Oleh: Damai Hari Lubis – Pengamat KUHP (Kebijakan Umum Hukum dan Politik)
“Tok the tok not only tok”—untuk memahami frasa ini, tampaknya diperlukan pakar etimologi lulusan S-3 dari langit. Setidaknya, dari spesialis linguistik bulan. Sebab dalam salah satu artikelnya, Dr. Roy Suryo, pakar telematika dan informatika, menutup narasinya dengan ungkapan misterius: “Time will tell bukan tok the tok not only tok.”
Andai pun alm. Yus Badudu masih hidup, atau Gibran Rakabuming Raka yang meski pernah kuliah di luar negeri namun hanya bertahan setahun, lalu sempat menjabat Wali Kota, diyakini tetap tidak mampu menafsirkan makna dalam ungkapan tiga dimensi ala Roy Suryo ini. Bukan karena IQ yang kurang, melainkan karena konteks dan dimensi bahasanya yang ‘terlalu langit’ bagi makhluk bumi biasa.
Namun, karena penulis pernah tinggal di bulan (secara metaforis), maka barangkali sedikit lebih dekat secara spasial dan spiritual dengan sumber bahasa langit tersebut. Maka penulis mencoba menelusuri korelasi antara ungkapan Roy Suryo dengan dinamika sosial-politik yang terjadi di bumi, khususnya Indonesia.
Mungkin tafsir ini keliru. Namun tak mengapa. Sebab bahasa langit, seperti bahasa semut dan bahasa isyarat para wali, hanya bisa diterjemahkan oleh mereka yang hatinya tidak dipenuhi kepentingan, dan pikirannya tak terjerat urat gengsi. Bahasa ini, seperti diturunkan melalui wahyu, bukan untuk sembarang pelafal.
Dan bila “Time will tell bukan tok the tok not only tok” hendak diterjemahkan secara bebas, maka kita harus membuka kembali bab-bab kelam dalam diskursus politik nasional—terutama soal Big Problem seorang pemimpin yang hingga kini masih memancing tanda tanya besar: mulai dari ijazahnya, skripsinya, hingga jejak masa lalunya yang penuh lubang teka-teki.
Idealnya, tafsir ungkapan ini sebaiknya didengar langsung dari Roy Suryo dalam suatu forum tatap muka, agar artikulasinya dapat dipahami dengan presisi. Tapi karena penulis mewarisi sedikit darah dari langit—warisan embah Roy Suryo yang konon pernah turun ke bumi karena tak tahan melihat “buah khulbi”—maka penulis memberanikan diri menafsirkan sendiri, tentu sambil minta maaf di awal.
“Time will tell bukan tok the tok not only tok”, dalam terjemahan bebasnya kira-kira berarti:
“Akan tiba waktunya ketika Sang Raja Lip Service runtuh, karena selama ini hanya lihai bicara, tapi hasil kerjanya nihil. Negara hancur karena kebohongan yang sistemik. Dan rakyat akhirnya sadar bahwa mereka selama ini hanya dipermainkan.”
Namun tafsir ini tentu bisa diperdebatkan, karena seperti dijelaskan di awal, penulis bukanlah barang pemuas. Jika publik belum puas, wajar saja. Sebab yang ditafsir adalah bahasa langit, yang hanya bisa dijamah oleh mereka yang tidak menjilat bumi demi kursi.
Apalagi ketika Roy Suryo yang menyampaikan analisis ilmiahnya terkait dugaan ijazah palsu Jokowi justru dikeroyok oleh pasukan Termul (Tertawa Tapi Mulut Bau Hoaks) dan para pecinta Big Leak (bocor gede lovers): mulai dari akun-akun bodong, para penjilat virtual, hingga kelompok PKI Hidup Jaya (Persatuan Komisaris Ijazah Jongos dkk.).
Karenanya, sebagai prinsip kehati-hatian (prudential principle), penulis kembali menyampaikan permohonan maaf jika penafsiran ini kurang tepat atau terasa terlalu sarkastik. Tapi di tengah demokrasi yang semakin sekarat, satu-satunya obat adalah keberanian berkata jujur.
Dan Roy sudah memulainya.
Oleh: Damai Hari Lubis – Pengamat KUHP (Kebijakan Umum Hukum dan Politik)























