Fusilatnews – Islam adalah rahmat, bukan komoditas. Tetapi di tangan sebagian orang, Islam direduksi menjadi dagangan. Ayat dijadikan brosur, doa dijadikan produk, sedekah dijadikan investasi. Fenomena Yusuf Mansur adalah cermin telanjang dari wajah Islam yang diperdagangkan.
Dengan retorika manis, ia menjual “paket doa” dan “dzikir penyelesai masalah” seolah-olah Allah bisa disuap dengan transfer sedekah. Jamaah dijanjikan balasan berlipat ganda jika menyerahkan harta, bahkan didorong untuk berhutang demi bersedekah. Bagi mereka yang hidup dalam kesulitan, janji itu terdengar seperti jalan keluar. Padahal, di baliknya hanyalah jebakan.
Persuasi yang dipakai pun licik: ayat-ayat tentang keutamaan sedekah dipelintir menjadi alat penggalangan dana, doa-doa dipasarkan seperti obat mujarab untuk segala masalah — utang, sakit, jodoh, rezeki. Seolah-olah Allah bisa ditransaksikan dengan rumus matematis: sedekah sekian, balasan sekian kali lipat. Bukankah ini lebih mirip bank spiritual ketimbang agama yang membebaskan?
Lebih ironis lagi, janji-janji itu tidak jarang berujung pada kekecewaan jamaah. Banyak yang mengaku tertipu, merasa dimanfaatkan, bahkan bangkrut. Namun, sang ustaz tetap berdiri di panggung, tetap berselimut dalil, tetap menjual “Islam versi dagang”.
Di sinilah kita melihat betapa jauhnya praktik ini dari esensi Islam. Rasulullah ﷺ tidak pernah menjadikan doa sebagai komoditas, tidak pernah memungut bayaran untuk dzikir, apalagi mengiming-imingi jamaah dengan laba berlipat ganda. Rasul mengajarkan sedekah sebagai bentuk ketulusan, bukan investasi berbalas kontan.
Maka, fenomena Yusuf Mansur hanyalah puncak gunung es: ketika agama direduksi menjadi alat cari untung, ketika Qur’an dan hadis diperdagangkan layaknya barang dagangan. Islam berubah dari rahmat menjadi komoditas. Dari tuntunan, menjadi tontonan.
Islam yang sejati tidak butuh makelar doa. Tidak butuh calo sedekah. Islam sejati hidup di hati yang tulus menolong tanpa berharap imbalan, di tangan yang memberi tanpa mengharap kembali, di kasih sayang yang melampaui hitung-hitungan laba.























