Fusilatnews – Mari kita buka-bukaan. Ini bukan soal ekonomi, bukan soal politik, bahkan bukan soal pembangunan Ibu Kota di tengah hutan yang katanya smart tapi sinyalnya belum tentu ada. Ini soal kulit.
Ya, kulit. Tepatnya kulit milik seorang tokoh yang pernah memimpin negeri ini selama sepuluh tahun, dua periode, dengan segala gempita dan gegap gempitanya. Bukan sembarang kulit, sebab ini adalah kulit seorang bekas presiden. Tapi anehnya, kulit itu kini jadi bahan pergunjingan nasional. Bukan karena warnanya. Bukan pula karena ketebalannya. Tapi karena penyakit yang menyelimutinya.
Kisah ini bermula, bukan saat kampanye awal, bukan pula saat ia naik motor di sirkuit Mandalika. Tapi baru muncul ke permukaan setelah ia menghadiri pemakaman Paus di Vatikan. Momen sakral, katanya. Tapi alih-alih mengenang duka umat Katolik, rakyat justru dibuat bertanya-tanya oleh pemandangan ganjil di tangan beliau—entah belang, bersisik, atau seperti kerak tipis yang tidak tuntas dikupas.
Lalu muncullah pernyataan dari ajudan. “Itu cuma alergi cuaca dingin,” katanya. Ringan. Enteng. Persis seperti dokter kelurahan yang menangani pasien demam berdarah pakai minyak kayu putih.
Masalahnya, sejak saat itu, kulit itu tak kunjung sembuh. Kamera-kamera jahat—yang sekarang lebih cepat dari mulut jubir—terus menangkap gambar-gambar ganjil. Rakyat pun bertanya. Karena alergi cuaca mestinya reda begitu kembali ke iklim tropis. Tapi ini, kok, tidak?
Lalu salahkah kalau rakyat menyebut: “Itu mungkin kurap”?
Atau eksim?
Atau… buduk?
Saya tahu, pertanyaan ini mungkin dianggap tidak sopan. Tapi negara ini sudah terlalu lama membiasakan rakyat untuk diam. Maka ketika rakyat akhirnya bertanya, itu bukan karena mereka nyinyir, tapi karena mereka ingin tahu—karena sejak jadi Presiden, yang bersangkutan tak pernah transparan, bahkan soal kulit pun harus dibungkus protokoler.
Sekarang beliau bukan presiden lagi. Seorang warga biasa. Maka sudah sepantasnya pula dijawab secara biasa. Bukan dengan buzzer, bukan dengan klarifikasi satu arah, tapi ya cukup: “Iya, ini buduk. Sudah diobati, doakan sembuh.” Titik. Tamat. Rakyat lega. Isu selesai.
Tapi kalau diam saja, ya jangan salahkan kalau rakyat berspekulasi. Karena di negeri ini, segala sesuatu yang tidak dijelaskan, akan ditafsirkan sebebas-bebasnya. Apalagi oleh netizen dengan gelar dokter spesialis screenshot.
Maka mari kita minta: bukan keterangan dari Istana, sebab sekarang beliau sudah pensiun. Tapi dari dokter kulit yang merawatnya. Bukankah transparansi medis juga bagian dari warisan etika publik seorang tokoh negara?
Dan terakhir, jika pun benar itu buduk, kami tidak akan menghakimi. Karena yang lebih berbahaya dari penyakit kulit… adalah penyakit kuasa yang tak mau sembuh, meski jabatannya sudah habis.

























