Oleh: Damai Hari Lubis – Pengamat Kebijakan Umum Hukum dan Politik
(Edisi spesial menanggapi narasi Eggi Sudjana, sahabat aktivis)
Dalam tulisan “Mutiara Jumat, 21 Februari 2025”, Prof. Dr. H. Eggi Sudjana, SH., MSi, mengangkat kritik terhadap kepemimpinan Presiden RI ke-8, Prabowo Subianto (PS). Sebagai sahabat dan senior dalam aktivisme, penulis mengamati bahwa narasi Eggi memiliki muatan kompleks, bersandar pada fakta, data, serta konsep ketuhanan, konstitusi, dan moralitas.
Argumentasi Ilmiah Eggi
Narasi Eggi bersifat ilmiah karena selalu merujuk pada ayat-ayat suci Al-Qur’an untuk menyoroti kepemimpinan yang ideal dan prinsip kebijaksanaan. Dengan gaya penyampaian yang to the point, taktis, dan tetap tajam, Eggi membangun argumentasi yang kuat dalam menyoroti pernyataan PS yang memuji mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara berlebihan.
Dalam “Mutiara Jumat, 21 Februari 2025”, Eggi mengaitkan pujian berlebihan PS terhadap Jokowi dengan QS. Al-Baqarah 2:165, yang membahas tentang manusia yang mencintai sesuatu secara berlebihan hingga menyerupai cinta kepada Tuhan. Menurutnya, ada tiga elemen penting dalam ayat tersebut:
- Orang yang menyembah selain Allah sebagai tandingan-Nya.
- Orang yang mencintai sesuatu secara berlebihan hingga menyerupai cinta kepada Tuhan.
- Kesadaran akan azab Allah bagi mereka yang telah melakukan kesalahan ini.
Eggi mengajak bangsa ini, termasuk Presiden RI, untuk melakukan introspeksi terhadap tindakan yang tidak berlandaskan Kitabullah dan perlu diluruskan. Khusus bagi PS, ia mengkritik pernyataan “Hidup Jokowi!” yang diteriakkan dalam Harlah ke-17 Partai Gerindra di Sentul, 15 Februari 2025. Menurutnya, hal ini merupakan bentuk pemujaan berlebihan yang memiliki implikasi serius.
Tiga Persoalan Mendasar Menurut Eggi
- Prabowo telah memuji Jokowi secara berlebihan Eggi mengutip QS. Al-Jatsiyah 45:23, QS. Al-Hajj 22:52, dan QS. Thaha 20:120-121 yang menunjukkan bahwa hawa nafsu dapat menyesatkan seseorang. Ia menilai bahwa pujian berlebihan PS terhadap Jokowi menempatkan Jokowi di atas segala-galanya, hingga menafikan peran Tuhan dalam perjalanan politiknya.
- Prabowo telah melecehkan konstitusi dan rakyat Indonesia Eggi menilai bahwa PS telah mengabaikan putusan Mahkamah Konstitusi (MK), yang sebelumnya menyatakan bahwa kemenangan PS tidak terkait dengan cawe-cawe Jokowi maupun nepotisme. Namun, dengan pernyataan “Saya menang karena Jokowi”, PS secara tidak langsung menafikan putusan MK.
- Implikasi hukum dan moralitas Eggi menyoroti dugaan penyalahgunaan bansos yang mencapai Rp500 triliun sebagai faktor kemenangan PS. Selain itu, ia mengkritik putusan MK terkait usia Gibran yang belum memenuhi syarat sebagai cawapres, serta dugaan penggunaan ijazah palsu. Eggi menegaskan bahwa semua ini berpotensi membuat putusan MK batal demi hukum.
Kesimpulan dan Tantangan Eggi
Eggi menegaskan bahwa keterbukaan ini adalah cara Allah membongkar tipu daya Jokowi, PS, Gibran, dan para politisi busuk. Ia menantang pihak yang tidak setuju dengan argumennya untuk membantah dengan argumentasi, bukan dengan kekerasan.
Sebagai penulis yang mengenal Eggi secara pribadi, saya menilai bahwa ia adalah sosok intelektual yang berwawasan luas, berani menyuarakan kebenaran, serta konsisten terhadap nilai-nilai yang ia yakini. Eggi bukan hanya seorang akademisi, tetapi juga pejuang yang tak gentar dalam membela keadilan dan kebenaran.


























