• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Birokrasi

Paradoks Keadilan: Mengapa yang Dipenjara Justru Mereka yang Mempertanyakan Ijazah Jokowi?

Ali Syarief by Ali Syarief
July 14, 2025
in Birokrasi, Crime, Feature
0
Patung Itu Menjadi Mirip Setelah Kena Alergi
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Indonesia adalah negara hukum—setidaknya begitulah yang tertera di dalam konstitusi. Namun, kenyataan di lapangan seringkali memperlihatkan paradoks yang menyakitkan. Betapa tidak, di tengah sorotan publik terhadap sejumlah indikasi pelanggaran hukum oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi), justru mereka yang mempertanyakan legalitas ijazah kepala negara itu yang berpotensi dipenjara.

Apakah ini ironi? Atau justru refleksi dari wajah asli hukum kita hari ini?

Fakta-fakta yang Tak Terjawab

Dalam masa dua periode pemerintahannya, Jokowi telah berkali-kali diterpa berbagai dugaan pelanggaran hukum yang nyata dan terang-terangan. Mulai dari:

  • Pelanggaran konstitusi dalam cawe-cawe politik, dengan ikut mengatur pencalonan anaknya sebagai wakil presiden, dibarengi dengan keputusan Mahkamah Konstitusi yang dipimpin oleh iparnya sendiri.
  • Penyalahgunaan kekuasaan dan sumber daya negara untuk kepentingan elektoral, seperti keterlibatan aparat negara dan penggunaan dana bansos demi mendongkrak suara kandidat tertentu.
  • Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang dipaksakan dengan anggaran jumbo, tanpa dasar hukum yang kuat dalam pembiayaan jangka panjang, dan justru membebani APBN.
  • Nepotisme akut yang menempatkan anak, menantu, hingga kolega dekat dalam posisi strategis, baik di pemerintahan maupun partai politik.
  • Perusakan ekosistem demokrasi, lewat pembungkaman suara kritis, intimidasi akademisi, serta kooptasi media dan ormas.

Bila kita berbicara secara objektif dan berlandaskan prinsip equality before the law, maka fakta-fakta tersebut seharusnya cukup menjadi dasar investigasi serius. Bahkan dalam sistem demokrasi yang sehat, seorang presiden pun tak boleh berada di atas hukum. Namun yang terjadi adalah sebaliknya.

Siapa yang Berani, Siap-siap Ditangkap

Di tengah berbagai skandal tersebut, muncul pertanyaan tentang keaslian ijazah Jokowi. Pertanyaan ini, entah benar atau tidak, seharusnya bisa dijawab dengan mudah oleh seorang pejabat publik: buka dokumen, tunjukkan bukti, selesai. Namun kenyataan justru mengerikan.

Orang-orang yang mempertanyakan keaslian ijazah tersebut malah dilaporkan, diancam UU ITE, bahkan ditangkap. Mereka dituding menyebarkan hoaks, mencemarkan nama baik, atau membuat keresahan publik.

Ini menciptakan preseden buruk: transparansi dipenjara, sedangkan kebohongan dilindungi.

Bagaimana mungkin sebuah negara yang mengklaim diri sebagai demokrasi, justru menghukum orang-orang yang meminta klarifikasi? Bukankah pertanyaan adalah bagian dari hak warga negara dalam mengawasi pemerintah?

Negara Hukum Rasa Kerajaan

Apa yang kita lihat hari ini mengarah pada praktik hukum yang elitis dan represif. Hukum tidak lagi menjadi alat keadilan, melainkan alat kekuasaan. Ia tajam ke bawah, tumpul ke atas. Ia galak terhadap rakyat biasa, tapi lunak terhadap penguasa dan kroninya.

Dalam konteks ini, pertanyaan tentang ijazah Jokowi bukan hanya soal administrasi pribadi, tetapi menjadi simbol dari krisis kepercayaan dan akuntabilitas publik. Ketika pertanyaan sederhana dijawab dengan penjara, maka negara ini sedang berjalan menuju otoritarianisme.

Penutup: Bukan Ijazah yang Jadi Masalah, Tapi Ketakutan Akan Kebenaran

Esai ini bukan untuk memvonis atau menuduh tanpa dasar. Tapi publik punya hak untuk bertanya, dan negara punya kewajiban untuk menjawab. Dalam sistem demokrasi, kekuasaan harus bisa dipertanggungjawabkan, bukan disakralkan. Sayangnya, yang terjadi hari ini justru kebalikannya: mereka yang mempertanyakan dipenjara, sementara mereka yang diduga melakukan pelanggaran hukum malah dikelilingi puja-puji.

Pertanyaannya sekarang: apa sebenarnya yang disembunyikan oleh negara hingga rakyat yang bertanya harus dibungkam?

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

WNI Kunjungan Kedua ke Eropa Kini Bisa Dapat Visa Schengen Multi-Entry

Next Post

Bangsa yang Tak Pernah Kenyang: Kapan Kita Merdeka dari Bansos Beras?

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Bulog Ke Depan : MEWUJUDKAN INTEGRASI KEBIJAKAN PANGAN NASIONAL
Economy

BERAS MELIMPAH KAPAN HARGANYA MURAH ?

June 2, 2026
Yasinta Moiwend dan Bahaya Menghakimi dari Jarak Jauh
Feature

Yasinta Moiwend dan Bahaya Menghakimi dari Jarak Jauh

June 2, 2026
Belajar Dari Negeri China – Sekarang Lebih Unggul dari Amerika Serikat – Untuk Prabowo
Bisnis

Diplomasi Angka Bodong: Ketika Kunjungan Presiden Dijual dengan Janji Investasi

June 2, 2026
Next Post
Bulog Pastikan Tak Ada Atribut Kampanye Pemilu dan Pilpres di Bansos Beras

Bangsa yang Tak Pernah Kenyang: Kapan Kita Merdeka dari Bansos Beras?

IPW Tuding Pemerintah Tidak Serius, Hanya  Seolah – olah Dalam Menindak Pelaku Judi Online

IPW Desak Kapolda NTT Bentuk Tim Investigasi Penghentian Penyelidikan Kasus Kematian Tak Wajar Gadis Axi

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Feature

Pancasila: Lahir untuk Mati!

by Karyudi Sutajah Putra
June 2, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Baru pada 2016 lalu Bung Karno mendapat...

Read more
Evakuasi 380 WNI dari Iran Akan Lewat Jalur Darat, Pemerintah: Wilayah Udara Tidak Bisa Dilewati

Indonesia Kutuk Israel: Mengapa Kak Sugiono Kebakaran Jenggot?

May 25, 2026
Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

May 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Bulog Ke Depan : MEWUJUDKAN INTEGRASI KEBIJAKAN PANGAN NASIONAL

BERAS MELIMPAH KAPAN HARGANYA MURAH ?

June 2, 2026
Yasinta Moiwend dan Bahaya Menghakimi dari Jarak Jauh

Yasinta Moiwend dan Bahaya Menghakimi dari Jarak Jauh

June 2, 2026
Belajar Dari Negeri China – Sekarang Lebih Unggul dari Amerika Serikat – Untuk Prabowo

Diplomasi Angka Bodong: Ketika Kunjungan Presiden Dijual dengan Janji Investasi

June 2, 2026
Simalakama Teddy Wijaya

Tinjauan Yuridis: Presiden Membayar Sendiri Kelebihan Biaya Perjalanan Dinas? Persoalannya Bukan pada Uangnya

June 2, 2026
PERINGATAN HARI LAHIR PANCASILA: PARADOKS KETIKA NEGARA BERJALAN DI JALUR LIBERAL-KAPITALISTIK

PERINGATAN HARI LAHIR PANCASILA: PARADOKS KETIKA NEGARA BERJALAN DI JALUR LIBERAL-KAPITALISTIK

June 2, 2026

Pancasila: Lahir untuk Mati!

June 2, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Bulog Ke Depan : MEWUJUDKAN INTEGRASI KEBIJAKAN PANGAN NASIONAL

BERAS MELIMPAH KAPAN HARGANYA MURAH ?

June 2, 2026
Yasinta Moiwend dan Bahaya Menghakimi dari Jarak Jauh

Yasinta Moiwend dan Bahaya Menghakimi dari Jarak Jauh

June 2, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist