Fusilatnews – Ada orang-orang yang lebih dulu percaya sebelum sempat berpikir. Mereka datang ke pengajian bukan untuk menguji logika, tetapi menaruh harapan. Harapan itu kerap kali dibungkus dalam amplop amal, receh keajaiban, atau nama yang disebut-sebut sebagai “ulama karismatik.” Di situ, pada posisi yang tinggi, berdiri Yusuf Mansur.
Saya ingat ceramahnya yang viral itu. Di hadapan jamaah, ia berkata, “Pokoknya kalau dikasih tahu sama Kyai, udah siap, gitu aja.” Kalimat itu tak panjang, tapi menyimpan banyak luka. Seolah logika tak punya tempat. Yang ada hanya kepatuhan, lalu dompet terbuka. Tak ada ruang untuk bertanya. “Saya mengerti, Ustaz. Tapi berarti lu nggak ngerti,” ujarnya pada jamaah yang mungkin mulai ragu.
Yusuf Mansur bukan sekadar ustaz. Ia adalah figur yang menjanjikan ‘jalan pintas’ menuju rezeki. “Sedekah hari ini, maka besok akan dibalas berlipat ganda.” Begitulah kira-kira premis dari sekian banyak tausyiahnya. Di dalam ceramah yang lain, ia bertanya kepada para hadirin, “Siapa yang punya tabungan?” Tak ada yang berani angkat tangan. Ia lanjut, “Baik, kalau enggak ada yang punya tabungan, bikin saja jadi nol. Sekarang saya minta sedekah Rp5 juta. Itu berarti Rp500 ribu per bulan selama setahun. Kita hitung mundur: sepuluh juta setahun.”
Tak ada pembahasan tentang kebutuhan anak sekolah, dapur yang harus mengepul, atau motor yang belum lunas. Yang ada hanya angka, angka, dan angka. Jamaah didorong bukan dengan pencerahan spiritual, tapi tekanan target donasi.
Banyak yang mengutip twit saya, menyebut Yusuf Mansur sebagai “ustaz penipu.” Tuduhan itu tak datang tiba-tiba. Padahal mentwit m, “Berbagai bantahan Yusuf Mansur tidak akan mengubah stigma ustaz penipu, bila uang-uang para nasabah tidak dikembalikan.” Ia menunjuk pada program-program investasi patungan yang tak pernah jelas ujungnya. Patungan usaha, patungan hotel, patungan Qur’an. Sejak 2013, banyak orang menanti pengembalian dana, tapi yang datang hanya janji-janji.
Tapi Yusuf Mansur, dalam banyak wawancara, selalu menjawab dengan satu kalimat, “Silakan bawa ke ranah hukum. Saya siap bertanggung jawab.” Namun siapa yang mau menggugat ulama? Dalam tradisi kita, mempersoalkan ustaz bisa dianggap mempersoalkan agama itu sendiri.
Di titik ini, keimanan dan kemiskinan berjumpa. Jamaah miskin, berharap kaya. Ustaz kaya, meyakinkan bahwa jalan Tuhan bisa dipesan lewat rekening bank. Maka agama menjelma menjadi transaksi. Doa menjadi utang. Sedekah menjadi cicilan.
Dan pada akhirnya, satu demi satu jamaah pergi. Bukan karena mereka kehilangan iman, tapi karena merasa ditinggalkan oleh akal sehat. Ada yang kehilangan motor, emas, bahkan tanah. Semua demi mimpi tentang rezeki yang ‘ajaib’. Tapi ketika mimpi itu tak kunjung datang, mereka sadar: mungkin ini bukan agama, tapi ilusi.
Saya tidak sedang menghakimi. Saya hanya mencatat. Sebab dalam sejarah spiritual kita, terlalu sering kita jumpai orang-orang yang berpakaian agama, tetapi menjajakan harapan palsu. Dan yang paling menyedihkan adalah: mereka tetap bisa bicara di mimbar, seolah tak pernah bersalah.
Umat memang pemaaf. Tapi kadang, kepergian jamaah adalah bentuk paling sunyi dari sebuah protes.




















