Kita masih ingat, humor Gus Dur, Presiden RI ke-4, yang mengatakan, “Ada tiga polisi jujur di Indonesia, yaitu polisi tidur, patung polisi, dan Jenderal Hoegeng”. Hoegeng dikenal sebagai sosok yang berintegritas. Ia diceritakan tidak suka menjilat hanya untuk keuntungan dan kenyamanan pribadinya.
Kini ada dua Monumen citra di Kepolisian; Pak Hoegeng adalah Monumen sosok Polisi Ideal dan Sambo adalah Monumen representasi citra Polisi kebiadaban. Monumen mana yang akan dipertahankan? Jauh jarak kontradiksi antara dua sosok Jenderal Polisi itu. Sepertinya, tidak bergeser maju kedepan, setelah ditinggal Hoegeng. Tetapi gerak langkah mundur terperosok kelembah nista, dilihat dari aspek moralitas.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Saat jumpa Pers di Bareskrim yang lalu, mengatakan bahwa Sambo memberikan perintah untuk menembak Brigadir J. Penjelasan ini didadasarkan pada pengakuan Bharada E (Eliezer) bahwa dia diperintahkan untuk menembak sejawatnya, sesama ajudan, mantan Kadiv Propam itu. Kapolri juga menegaskan bahwa Timsus tidak menemukan adanya tembak-menembak seperti penjelasan awal yang disampaikan oleh pihak Kepolisian, termasuk Divisi Humas Polri.
Sejauh ini, kata Jenderal Listyo, jumlah personel Polri yang diamankan bertambah dari 25 menjadi 31 orang. “Dan kemungkinan akan bertambah,” kata Listyo. Berbagai sumber menyebutkan ada kemungkinan bertambah 82 orang lagi yang diduga tersangkut kasus pembunuhan ini.
Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim), Komjen Agus Andrianto mengatakan Sambo dikenai pasal 340 KUHP dengan ancaman hukuman mati, hukuman seumur hidup, atau 20 tahun penjara. Dia juga kena pasal 338, 55, dan 56.
Publik masih akan terus mengawal kasus ini. Perjalanan masih panjang. Dan perlu diingat bahwa Sambo, menurut informasi yang layak dipercaya, memiliki jaringan yang sangat kuat dan luas di tubuh Polri. Dia disebut-sebut sebagai pimpinan dari Satuan Tugas Merah Putih yang berada di luar struktur Polri tetapi dikatakan memiliki kekuasaan yang sangat besar.
Satgas ini konon terdiri dari para personel lintas divisi yang berpangkat tinggi sampai pangkat rendah. Sambo, dengan Satgas Merah Putih itu, bahkan dikatakan sebagai polisi yang paling kuat di Polri. Lebih kuat dari Kapolri.
Alasan-alasan inilah, yang kemudian mendorong saya untuk berteriak, bahwa Presiden tidak cukup hanya menyatakan; “usut secara tuntas, transparan, buka ke public”, dst, karena kasus Sambo adalah iceberg. Seperti ada Satua Polisi dalam Kepolisian, yaitu Satgasus Merah Putih itu. Mengapa demikian? Satuan itu, liar diluar organic, karena tidak mempunyai budget operasi dari negara. Sementara tugas yang ditanganinya, seperti perjuadian, narkoba, pelacuran, dst.
Kita masih ingat, humor Gus Dur, Presiden RI ke-4, yang mengatakan, “Ada tiga polisi jujur di Indonesia, yaitu polisi tidur, patung polisi, dan Jenderal Hoegeng”. Hoegeng dikenal sebagai sosok yang berintegritas. Ia diceritakan tidak suka menjilat hanya untuk keuntungan dan kenyamanan pribadinya.
Pria kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah ini dijuluki polisi antisuap. Ia pernah mengatakan, “Baik menjadi orang penting, tapi lebih penting menjadi orang baik.” Hal ini ia ungkapkan sebab ia tahu betul dengan tradisi menjilat di kalangan pejabat Orde Baru. Demi duduk berada lingkup kekuasaan, banyak yang menarik simpati Presiden Soeharto meski harus mempermalukan diri sendiri.
Hoegeng yang menolak keras dengan tindakan korupsi, tidak segan-segan melempar barang yang diberikan cukong keluar jendela. Selain itu ia juga tidak segan-segan untuk memarahi bawahannya yang membeli rumah dan mobil mewah. “Memangnya gaji polisi cukup untuk bermewah-mewah?” tidak heran jika kita mengenal ungkapan, “Selesaikan tugas dengan kejujuran karena kita masih bisa makan nasi dengan garam,” darinya.






















