Kemarin saya niatnya saleh banget: tidak mau nonton pidato Pak Prabowo. Bukan apa-apa, takut iman saya goyah. Tapi apalah daya, teknologi lebih sakti dari niat. Dimatikan satu channel, nongol di channel lain. Tutup YouTube, muncul di TikTok. Seperti iklan obat kuat yang tak tahu diri, wajahnya mengejar ke mana-mana.
Awalnya, saya ikut hanyut. Retorikanya manis, narasinya teratur, intonasi suaranya bahkan bikin merinding, persis kayak lagu campursari kalau diputer kenceng-kenceng. Saya nyaris percaya, seolah negeri ini akan mendadak makmur hanya dengan satu teriakan heroik. Emosi saya naik, dada saya sesak, hampir-hampir mau meneteskan air mata harapan.
Tapi ya itu tadi—hampir. Begitu sadar, saya seperti habis makan sate kelinci basi. Lidah pahit, perut mual. Karena apa? Karena semua yang diucapkan ternyata cuma barisan kalimat gombal. Janji-janji manis yang kalau dijilat bisa bikin diabetes.
Bayangkan, seolah-olah kalau beliau bicara soal kesejahteraan rakyat, besok paginya semua warga bisa makan sop buntut gratis di warung Padang. Kalau bicara soal pertahanan negara, besoknya tank baja bakal nongol di halaman rumah warga, siap antar anak sekolah. Retorikanya begitu megah, sampai-sampai rasanya kita ini sedang ikut audisi Stand Up Comedy dengan naskah setumpuk klise.
Di titik itu, saya sadar: pidato politik memang seni paling tua di dunia. Seni menaburkan mimpi, sambil diam-diam menyembunyikan bon realita di laci meja. Dan sayangnya, saya kembali jadi korban. Terhipnotis dulu, muntah belakangan.
Jadi, kalau ditanya apa bedanya pidato politik dengan iklan obat pelangsing? Sama saja. Bedanya, kalau obat pelangsing gagal, perut kita tetap buncit. Kalau pidato politik gagal, ya nasib bangsa yang tambah buncit—penuh utang, penuh janji, penuh omong kosong.
Dan sialnya, setiap kali selesai pidato, rasanya kayak baru keluar dari warung pecel lele: mulut bau, perut kembung, dan kepala pusing. Bedanya cuma satu: kalau pecel lele, masih ada sambel enak. Kalau pidato politik, sambelnya basi—pedesnya bikin nyesel, bukan bikin lahap.


























