By Paman BED
Menantu itu menuntun ibu mertuanya dengan penuh kehati-hatian. Usia sang ibu telah melampaui tujuh puluh tahun. Langkahnya tak lagi tegap, namun semangatnya justru menyala—seolah usia hanya angka yang tak sanggup memadamkan panggilan iman.
Di tengah terik Arafah yang mendekati 50 derajat Celsius, keduanya berdiri pada puncak ibadah haji: wukuf. Lelah jasmani tak kuasa menandingi cahaya harap yang terpancar dari wajah mereka. Mereka datang membawa doa, rindu, dan harapan akan ridha Allah.
Bagi sang menantu, perjalanan ini bukan sekadar ibadah personal. Ia melihatnya sebagai ladang bakti. Ibu mertuanya ia anggap pengganti ibunda kandung yang telah tiada. Bahkan bila harus menggendongnya, ia siap.
Dalam benaknya tertanam keyakinan: surga bisa diraih melalui bakti kepada orang tua.
Namun ujian itu datang dengan cara yang sama sekali tak terduga.
Sang ibu tiba-tiba menyampaikan keinginan yang terdengar sederhana, namun terasa mustahil menurut nalar: ia ingin bertemu Bupati Banyumas—yang kebetulan juga sedang menunaikan ibadah haji.
“Kloter berapa? Maktab mana?” tanya sang menantu.
Sang ibu hanya menggeleng. Ia tidak tahu.
Di tengah jutaan jamaah haji dari seluruh dunia—termasuk ratusan ribu dari Indonesia—bagaimana mungkin mencari satu orang tanpa petunjuk apa pun?
Tanpa disadari, di relung hatinya terlintas satu pikiran singkat: itu tidak mungkin.
Di situlah retakan pertama muncul.
Kesombongan tidak selalu hadir dalam bentuk ucapan lantang atau sikap pongah. Kadang ia menyelinap halus—dalam keyakinan bahwa logika kita lebih kokoh daripada kehendak Allah.
Padahal, Allah Maha Berkehendak.
Kesadaran itu menghantam batinnya. Istighfar mengalir lirih dari bibirnya. Air mata jatuh tanpa mampu ditahan. Ia menyesal—bukan karena ucapan, melainkan karena hatinya sempat meragukan kuasa Rabb-nya.
Bukankah Allah telah berfirman dalam QS. Al-Isra ayat 37:
“Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong. Sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.”
Dan dalam QS. Al-Baqarah ayat 117:
“Apabila Dia berkehendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ Maka jadilah ia.”
Kun fayakun.
Di Mina, pelajaran itu dipertegas.
Tanpa janji. Tanpa rencana. Tanpa pencarian.
Seorang pria setengah baya berjalan dari maktab sebelah, menghampiri maktab sang ibu mertua. Sang menantu tertegun. Keajaiban yang kerap hanya ia dengar dari cerita orang lain, kini hadir nyata di hadapannya.
Orang asing itu adalah sang Bupati. Ia datang dengan sengaja untuk bersilaturahmi. Menghampiri, bersalaman, menyapa seorang nenek dari kampung halamannya.
Wajah sang mertua berseri. Riang. Antusias. Seperti bertemu sepotong kenangan dari tanah asal.
Sebaliknya, sang menantu hanya terdiam. Kepalanya tertunduk. Bibirnya bergerak pelan—entah istighfar atau doa. Kepercayaan diri yang semula tegak, kini limbung.
Tamparan lembut itu perlahan meresap. Seluruh tubuhnya bergetar. Air mata kembali jatuh. Bukan karena takjub, melainkan karena runtuhnya bangunan logika yang selama ini ia anggap paling kokoh.
Ibarat sebongkah es, keyakinan yang beku itu perlahan mencair tersentuh cahaya. Sebuah ibrah lahir:
bahwa benih kesombongan—sekecil apa pun—jika dibiarkan, akan tumbuh subur dalam hati.
Tanah suci menjadi saksi.
Bahwa kehendak Allah melampaui perhitungan manusia.
Bahwa yang mustahil menurut logika, sangat mungkin menurut kuasa-Nya.
Bahwa kesombongan sering tersembunyi dalam rasa “tahu” dan “paham”.
Di Arafah dan Mina, bukan hanya pakaian ihram yang dilepaskan dari kelekatan dunia. Ego pun seharusnya dilucuti.
Semoga kita semua belajar dari setitik peristiwa ini:
menjadi hamba yang lebih tawadhu, lebih tunduk, dan lebih yakin kepada kehendak Allah.
Aamiin.
By Paman BED



















