Fusilatnews – Fenomena Yusuf Mansur bukanlah sekadar kontroversi pribadi, melainkan gejala besar: kapitalisme agama yang menjelma dalam wajah Islam. Jika di Amerika kita mengenal televangelist—pendeta bintang televisi yang menjual mukjizat lewat donasi—maka di Indonesia kita punya versinya sendiri: Yusuf Mansur.
Ia menjual doa-doa, menawarkan dzikir, dan mengemas sedekah sebagai “investasi” dengan janji balasan ribuan kali lipat. Narasi yang dipakainya nyaris identik dengan Prosperity Gospel di Amerika: Tuhan diposisikan seperti mesin ATM spiritual. Masukkan sedekah, tekan tombol doa, lalu tunggu balasan berupa kekayaan dan keberuntungan. Agama direduksi menjadi kalkulator laba.
Lebih berbahaya lagi, ia menggunakan persuasi yang menggugah rasa takut dan harapan umat. Mereka yang miskin, putus asa, atau terlilit utang dijadikan target utama. Dengan iming-iming “keajaiban sedekah”, mereka diajak mengorbankan uang terakhir, bahkan berutang, demi janji balasan yang entah kapan datangnya. Dan ironisnya, yang paling diuntungkan justru sang ustaz itu sendiri.
Bukankah ini sama dengan televangelist Amerika yang hidup mewah dengan jet pribadi dan rumah megah, sementara jemaatnya tetap miskin? Bedanya, Yusuf Mansur membungkus praktik ini dengan ayat Qur’an dan hadis, seakan-akan dalil agama melegitimasi praktik dagang iman.
Di sinilah Islam dicoreng habis-habisan. Rasulullah ﷺ tidak pernah menjadikan doa sebagai komoditas. Beliau tidak pernah menjual dzikir sebagai solusi instan masalah hidup. Beliau mengajarkan sedekah sebagai ketulusan, bukan investasi. Jika hari ini doa dan dzikir bisa diperdagangkan, maka apa bedanya Islam dengan pasar swalayan spiritual?
Menyebut Yusuf Mansur sebagai televangelist ala Indonesia bukanlah berlebihan, melainkan panggilan jujur untuk membuka mata. Islam sedang diperdagangkan. Qur’an dijadikan brosur. Hadis diposisikan sebagai alat promosi. Umat dijadikan konsumen. Inilah wajah kapitalisme agama: ketika rahman~rahim Tuhan dijual dalam bentuk paket doa.
Maka, jika kita tidak berani menyebut ini penipuan spiritual, kita sedang membiarkan Islam direduksi menjadi sekadar bisnis. Dan ketika itu terjadi, kita bukan lagi umat yang beragama, melainkan umat yang dikomodifikasi.
























