• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Wajar Rakyat Marah dan Ingin Mengadili Jokowi

Ketika Demokrasi Disandera, dan Kepemimpinan Menjelma Pengkhianatan

Ali Syarief by Ali Syarief
November 19, 2025
in Feature
0
Makar atau Manipulasi? Saat Hukum Harus Menyentuh Jokowi
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Amarah publik tak pernah lahir tiba-tiba. Ia seperti gelombang yang awalnya kecil, lalu tumbuh, menumpuk, hingga pada akhirnya menghantam tebing kekuasaan yang selama bertahun-tahun menumpang di atas janji, pencitraan, dan retorika manis.
Di Indonesia hari ini, gelombang itu bergerak menuju satu titik pusat: Joko Widodo.

Ia pernah dielu-elukan sebagai “harapan baru”, “pemimpin sederhana”, bahkan “bapak rakyat”.
Namun masa adalah hakim yang keras—dan masa pula yang membongkar tabir pencitraan: bahwa Jokowi bukan sekadar gagal memimpin, tetapi secara sadar mengkhianati amanat kekuasaan.

Maka wajar jika rakyat marah.
Wajar jika rakyat menuntut persidangan moral dan politik.
Wajar jika semakin banyak suara publik yang menyerukan pertanggungjawaban.

Karena untuk pertama kalinya sejak Reformasi, seorang presiden mengubah negara menjadi instrumen kekuasaan pribadi. Dan di ujung kekuasaannya, yang tertinggal bukanlah warisan, melainkan puing-puing demokrasi.


I. Dusta yang Diperagakan Secara Terang-Terangan

Politik memang tak steril dari kebohongan. Tetapi yang dilakukan Jokowi melampaui skala dusta politik biasa: ia melakukannya dengan terang-terangan, tanpa malu, dan tanpa konsekuensi.

1. Dinasti Politik: Dari Penolakan Tegas ke Rekayasa Konstitusi

Awalnya ia bersumpah tidak akan membangun dinasti.
Namun kemudian seluruh infrastruktur hukum dan politik direkayasa demi membuka jalan bagi anak-anaknya.
Mahkamah Konstitusi dipaksa menelan keputusan yang melanggar etika, bahkan moral dasar seorang pejabat negara.

Tidak ada dusta yang lebih menyakitkan bagi rakyat selain dusta yang menabrak akal sehat.

2. Janji Keadilan yang Berbalik Menjadi Represi

Dalam demokrasi, rakyat punya hak bertanya.
Tetapi ketika warga meminta transparansi paling sederhana—keaslian ijazah presiden—yang mereka dapat bukan jawaban, melainkan penjara.

Ini bukan soal dokumen akademik.
Ini soal bagaimana kekuasaan digunakan untuk menindas pertanyaan.

3. Retorika yang Tak Lagi Memiliki Bobot Moral

Seiring waktu, publik menyadari sesuatu:
Jokowi bukan hanya sering memutarbalikkan pernyataan, tetapi menjadikan kebohongan sebagai instrumen kekuasaan.

Ketika seorang pemimpin kehilangan bobot moral, seluruh struktur di bawahnya ikut kehilangan orientasi.


II. Tata Hukum Dibengkokkan: Negara Menuju Kegelapan

Sejak 2014, publik membayangkan pemerintahan bersih.
Yang terjadi adalah sebaliknya: hukum dibajak dan dipakai sebagai alat politik.

1. Mahkamah Konstitusi Disulap Menjadi Koki Politik Keluarga

Keputusan kontroversial MK yang membuka jalan bagi dinasti politik bukan sekadar pelanggaran etika.
Ia adalah bukti bahwa institusi tertinggi penjaga konstitusi telah berhasil dikooptasi.

Negara yang konstitusinya dimanipulasi bukanlah negara demokrasi.
Ia adalah negara proyek.

2. Kriminalisasi sebagai Pola, Bukan Insiden

Di era ini, kritik diartikan sebagai ancaman.
Warga ditangkap hanya karena membuat meme, aktivis dikejar karena berbicara di forum publik, dan oposisi direduksi menjadi musuh negara.

Kekuasaan bukan hanya anti-kritik, tetapi anti-perdebatan.

3. Penegak Hukum yang Kehilangan Kehormatan

Kepolisian, kejaksaan, dan lembaga penegak hukum lainnya terdorong menjadi praetorian guard bagi rezim.
Kasus-kasus besar mandek.
Dugaan korupsi dibiarkan berjalan selama tak bersinggungan dengan lingkar kekuasaan.

Hukum kehilangan martabat—dan ketika hukum kehilangan martabat, rakyat punya hak untuk marah.


III. Pemerintahan Rusak, Korupsi Meledak di Semua Lini

Jokowi menjanjikan birokrasi profesional.
Yang terjadi sebaliknya: birokrasi menjadi pasar kekuasaan.

1. Penempatan Pejabat Berdasarkan Kedekatan, Bukan Kompetensi

Sejak awal periode kedua, birokrasi pusat dan daerah dipenuhi figur yang tak memiliki kapasitas, tetapi punya kedekatan politik.
Ini bukan sekadar salah urus, ini adalah strategi untuk mengontrol mesin negara.

2. Korupsi yang Menjadi Ekosistem Permanen

Di banyak kementerian, korupsi bukan lagi tindak pidana; ia adalah budaya.
Dari kementerian pertanian hingga kementerian sosial, dari proyek bansos hingga pengadaan alat, aliran uang siluman menjadi keniscayaan.

Dan ketika korupsi menjadi sistem, rakyat selalu menjadi korban pertama.

3. Pelayanan Publik di Titik Terendah

Rumah sakit mahal, sekolah bermasalah, layanan kependudukan berbelit, pungli ada di mana-mana.
Negara terasa sibuk dengan pencitraan, bukan pelayanan.

Kemarahan publik bukan lahir dari teori; ia lahir dari pengalaman hidup sehari-hari.


IV. SDA Dikeruk, Keuntungan Mengalir ke Asing dan Oligarki

Indonesia memiliki segala yang dibutuhkan untuk menjadi bangsa besar.
Namun di era Jokowi, kekayaan itu justru mengalir kepada yang paling dekat dengan kekuasaan—dan kepada modal asing.

1. Hutan Gundul, Tambang Menganga, Desa Hilang

Perusahaan tambang dan sawit mendapatkan izin besar-besaran.
Lingkungan rusak, banjir bandang terjadi, masyarakat adat digusur, dan pemerintah berdiri di sisi korporasi.

2. Impor Pangan Masif di Negeri Kaya Lahan

Garam impor.
Jagung impor.
Beras impor.

Sementara pemerintah sibuk memamerkan angka-angka yang tidak paralel dengan kenyataan lapangan.

3. IKN: Proyek Raksasa dengan Nilai Moral yang Minim

Puncak dari semua itu adalah proyek Ibu Kota Nusantara.
Proyek yang menghisap anggaran, memberikan konsesi kepada pemodal besar, dan dijadikan simbol pembangunan—padahal rakyat justru semakin terjepit oleh harga pangan, lapangan kerja yang seret, dan biaya hidup yang melonjak.

IKN adalah monumen ego kekuasaan, bukan monumen kemajuan.


V. Oligarki Menguat: Negara Ditawan Kepentingan

Sejarah akan mencatat bahwa era Jokowi adalah masa ketika oligarki tidak hanya berkembang, tetapi dilayani.

1. Konglomerat Menjadi Pusat Kekuasaan Bayangan

Para pemilik modal masuk ke lingkar istana, menentukan arah kebijakan, menguasai izin, bahkan mengatur siapa yang harus maju atau mundur dari kontestasi politik.

2. Partai Politik Dikerdilkan

Partai kehilangan fungsi sebagai institusi demokrasi.
Mereka berubah menjadi perpanjangan proyek politik istana.
Rekrutmen politik berhenti berjalan.
Sistem presidensial rusak dari akarnya.

3. Rakyat Dipinggirkan dari Ruang Demokrasi

Ketika suara rakyat tak lagi penting, kemarahan adalah konsekuensi logis.
Dan ketika kemarahan itu mencapai titik nadir, tuntutan mengadili bukan radikalisme—itu adalah akal sehat.


VI. Maka Wajar Jika Rakyat Ingin Mengadili

Bukan karena benci.
Bukan karena dendam.
Tetapi karena negara membutuhkan pembersihan moral.

Jokowi harus diadili—secara politik, secara moral, dan secara hukum—agar Indonesia kembali pada rel akuntabilitas.
Jika tidak, preseden yang ditinggalkan akan menghancurkan generasi berikutnya.

Kemarahan rakyat hari ini adalah suara keadilan yang tertunda.
Dan suara itu akan terus menggema sampai negara ini kembali ke pangkuan demokrasi yang sehat.


 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Petani Milenial: Antara Harapan Besar dan Kenyataan yang Menggelisahkan

Next Post

Prabowo Menggulung IKN Secara Senyap: Warisan Jokowi yang Direm Pelan-Pelan”

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Asfiksia: Kematian yang Sunyi dan Pertanyaan yang Menggema
Feature

Asfiksia: Kematian yang Sunyi dan Pertanyaan yang Menggema

April 14, 2026
DEKONSTRUKSI SEKURITISASI DEMOKRASI
Feature

DEKONSTRUKSI SEKURITISASI DEMOKRASI

April 14, 2026
Siklus Baru Peradaban Palsu
Feature

Siklus Baru Peradaban Palsu

April 14, 2026
Next Post
Prabowo Menggulung IKN Secara Senyap: Warisan Jokowi yang Direm Pelan-Pelan”

Prabowo Menggulung IKN Secara Senyap: Warisan Jokowi yang Direm Pelan-Pelan”

Ketidakadilan RKUHP soal Penghinaan

Living Law dan Ancaman Ketidakpastian Hukum: Ketika KUHP Baru Membuka Ruang Penafsiran Tanpa Batas

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!
Law

Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

by Karyudi Sutajah Putra
April 13, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Pemberitaan sejumlah media beberapa waktu lalu ihwal pembongkaran rumah tua di kawasan cagar budaya, tepatnya di Jalan Teuku...

Read more
Jawaban Nasdem Terkait Tudingan Uang Rp 30 M  Disita KPK, Akan Digunakan Untuk Keluarga Nyaleg

Tertipu, Ahmad Sahroni Berkasus dengan KPK?

April 11, 2026
Antara Retorika dan Realita: Bisakah Prabowo Tumbangkan Outsourcing?

Padamnya Api Demokrasi di Tangan Prabowo

April 9, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Asfiksia: Kematian yang Sunyi dan Pertanyaan yang Menggema

Asfiksia: Kematian yang Sunyi dan Pertanyaan yang Menggema

April 14, 2026
DEKONSTRUKSI SEKURITISASI DEMOKRASI

DEKONSTRUKSI SEKURITISASI DEMOKRASI

April 14, 2026
Siklus Baru Peradaban Palsu

Siklus Baru Peradaban Palsu

April 14, 2026

Citronella Oil Produk Andalan (Rencana Jangka Pendek 5 Tahun: Model Bisnis 2 untuk Kesejahteraan Petani melalui Koperasi)

April 13, 2026
Anomali Belanja BGN di Tengah Narasi Efisiensi Negara

Anomali Belanja BGN di Tengah Narasi Efisiensi Negara

April 13, 2026
Rakyat Takut Prabowo: Ketika Bayang-Bayang Militer Membungkam Demokrasi

Rakyat Takut Prabowo: Ketika Bayang-Bayang Militer Membungkam Demokrasi

April 13, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Asfiksia: Kematian yang Sunyi dan Pertanyaan yang Menggema

Asfiksia: Kematian yang Sunyi dan Pertanyaan yang Menggema

April 14, 2026
DEKONSTRUKSI SEKURITISASI DEMOKRASI

DEKONSTRUKSI SEKURITISASI DEMOKRASI

April 14, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist