Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Umat Islam kini seperti rumput kering yang mudah terbakar dan menjalar. Ironisnya, yang membakar justru tokoh-tokoh umat Islam itu sendiri.
Lihat saja. Di Desa Pegundan, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, Rabu (23/7/2025) malam lalu terjadi bentrokan antara massa Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI LS) dan massa Front Persaudaraan Islam (FPI), reinkarnasi dari Front Pembela Islam (FPI). Belasan orang, termasuk polisi menjadi korban luka-luka.
Pemicu bentrokan adalah kehadiran Muhammad Rizieq Syihab sebagai penceramah. PWI LS menolak kehadiran ulama kelahiran Yaman itu karena selama ini ceramah-ceramahnya dinilai provokatif.
Begitu mudahnya umat terbakar, seperti rumput kering kerontang di padang gersang. Tersambar api sedikit saja, bahkan sekadar udara panas, bisa terbakar.
Insiden di Pemalang itu ternyata menjalar ke Depok, Jawa Barat. Lihat saja. Pendakwah Bahar Bin Smith dan pengikutnya menolak pelantikan pengurus PWI LS se-Jabodetabek di Studio Soneta Record, yang diduga milik raja dangdut Rhoma Irama di Jalan Tole Iskandar, Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Cilodong, Depok, Ahad (27/7/2025). Untunglah, situasi yang sempat memanas itu tak sampai menimbulkan bentrokan.
Bahar menuding PWI LS selama ini mengadu domba, memecah belah umat, rasis, membubarkan pengajian, hingga merusak nama Walisongo, sehingga dirinya menolak pelantikan pengurus PWI LS. Bahar tentu berkaca dari insiden yang terjadi di Pemalang itu.
Bahar mengaku bukan anggota FPI, tetapi dekat dengan Rizieq Syihab.
Dus, masing-masing kubu mengaku sebagai pihak yang benar. Mereka seolah menjadi pemilik kebenaran. Kebenaran menurut versi masing-masing. Bukan kebenaran hakiki.
Bayangkan, satu umat yang sama saja, yakni umat Islam bentrok. Padahal, mereka yang terlibat bentrok belum tentu paham apa tujuan mereka melakukan sesuatu sehingga menyebabkan bentrok. Bisa saja cuma pentolan mereka yang tahu.
Kasus di Pemalang bulan satu-satunya contoh terjadinya bentrokan antar-sesama umat Islam di Indonesia. Apalagi di dunia. Lihat saja di Timur Tengah. Sunni dan Syiah tak pernah akur. Padahal ajaran mereka berasal dari sumber yang sama: Al Quran dan Hadits alias Sunnah Nabi Muhammad SAW.
Bentrokan internal itulah yang menjadi salah satu penyebab umat Islam tak maju-maju. Kalah dari umat lain. Yahudi, misalnya.
Di Palestina, misalnya, faksi Hamas tak pernah rukun dengan faksi Fattah. Hamas berjuang dengan perang, Fattah berjuang dengan perundingan. Karena tak pernah bersatu, sejauh ini Palestina tak kunjung berhasil mengalahkan zionis Israel.
Dunia Arab yang Muslim juga tak pernah kompak mendukung kemerdekaan Palestina. Bahkan ironisnya ada yang menjadi pendukung Israel, musuh bebuyutan Palestina.
Tidak bersatunya umat Islam itulah yang membuat umat ini seperti buih di lautan yang terombang-ambing gelombang. Kuantitasnya di Indonesia memang mayoritas, tapi kualitasnya tak sepadan dengan kuantitasnya.
Akhirnya, nasib umat Islam seperti buih di lautan yang terombang-ambing gelombang. Sementara di darat bak rumput kering yang mudah terbakar.

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)




















