• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Economy

Petani Tekor, Negara Eksis: Paradoks Perberasan di Negeri Lumbung Pangan

Ir Entang Sastraatmaja by Ir Entang Sastraatmaja
August 2, 2025
in Economy, Feature
0
KEMANA ARAH KETAHANAN PANGAN KE DEPAN ?
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Entang Sastaatmadja – Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat

Paradoks adalah pernyataan atau situasi yang tampak bertentangan dengan logika atau intuisi, tetapi di baliknya terkandung kebenaran yang mengejutkan. Dalam konteks lebih luas, paradoks mencerminkan kontradiksi atau konflik laten antara kenyataan dan harapan. Lawan dari paradoks adalah harmoni—keadaan yang serasi, bersepakat, konsisten, dan saling mendukung.

Namun bagaimana bila paradoks itu justru merajalela dalam sektor yang seharusnya menjadi fondasi ketahanan nasional: pangan—tepatnya, perberasan?

Kita semua mafhum bahwa Indonesia adalah negeri agraris dengan komoditas utama berupa beras. Produksi beras kita diklaim terus meningkat, bahkan pemerintah sesumbar telah mencapai swasembada. Tapi ironisnya, semakin tinggi produksi, tidak serta merta membuat petani hidup sejahtera. Justru sebaliknya—petani tetap terjerembab dalam kemiskinan struktural yang menahun. Ini adalah paradoks perberasan yang menyakitkan.

Bagaimana mungkin, saat kita surplus beras, pemerintah justru membuka keran impor dengan angka mencengangkan? Bukankah logikanya surplus mestinya diikuti ekspor, bukan impor? Anehnya lagi, saat harga gabah anjlok di musim panen, harga beras di pasar justru melambung tinggi. Siapa yang menikmati keuntungan dari distorsi ini? Pasti bukan petani. Dan jelas bukan pula konsumen.

Seharusnya, peningkatan produksi beras menjadi jalan keluar dari kemiskinan petani. Namun itu hanya bisa terjadi bila pemerintah hadir—bukan sekadar sebagai penonton atau komentator—melainkan sebagai pengatur tata kelola perberasan yang profesional dan berpihak. Pemerintah memiliki kewenangan untuk menjamin harga gabah tetap menguntungkan petani saat panen tiba. Tapi pertanyaannya, mengapa itu tak dilakukan?

Pemerintah seperti membiarkan harga gabah jatuh bebas setiap musim panen, seolah tak punya instrumen kebijakan untuk menahannya. Padahal, dengan kekuatan regulasi yang dimiliki, semestinya harga gabah bisa dijaga agar tidak merugikan petani. Sebab bagi petani, musim panen adalah momentum hidup-mati, bukan sekadar rutinitas tahunan.

Yang lebih memprihatinkan, masalah ini terus berulang dan tak kunjung ada solusi konkret. Pemerintah berkali-kali gagal menstabilkan harga. Baik saat harga gabah anjlok maupun saat harga beras melambung. Bahkan intervensi langsung oleh Presiden Jokowi pun gagal menurunkan harga beras ke titik wajar.

Gabah murah, beras mahal. Inilah ironi ganda yang menyiksa petani sebagai produsen dan rakyat sebagai konsumen. Seandainya pemerintah bisa membuat harga gabah tinggi dan harga beras terjangkau, petani dan emak-emak di dapur akan sama-sama bersyukur. Tapi sayangnya, kenyataan berkata sebaliknya.

Lebih menyedihkan lagi, kini banyak petani tak lagi bisa menyimpan gabah hasil panennya seperti zaman dulu. Budaya lumbung perlahan menghilang, dan petani pun menjadi konsumen beras. Maka, dalam kondisi sekarang, mereka tak hanya rugi saat menjual gabah, tetapi juga harus membeli beras dengan harga selangit. “Sudah jatuh, tertimpa tangga.”

Salah satu solusi yang layak dipertimbangkan adalah transformasi peran petani: dari sekadar produsen gabah menjadi produsen beras. Artinya, petani perlu mengolah hasil panennya sendiri menjadi beras sebelum dijual. Dengan begitu, nilai tambah bisa dinikmati langsung oleh petani, bukan tengkulak atau pengusaha besar.

Paradoks perberasan ini harus segera diakhiri. Kita tidak butuh sekadar angka-angka surplus di atas kertas, tetapi sistem yang adil dan berpihak pada petani di lapangan. Sebab bila petani tetap menjadi pihak yang paling menderita dalam sistem pangan nasional, maka keberlanjutan pertanian kita akan benar-benar terancam.


 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Hasto Menatap Kursi Sekjen PDIP

Next Post

Mahalnya Kepala Hasto

Ir Entang Sastraatmaja

Ir Entang Sastraatmaja

Related Posts

Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional
Birokrasi

Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

April 19, 2026
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi
Feature

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

April 19, 2026
JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi
Feature

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

April 19, 2026
Next Post
Hasto Kristiyanto Apresiasi Ketulusan Hatinya Maruf Amin Ucapkan Selamat Ulang Tahun PDIP

Mahalnya Kepala Hasto

MANIFESTO PETA JALAN MENYELAMATKAN MASA DEPAN INDONESIA

MANIFESTO PETA JALAN MENYELAMATKAN MASA DEPAN INDONESIA

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi
Feature

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

by Karyudi Sutajah Putra
April 19, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Jusuf Kalla (JK) sudah membuka front pertempuran....

Read more
JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

April 19, 2026
Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

April 17, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

April 19, 2026
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

April 19, 2026
MMS Sambut Baik Langkah Kementerian Kebudayaan Sederhanakan Proses Dana Indonesia Raya 2026

MMS Sambut Baik Langkah Kementerian Kebudayaan Sederhanakan Proses Dana Indonesia Raya 2026

April 19, 2026
JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

April 19, 2026
Saat Rakyat Menggemakan ‘Adili Jokowi’, Prabowo Teriak ‘Hidup Jokowi’: Loyalitas Kepada Siapa?

Presiden Harus Optima Prima: Antara Kekuasaan dan Kesadaran

April 19, 2026
Silaturahmi yang Terlupakan, Kekuatan yang Dijalankan Orang Lain

Silaturahmi yang Terlupakan, Kekuatan yang Dijalankan Orang Lain

April 19, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

April 19, 2026
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

April 19, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...