“Ternyata labirin itu tidak pernah punya pintu keluar — hanya punya pintu yang mengantar kita kembali ke pusat kekuasaan yang sama.”
Ketika saya mengatakan akan mendukung Prabowo — waktu itu, ketika ia bertarung melawan Jokowi — saya tidak sedang mabuk semangat. Saya tidak sedang dihipnotis propaganda, tidak pula sedang ingin cari ribut dengan kawan-kawan saya yang rambutnya sudah lebih putih daripada dasi rektorat. Saya hanya ingin suara saya tidak ikut memperpanjang hidup politik Jokowi, itu saja. Dalam bahasa anak zaman sekarang: ini voting defensif.
Sahabat-sahabat saya, beberapa di antaranya mantan rektor terkemuka — yang jika bicara konstitusi nadanya bisa mengalahkan pidato pembukaan sidang MPR — awalnya mengernyitkan dahi. Mereka skeptis, walau dengan gaya akademis: “Apa bedanya Prabowo dengan Jokowi?” tanya mereka sambil menyisip teh hijau di ruang diskusi. Saya tidak menjawab. Karena menjawabnya adalah seperti menjawab pertanyaan “Mengapa tikus tidak dijadikan hewan kurban?”—lebih baik diam dan nyengir.
Tapi sejarah punya kebiasaan mengejek kita lewat waktu. Ketika Mahkamah Konstitusi dipreteli kehormatannya, ketika putusan hukum menjadi seperti ujian sekolah dasar yang jawabannya bisa diatur wali murid, dan ketika Gibran — anak sang presiden — melesat menjadi cawapres lewat jalan tikus hukum, kawan-kawan saya mulai mengangguk-angguk. Diam-diam mereka seperti berkata: “Mungkin benar juga, ya.”
Namun, waktu kembali bermain-main dengan perasaan kita. Ketika Prabowo akhirnya menang dan dilantik menjadi presiden, saya merasa seperti anak kecil yang menukar uang jajannya untuk mainan yang ternyata rusak begitu dibuka bungkusnya. Saya menyesal.
Bukan karena saya tidak tahu siapa Prabowo, bukan karena saya lupa sejarah, tapi karena saya terlalu fokus menolak Jokowi hingga lupa: yang saya dukung ini dulunya bagian dari rezim yang sama. Saya pikir, memilih Prabowo adalah memilih keluar dari labirin Jokowi, ternyata saya hanya memilih pintu lain yang langsung terhubung ke ruang tamu istana yang sama. Jokowi dan Prabowo ternyata seperti dua sisi dari mata uang logam usang yang dipakai untuk membeli suara rakyat — dan saya ikut menyodorkan recehan saya.
Sekarang saya duduk termenung, mencoba mengingat-ingat siapa sebenarnya yang saya dukung dahulu. Prabowo? Bukan. Saya tidak pernah mencintainya. Jokowi? Apalagi. Lalu siapa?
Mungkin saya hanya mendukung sebuah harapan: bahwa kekuasaan tidak diwariskan, bahwa hukum bisa ditegakkan, bahwa politik tak harus menjadi panggung sandiwara keluarga. Tapi harapan, seperti lilin ditiup angin istana, padam tanpa suara.
Sungguh, andai waktu bisa diputar — saya lebih baik tidak memilih. Bukan karena apatis, tapi karena saya tak ingin jadi bagian dari drama yang akhirnya saya tolak dengan getir.
Tapi, seperti yang sering saya tulis, “Rakyat itu tabah — dan tabahnya rakyat bisa jadi kutukannya sendiri.” Maka saya menulis ini, sebagai catatan kecil di tengah negara besar, bahwa suatu hari nanti, mungkin ada orang yang tak ingin mengulang kesalahan yang sama: memilih karena muak, bukan karena yakin.
Dan jika saya kembali ditanya: “Mengapa dulu Anda memilih Prabowo?” Saya akan menjawab dengan sederhana: “Karena saya terlalu kecewa pada Jokowi, hingga lupa bahwa kekecewaan itu bisa menuntun kita pada pilihan yang sama buruknya.”
Semoga kita belajar. Atau setidaknya, tidak terlalu sering menyesal.





















