Oleh: Ali Syarief
Fusilatnews – Di penghujung siang, Kamis 6 November 2025, kabar duka itu datang perlahan—nyaris setenang cara hidupnya selama ini. Suripto, tokoh intelijen legendaris sekaligus salah satu pendiri Partai Keadilan Sejahtera (PKS), berpulang ke rahmatullah di Jakarta, pada usia 89 tahun. Dunia politik kehilangan sosok senyap yang jarang bicara, tapi pemikirannya menembus batas wacana ideologis partai.
Jenazahnya disemayamkan di rumah duka di Jalan Tampak Siring No. 24, Cipete Selatan, Jakarta Selatan. Esoknya, ia dimakamkan di San Diego Hills, Karawang—tempat yang seolah menjadi simbol pertemuan antara dunia lama perjuangan dan realitas baru yang lebih modern. Di rumah duka, sejumlah kader senior PKS tampak larut dalam kesedihan. “Beliau bukan hanya operator senyap, tapi pemikir ulung,” ujar seorang politikus senior PKS dengan mata berkaca-kaca.
Senyap yang Berbicara
Nama Suripto mungkin tak sepopuler para politisi flamboyan di Senayan. Namun di kalangan intelijen dan aktivis politik Islam, ia adalah legenda yang tak lekang oleh waktu. Lahir di Bandung, Suripto mengawali kariernya sebagai anggota Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN)—cikal bakal Badan Intelijen Negara (BIN). Di masa-masa penuh ketegangan politik era Orde Baru, ia dikenal sebagai otak di balik banyak operasi senyap yang menuntut presisi, kesabaran, dan loyalitas mutlak terhadap negara.
Namun, Suripto tak pernah membiarkan dirinya larut dalam dunia kegelapan intelijen semata. Ketika rezim tumbang dan era reformasi membuka pintu, ia melangkah ke dunia baru: politik. Bersama sejumlah aktivis Islam kampus dan cendekiawan muda, ia ikut mendirikan Partai Keadilan pada 1998—yang kelak berubah menjadi PKS. Ia menjadi salah satu penghubung antara dunia aktivisme Islam dan struktur kekuasaan yang baru tumbuh di masa itu.
Jejak Ideolog dan Humanis
Dalam tubuh PKS, Suripto bukan sekadar pendiri. Ia menjadi pengawal ideologis yang membangun karakter partai di atas fondasi moral dan intelektual Islam. Namun yang menarik, meski partai itu tumbuh dengan citra religius, Suripto tidak pernah menutup diri terhadap gagasan modernitas. Ia kerap mengingatkan agar partai tak terjebak dalam politik seragam yang kering dari refleksi moral. “Kekuasaan harus menjadi alat dakwah, bukan tujuan,” katanya dalam sebuah wawancara lama.
Di luar politik, ia juga aktif di berbagai kegiatan kemanusiaan, termasuk dalam Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP). Dalam setiap orasinya, suara Suripto tak pernah meninggi, tapi pesan yang disampaikan terasa dalam: tentang keadilan, kemanusiaan, dan tanggung jawab moral bangsa terhadap penderitaan umat.
Antara Intelijen dan Idealisme
Kehidupan Suripto seperti dua sisi mata uang: senyap tapi berpikir keras, dingin dalam strategi tapi hangat dalam gagasan. Ia membawa etika intelijen ke dalam dunia politik, bukan untuk menyelundupkan intrik, tapi untuk menanamkan kedisiplinan dan kerahasiaan yang efisien.
Namun, di situlah letak paradoksnya. Ketika politik berubah menjadi panggung keterbukaan, gaya “intelijen” yang melekat pada dirinya sering disalahpahami. PKS yang dulu dikenal bersih dan idealis, kini kerap ditarik ke dalam pusaran pragmatisme politik yang ia sendiri mungkin tak lagi kenali. Kepergian Suripto menandai berakhirnya satu babak: generasi perintis PKS yang lahir dari idealisme dan keheningan intelektual kini nyaris habis digantikan oleh generasi politisi yang tumbuh dalam transaksi.
Refleksi untuk PKS dan Negeri
Bagi PKS, wafatnya Suripto bukan sekadar kehilangan seorang pendiri, melainkan kehilangan ruh pembimbing. Ia bukan hanya penganjur moral, tapi juga penjaga arah agar partai tidak kehilangan keseimbangannya antara agama dan kekuasaan.
Dalam konteks politik nasional, Suripto merepresentasikan sosok langka: seorang intel yang beriman, seorang politisi yang berprinsip, dan seorang pemikir yang enggan berteriak. Di tengah politik yang kian gaduh, keberadaannya menjadi pengingat bahwa kekuatan sejati tak selalu datang dari suara lantang, melainkan dari ketenangan dan ketajaman berpikir.
Akhir dari Sebuah Keheningan
Ketika jasadnya diturunkan ke liang lahat, banyak yang mungkin tak sepenuhnya tahu betapa panjang dan rumit jejak perjuangan Suripto. Namun bagi mereka yang pernah mengenalnya, Suripto adalah bukti bahwa kerja senyap bisa mengubah sejarah.
Kini, keheningan itu kembali. Tapi kali ini bukan karena operasi senyap, melainkan karena bangsa kehilangan salah satu putra terbaiknya—yang selama hidup memilih diam, agar kebenaran berbicara lewat perbuatannya.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Selamat jalan, Suripto. Di antara hiruk pikuk politik yang makin kehilangan makna, keheninganmu justru terasa paling nyaring.

























