Fusilatnews – Bayangkan hutan Papua, hijau, lebat, dan hidup. Kini, bayangan itu bisa runtuh dalam sekejap—bukan oleh bencana alam, tapi oleh kebijakan manusia sendiri. Presiden Prabowo Subianto ingin menanam kelapa sawit di Papua untuk BBM dan biofuel. Sekilas terdengar ambisi nasional, tapi siapa yang akan menanggung bencana yang siap ditimbulkan?
Sumatera sudah memberi pelajaran. Banjir, longsor, hutan gundul, masyarakat lokal terpinggirkan—itulah hasil “pembangunan” yang tidak belajar dari sejarah. Dan sekarang, pola yang sama diarahkan ke Papua. Ini bukan sekadar kebijakan, ini adalah malateka ekologis baru.
Hutan Papua bukan lahan kosong. Ia adalah rumah bagi ribuan spesies, paru-paru dunia, dan budaya masyarakat adat. Mengubahnya menjadi perkebunan sawit demi angka produksi dan BBM hanyalah eksploitasi yang menyamar sebagai pembangunan. Anak cucu Papua akan menanggung akibatnya.
Kebijakan ini memperlihatkan ketidakpedulian yang mencengangkan terhadap sejarah dan kehidupan manusia. Hutan yang hilang tidak akan kembali, air yang tercemar tidak bisa diperbaiki dengan janji manis, dan keanekaragaman hayati yang lenyap tidak bisa diganti.
Benarkah sawit bisa menyelesaikan krisis energi? Mungkin, tapi harga yang harus dibayar terlalu mahal. Bencana ekologis, konflik lahan, dan kerusakan budaya tidak sebanding dengan ambisi energi jangka pendek.
Ini saatnya publik bangun. Protes harus terdengar. Suara harus diangkat. Tindakan harus nyata. Papua bukan sekadar titik di peta birokrat. Ia adalah masa depan, identitas, dan kehidupan yang harus dilindungi.
Stop Malateka Papua sekarang, sebelum kehancuran benar-benar dimulai. Protes hari ini adalah investasi untuk bumi, untuk generasi yang akan mewarisi hutan, sungai, dan langit Papua.


























