Jakarta, Fusilatnews – Nabi Muhmamad SAW diutus Allah SWT ke dunia ini untuk menyempurnakan akhlak manusia. “Beliau adalah uswatun hasanah (suri teladan yang baik), sehingga tidak ada yang mengalahkan mulianya akhlak beliau,” kata Dr KH Usman Umar MA dalam ceramahnya pada acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H di sebuah tanah lapang di wilayah RT 002 RW 09 Kelurahan Kebayoran Lama Utara, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Sabtu (11/10/2025) malam.
Tampil sebagai qari atau pembaca ayat suci Al Quran adalah Dr KH Bukhari Muslim SQ MH, Imam Besar Masjid Agung Al Azhar, Jakarta.
Nabi Muhammad SAW, kata KH Usman Umar, dilahirkan sekitar tahun 571 Masehi di Arab di mana saat itu adalah zaman jahiliyah (kegelapan).
“Di Barat ada negara Romawi yang jahiliyah. Ada kitab suci dan ada undang-undang, tetapi Romawi adalah jahiliyah. Di Timur ada Persia (kini Iran, red) yang juga jahiliyah. Ada kitab suci dan undang-undang, tapi Persia jahiliyah. Di tengah-tengah Barat dan Timur ada bangsa Arab yang jahiliyah. Tak ada kitab suci, tak ada undang-undang. Wanita diperlakukan hanya sebagai pemuas nafsu belaka. Bahkan kalau punya anak perempuan, itu dianggap aib, sehingga dibunuh,” jelasnya.
Nah, kata Kiai Usman, saat itulah Nabi Muhammad SAW lahir, dan kelahiran Rasulullah itu sudah didesain Allah sedemikian rupa. “Nabi Muhammad lahir tidak didampingi ayahnya, Abdullah yang telah meninggal dunia. Tak berapa lama, saat Nabi Muhammad masih kecil, giliran ibunya, Siti Aminah meninggal dunia. Ternyata itu dimaksudkan Allah agar akhlak Rasulullah tidak terkontaminasi akhlak ayah dan ibunya yang hidup di zaman jahiliyah, sehingga akhlak Rasulullah adalah akhlak terbaik di dunia ini, sesuai kehendak Allah SWT,” paparnya.
Dengan akhlak terbaik itulah, kata Kiai Usman, Nabi Muhmamad SAW diutus ke dunia ini untuk memperbaiki akhlak manusia melalui keteladanan yang baik atau uswatun hasanah.
“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR Al Baihaqi).
Sebab itu, kata Kiai Usman, Allah SWT sangat memuliakan Nabi Muhammad SAW, sehingga tak pernah menyebut Nabi Muhammad dengan sebutan nama langsung, tetapi dengan gelar atau kedudukannya, misalnya ya Rasulullah. “Bahkan dalam sebuah hadits Qudsi, Allah SWT berkata, kalau bukan karena engkau Muhammad, tidak Aku ciptakan dunia ini beserta isinya,” terangnya.
Di kemudian hari, Nabi Muhammad SAW menjadi tokoh terbesar di dunia ini, yang tidak hanya diakui oleh umatnya, yakni umat Muslim, tetapi juga diakui umat-umat agama lain.
“Beliau adalah manusia paling hebat di dunia ini, yang malam ini kita peringati kelahirannya. Marilah kita ikuti Rasulullah yang kelak akan memberi syafaat bagi kita semua, sehingga kita akan masuk surga bersama beliau yang kita cintai. Amin,” tandasnya.























