• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Presiden Membiarkan Api Menjilat Negara

Ali Syarief by Ali Syarief
July 10, 2026
in Feature, Tokoh/Figur
0
Presiden Membiarkan Api Menjilat Negara
Share on FacebookShare on Twitter

Negara tidak selalu runtuh karena perang. Sering kali ia retak oleh diamnya seorang pemimpin.

Peristiwa penangkapan seorang jaksa oleh polisi semestinya menjadi urusan penegakan hukum biasa. Namun ketika muncul narasi bahwa jaksa memperoleh perlindungan dari personel tentara, persoalannya tidak lagi sekadar perkara pidana. Ia berubah menjadi pertarungan simbolik antarlembaga negara. Polisi berhadapan dengan kejaksaan. Tentara masuk ke dalam pusaran. Lalu Presiden memilih diam.

Diam adalah bahasa politik yang paling sulit ditafsirkan. Ia bisa berarti kehati-hatian. Bisa pula dibaca sebagai ketidaksanggupan mengambil keputusan. Dalam situasi normal, diam mungkin merupakan kebijaksanaan. Tetapi ketika institusi negara saling berhadapan, diam justru melahirkan ruang spekulasi.

Negara modern dibangun di atas satu prinsip sederhana: setiap institusi memiliki batas kewenangan. Polisi menyelidiki dan menyidik. Jaksa menuntut. Tentara menjaga pertahanan negara. Ketika batas-batas itu mulai kabur, bukan hanya kewenangan yang dipertaruhkan, melainkan juga kepercayaan publik.

Yang lebih berbahaya adalah lahirnya persepsi bahwa masing-masing institusi memiliki “pasukan” sendiri untuk melindungi anggotanya. Bila persepsi itu dibiarkan tumbuh, hukum tidak lagi dipandang sebagai mekanisme penyelesaian sengketa. Yang muncul adalah keyakinan bahwa kekuatan institusilah yang menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah.

Di titik itulah Presiden seharusnya hadir.

Konstitusi tidak menjadikan presiden sekadar kepala administrasi pemerintahan. Presiden adalah pemegang kendali tertinggi atas jalannya negara. Ia bukan hanya mengurus anggaran dan program pembangunan, tetapi juga memastikan setiap institusi bekerja dalam koridor yang sama. Ketika polisi, kejaksaan, dan tentara tampak bergerak dalam irama yang saling bertabrakan, publik menunggu seorang dirigen. Bukan penonton.

Persoalannya bukan lagi siapa yang benar dalam perkara tersebut. Persoalannya adalah mengapa konflik antarlembaga dibiarkan berkembang menjadi konsumsi publik tanpa kendali politik yang jelas.

Sejarah menunjukkan bahwa konflik antarlembaga tidak pernah berhenti pada satu kasus. Ia mudah berkembang menjadi persaingan anggaran, perebutan kewenangan, hingga kompetisi memperoleh simpati masyarakat. Setiap langkah kemudian dibaca sebagai upaya memperkuat posisi masing-masing.

Di sinilah teori conflict management menjadi relevan. Konflik dalam organisasi negara bukan sesuatu yang selalu buruk. Bahkan dalam batas tertentu, ia dapat menghasilkan mekanisme saling mengawasi (checks and balances). Namun konflik yang tidak dikelola akan berubah menjadi konflik identitas institusional. Ketika itu terjadi, setiap tindakan aparat tidak lagi dipersepsikan sebagai penegakan hukum, melainkan sebagai kemenangan satu institusi atas institusi lainnya.

Publik kemudian mulai bertanya.

Apakah polisi sedang menunjukkan superioritasnya di hadapan kejaksaan?

Apakah keterlibatan unsur tentara dimaknai sebagai perlindungan terhadap aparat penegak hukum tertentu?

Ataukah semua ini hanyalah kegagalan koordinasi yang kemudian membesar karena tidak ada arahan politik dari Presiden?

Pertanyaan-pertanyaan itu muncul justru karena ruang penjelasan dibiarkan kosong.

Dalam politik, kekosongan tidak pernah berlangsung lama. Ia segera diisi oleh rumor, prasangka, dan teori konspirasi.

Sebagian orang mulai membaca adanya keberpihakan kepada polisi. Sebagian lain melihat tentara sedang mengirim pesan bahwa institusinya tidak boleh diabaikan. Ada pula yang menilai Presiden sengaja membiarkan ketegangan itu sebagai mekanisme keseimbangan kekuasaan, agar tidak ada satu institusi yang terlalu dominan.

Semua tafsir itu mungkin saja muncul. Tetapi selama tidak ada penjelasan resmi yang tegas, semuanya tetap berada dalam wilayah spekulasi.

Yang pasti, korban pertama dari situasi seperti ini adalah wibawa negara.

Negara kehilangan wajah tunggalnya. Yang tampak justru wajah-wajah institusi yang berjalan dengan logika masing-masing. Polisi berbicara sebagai polisi. Jaksa sebagai jaksa. Tentara sebagai tentara. Sementara Presiden seolah hanya menjadi penonton dari pertunjukan yang seharusnya ia sutradarai.

Padahal negara tidak boleh dipimpin melalui pembiaran.

Kepemimpinan bukan sekadar menghindari konflik, melainkan mengelola konflik agar tidak berubah menjadi krisis legitimasi. Ketika presiden memilih diam terlalu lama, setiap institusi akan mulai membangun pusat gravitasinya sendiri. Masing-masing merasa memiliki legitimasi untuk bertindak berdasarkan tafsirnya sendiri terhadap kepentingan negara.

Di situlah bibit fragmentasi kekuasaan mulai tumbuh.

Hari ini mungkin hanya seorang jaksa yang ditangkap.

Besok bisa saja yang dipertaruhkan bukan lagi seorang jaksa, melainkan kepercayaan publik terhadap seluruh sistem penegakan hukum.

Dan bila kepercayaan itu runtuh, tidak ada institusi yang benar-benar menang.

Yang kalah adalah negara.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Selamat Jalan Rachmat Gobel: Jejak Seorang Industrialis yang Memilih Mengabdi kepada Bangsa

Next Post

Mantan Menkeu Fuad Bawazier: “Cabut Konsesi Tambang Bermasalah, Jangan Jadikan Kasus sebagai Sandera Politik”

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Mengapa FusilatNews Hadir?
Cyber

Mengapa FusilatNews Hadir?

July 11, 2026
Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?
Feature

Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

July 11, 2026
Etik yang Tak Beretika
Crime

Etik yang Tak Beretika

July 11, 2026
Next Post
Mantan Menkeu Fuad Bawazier: “Cabut Konsesi Tambang Bermasalah, Jangan Jadikan Kasus sebagai Sandera Politik”

Mantan Menkeu Fuad Bawazier: "Cabut Konsesi Tambang Bermasalah, Jangan Jadikan Kasus sebagai Sandera Politik"

Paradoks Independensi Auditor Internal (Ketika Penjaga Tata Kelola Masih Berada dalam Bayang-Bayang Manajemen)

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?
Feature

Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

by Karyudi Sutajah Putra
July 11, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2026 Jakarta - Akhirnya, Febrie Adriansyah berhasil diamputasi. Jaksa Agung Muda Bidang Tindak...

Read more
AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

July 10, 2026
Geng Trunojoyo Vs Geng Gedung Bundar, Siapa Menang?

Geng Trunojoyo Vs Geng Gedung Bundar, Siapa Menang?

July 9, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Mengapa FusilatNews Hadir?

Mengapa FusilatNews Hadir?

July 11, 2026
Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

July 11, 2026
Kabar Baik dari Dunia Medis: Angka Demensia pada Lansia Mulai Turun di Amerika, Eropa, dan Jepang

Kabar Baik dari Dunia Medis: Angka Demensia pada Lansia Mulai Turun di Amerika, Eropa, dan Jepang

July 11, 2026
Etik yang Tak Beretika

Etik yang Tak Beretika

July 11, 2026

Mafia di Balik Penegakan Hukum Ketika Hukum Berubah Menjadi Instrumen Kekuasaan

July 10, 2026

COKLAT VS COKLAT

July 10, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Mengapa FusilatNews Hadir?

Mengapa FusilatNews Hadir?

July 11, 2026
Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

July 11, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...