Fusilatnews – Ada yang ganjil dari suasana peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni kemarin. Ganjil tapi tidak mengejutkanāsebuah paradoks yang hanya bisa lahir di republik yang katanya berdiri di atas dasar-dasar kebijaksanaan dalam permusyawaratan. Presiden Prabowo hadir dan berbicara. Pidatonya singkat dan penuh harapan, seperti biasanya. Namun dua pendahulunya, Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo, hanya muncul lewat unggahan media sosial. Tak sepatah kata secara langsung, tak selembar tatap muka, bahkan tak setengah menit duduk berdampingan.
Sunyi. Seperti senyapnya sila keempat dalam sidang-sidang DPR.
Apakah ini hanya persoalan jadwal? Ataukah, jangan-jangan, ini cerminan dari sebuah kenyataan getir: Pancasila tidak lagi menjadi rumah bersama para mantan pemimpin negeri ini?
Sukar untuk tidak curiga bahwa yang tidak hadir bukan hanya dua orang, tapi juga semangat yang konon diwariskan oleh pendiri bangsa: gotong royong, satu nusa, satu bangsa, satu bahasaādan satu panggung peringatan, setahun sekali. Jika Pancasila sungguh mempersatukan, mengapa ia tak mampu menyatukan ketiganya duduk bersisian, setidaknya demi simbol persatuan itu sendiri?
Bayangkan sejenak: Pancasila, berdiri gagah di podium, menatap kursi kosong. Ia mungkin berkata dalam hati: “Apakah aku ini hanya jargon di pidato, pasal dalam UUD, dan mural di dinding sekolah?”
Sementara itu, di dunia nyata, SBY mungkin sibuk merenungi posisinya sebagai mantan jenderal yang kini lebih sering bersuara lewat puisi digital. Jokowi pun barangkali lebih sibuk terpojok oleh tuduhan ijazah palsu dari seantero publik yang penasaran: mengapa ijazahnya tak pernah diperlihatkan, bahkan dalam era keterbukaan yang ia sendiri gembar-gemborkan? Dua mantan presiden itu seolah lebih nyaman di balik layar twit, ketimbang bersalaman simbolik di hadapan rakyat yang mereka dulu pimpin.
Bukankah Pancasila seharusnya menjadi panggilan jiwa, bukan sekadar konten media sosial?
Ironi ini sempurna. Peringatan yang bertujuan memperingati persatuan justru menjadi panggung yang menunjukkan betapa persatuan itu rapuh, bahkan di antara para negarawan teratas. Apakah mereka segan datang karena ada luka lama? Atau karena belum bisa menerima arah baru? Atau sekadar karena panggung Prabowo bukan panggung mereka?
Tak ada yang tahu pasti, sebab tidak ada yang mau bicara.
Tapi rakyat paham. Dalam diam, mereka melihat bahwa peringatan Pancasila hanya menjadi ritual tahunan, bukan perenungan kolektif. Sila demi sila dibaca dengan fasih, tapi tak pernah dipertemukan dalam tindakan. Yang bersatu hanya teks pidato, bukan para pemiliknya.
Pancasila memang lima. Tapi jika tak satu pun cukup untuk menyatukan tiga pemimpin bangsa, mungkin sudah waktunya kita bertanya ulang: Pancasila ini milik siapa?
Sebab kalau benar Pancasila tidak mampu mempertemukan Jokowi, SBY, dan Prabowo di hari kelahirannya sendiri, maka yang absen bukan cuma dua orang, melainkan juga harapan kita bahwa ideologi ini masih hidup dan bernapas di kalangan elite.
Atau barangkali Pancasila hanya berlaku untuk rakyat jelata: agar tetap rukun dalam antrean bansos dan cicilan KUR.





















