Tersirat dari Damai Hari Lubis
Untuk rekan-rekan Aliansi Anak Bangsa, Korlabi, TPUA, dan seluruh rekan seperjuangan.
Dalam setiap gerakan perjuangan, ada satu fondasi yang tak boleh runtuh: kepercayaan kepada komando.
Tanpa kepercayaan, barisan berubah menjadi kerumunan.
Tanpa komando, perjuangan kehilangan arah.
Dan tanpa keduanya, musuh tak perlu menyerang—kita runtuh oleh tangan sendiri.
Wajar bila ada yang tidak dekat secara personal dengan sosok The Great Leader.
Wajar pula bila ada yang belum sepenuhnya memahami posisi “al fakir” dalam barisan ini.
Namun, tidak dekat berbeda dengan menutup diri dari makna pernyataan.
Apalagi memelintirnya.
Di situlah letak persoalan adab juang.
Dalam perjalanan otw Jogja–Solo, al fakir (DHL) pernah menyampaikan dengan terang:
“Andai dalam satu bus ini ada yang tidak percaya atau menutup makna pernyataan al fakir, maka tidak ada masalah bila tidak ingin dipimpin oleh al fakir. Silakan tidak ikut. Yang penting, al fakir dipercaya oleh keluarga, dan dipercaya oleh The Great Leader.”
Pernyataan itu bukan ancaman.
Itu penegasan prinsip:
pemimpin yang tidak dipercaya, mustahil memimpin.
Sesederhana itu.
Apalagi ketika senior perjuangan kita, Bang Eggi Sudjana, terhalang hadir karena sakit, namun justru dituduh melarikan diri demi menyelamatkan diri sendiri.
Padahal faktanya, dalam kondisi tidak sehat pun beliau memasukkan surat pengaduan ke Amnesty International di London.
Di titik ini, yang dibutuhkan adalah kesadaran kolektif, bukan kecurigaan kolektif.
Bila ada yang belum memahami posisi Bang Eggi Sudjana, cukup berbaik sangka kepada al fakir dan menunggu tabayyun.
Lihat dengan kacamata jernih: rekam jejak perjuangan itu ada, meski baru sedikit.
Lalu pertanyaannya menjadi terang:
Mengapa justru ada yang setia mengikuti sosok asing—intel hitam, tak beradab, penyabot agenda TPUA—yang jelas tidak sejalan dengan Bang Eggi dan al fakir?
Mengapa yang konsisten menyerukan cooling down justru diprotes, sementara pembangkang komando diberi panggung?
Di sinilah kejanggalan logika itu nyata.
Ambigu.
Tak masuk akal.
Dan berbahaya bagi soliditas barisan.
Ada pihak yang nyata-nyata membangkang perintah, sengaja hendak menghentikan laju mesin organisasi yang bekerja sistematis dan terstruktur, hanya karena malu dan marah tidak diundang.
Diundang untuk kembali mengacaukan agenda organisasi?
Lucu, bukan?
Lebih ironis lagi, kecerdasan dan kepatuhan yang semestinya dimiliki umat kepada ulama pilihan mayoritas negeri ini—yang terbukti kepemimpinan, ilmu, dan kerja kerasnya—justru tidak dimanfaatkan maksimal.
Himbauan beliau yang seharusnya menjadi pedoman giat juang malah diabaikan.
Jika benar mengakui beliau sebagai pemimpin komando, maka taatlah.
Kecuali bila pengakuan itu hanya hipokrisi.
Lalu apa arti senioritas?
Apa makna “yang dituakan” dalam sebuah barisan?
Senior bukan sekadar usia atau posisi.
Ia penjaga arah.
Penahan emosi barisan.
Jangkar di tengah gelombang.
Jika jangkar dicurigai oleh kapalnya sendiri, maka karam tinggal menunggu waktu.
Karena itu al fakir hanya menghimbau:
“Ayook, mari kita cermat.”
Tetap kompak.
Tetap satu barisan.
Tetap melawan segala bentuk kezaliman.
Namun dengan adab.
Dengan akal sehat.
Dengan disiplin komando.
Tulisan ini adalah jawaban bagi rekan-rekan yang bertanya—baik karena ingin tahu, maupun karena terseret pusaran kecurigaan.
Semoga cukup menjernihkan.
Dan semoga barisan ini tetap utuh, bukan karena kesamaan emosi,
tetapi karena kesamaan arah perjuangan.




















