Pernyataan klarifikasi yang diberikan Buro Happold pada akhir pekan ini jelas bertolak belakang dengan apa yang pernah diutarakan oleh Country Manager Buro Happold Indonesia Puspita Galih Resi pada 2020 silam. Dalam sebuah webinar IDx Channel pada 2 Juli 2020, Puspita menegaskan, JIS dibangun dengan standar FIFA.
Jakarta – Fusilatnews – Kegaduhan yang terjadi terkait ambisi pemerintah untuk merenovasi Jakarta International Stadium (JIS) dengan alasan agar memenuhi syarat untuk bisa menjadi venue kompetisi Piala Dunia FIFA-U17. Stadion rencananya segera direnovasi agar sesuai dengan standar FIFA
Awalnya Buro Happold Konsultan asing asal Inggris, mencopot portofolio proyek JIS di laman situs resmi pada Jumat (7/7), Tatapi sejak pada Sabtu (8/7), Buro Happold memasang kembali pada porto folionya pada Ahad (9/7) dengan narasi yang berbeda dari narasi pada porttofolio sebelumnya yang menegaskan JIS sesuai dengan Standar FIFA dicopot.
Perubahan narasi ini dilakukan Dalam pernyataan resminya, yang dirilis pada Ahad (9/7) dengan mengawali narasinya Buro Happold mengakui sebagai salah satu pihak yang terlibat dalam pembangunan JIS.
Tetapi , Buro Happold sebagai perusahaan jasa desain, rekayasa, dan konsultansi menyatakan tidak pernah diminta untuk mendesain stadion JIS dan tidak pernah pula mendesain stadion ini.
Buro Happold menyatakan, lingkup pekerjaan yang dilakukannya mencakup persiapan untuk pembuatan panduan desain (preparation of concept design guide), penilaian untuk soal teknis dan komersial (technical and commercial assessment), konsep rencana induk untuk area di sekitar stadion (concept masterplan for the surrounding area), serta peta jalan implementasi proyek (implementation roadmap).
“Buro Happold tidak ditugaskan untuk mendesain stadion dan tidak mendesainnya. Selain itu, perusahaan tidak terlibat dalam pembangunan selanjutnya,”
Selain itu, perusahaan ini mengaku tidak terlibat dalam pekerjaan konstruksi apa pun yang dilakukan kemudian. Mereka menjelaskan, pihak Jakarta Konsultindo (Jakkon) meminta Buro Happold hanya untuk membuat panduan desain (design guidelines) serta memberikan jasa konsultasi, mulai Desember 2018 hingga Maret 2019.
Selama masa pembuatan panduan itu, Buro Happold memastikan agar desain seluruh aspek yang berkaitan dengan standar FIFA terpenuhi. Berikutnya, setelah rangkaian pekerjaan di atas selesai dilakukan, Buro Happold diminta meninjau konsep desain yang dipersiapkan oleh pihak lain, yang dalam hal ini adalah konsultan yang ditunjuk Jakkon.
Hasil inspeksi, Buro Happold mengidentifikasi beberapa aspek yang ternyata tidak sesuai dengan panduan konsep desain orisinal dari Buro Happold. Temuan ini telah disampaikan oleh Buro Happold dalam surat terpisah.
“Buro Happold mengidentifikasi beberapa area ketidakpatuhan dengan panduan desain konsep aslinya. Selain laporan tersebut, area ketidakpatuhan ini juga disorot oleh Buro Happold melalui surat terpisah,” lanjutnya.
Pernyataan klarifikasi yang diberikan Buro Happold pada akhir pekan ini jelas bertolak belakang dengan apa yang pernah diutarakan oleh Country Manager Buro Happold Indonesia Puspita Galih Resi pada 2020 silam. Dalam sebuah webinar IDx Channel pada 2 Juli 2020, Puspita menegaskan, JIS dibangun dengan standar FIFA.
“Kalau dari desainnya sendiri, stadion ini berstandar FIFA. Kami memang menggunakan FIFA building guidelines, serta kami menggunakan standar dari AFC, juga mengenai technical recomendation and requirement-nya kami sesuaikan dengan FIFA,” kata Puspita.
Saat itu, Puspita juga menyebut, bahwa JIS adalah stadion khusus sepak bola pertama di Asia Tenggara dengan kapasitas mencapai 80 ribu tempat duduk. Menurutnya, stadion-stadion besar yang ada di Asia Tenggara saat ini masih memiliki trek atletik di sekitar lapangan sepak bola.
Bersama Jakkon, kata Puspita, Buro Happold mengerjakan juga desain dan perencanaan hospitality area seluas 35 ribu meter persegi di JIS. Karena menurutnya, FIFA mensyaratkan area seperti tersebut ada dalam sebuah stadion modern.
“Itu semua kami kerjakan baik desain dan perencanaanya denga Jakkon,” kata Puspita.
“Artinya memang (stadion) ini laik untuk (laga) final FIFA World Cup. Itu juga dengan adanya monitoring dan sebagainya, jadi memang itu semuanya standar FIFA, begitu juga dengan pengembangan kawasan lainnya itu berstandar internasional,” ujar Puspita menambahkan.

























