirjen Bea Cukai? Publik Menunggu Nyali Penegakan Hukum

KPK Memble Hadapi Dirjen Bea Cukai? Publik Menunggu Nyali Penegakan Hukum

May 26, 2026
KPAI Desak Polisi Bongkar Tuntas Dugaan Prostitusi Anak di Lokasari, Soroti Jaringan dan Perlindungan Korban

KPAI Desak Polisi Bongkar Tuntas Dugaan Prostitusi Anak di Lokasari, Soroti Jaringan dan Perlindungan Korban

May 26, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Idul Adha dan Kualitas Bangsa: Kritik Teologis untuk Elite Pemimpin

May 27, 2026
Sejarah Melempar Jumrah Saat Haji dan Umroh

Ka’bah, Tradisi Pagan, dan Cara Agama Mengubah Makna Sejarah

May 27, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...