“Yang menyebutkan diksi agromaritim, hanya visi misi capres nomor satu. Bukan karena capresnya, tapi karena timnya,” kata Anies.
Bogor – Fusilatnews – Dalam kegiatan Food & Agriculture Summit III di IPB, Bogor, Jawa Barat, Calon presiden nomor urut satu, Anies Baswedan, menegaskan tentang persyaratan bagi Indonesia untuk bisa menjadi negara maju tak hanya sekedar beralih menjadi negara industri. Namun Ada yang lebih utama yaitu Indonesia menjadi negara yang mau belajar.
“Jika kita bisa menyebutkan kita sebagai negara pembelajar, bangsa pembelajar, maka kita sampai ke era maju,” ucap Anies , Senin, ( 18/12)
Dalam kesempatan itu, Capres Anies menegaskan visinya terkait sektor agromaritim. Terutama jika dibandingkan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden lainnya di Pilpres 2024.
“Yang menyebutkan diksi agromaritim, hanya visi misi capres nomor satu. Bukan karena capresnya, tapi karena timnya,” kata Anies.
“Agro-maritim adalah sebuah istilah yang sengaja diangkat untuk bisa mengintegrasikan matra darat dan laut dalam konteks sumber daya alam,” kata Rektor IPB, Dr Arif Satria
Konsep Agro-Maritim 4.0 disusun oleh tim IPB lintas fakultas, dalam waktu relatif singkat, kurang dari enam bulan. transforamsi Agro-maritim 4.0 menjadi penting karena ke depan Indonesia dihadapkan pada sebuah persoalan yakni diskonektivitas pembangunan agro dan maritim.
Diakuianya saat ini, pembenahan tata ruang darat dan laut belum terintegrasi dengan sempurna. Persoalan tata ruang menjadi menjadi sangat krusial sekali karena dengan tata ruang yang baik, maka pengelolaan akan berjalan dengan baik.
“Manajemen juga akan berjalan dengan baik apabila zoning berjalan dengan baik, oleh karena itu diskonektivitas ini harus kita ‘address’ menjadikan isu yang penting,” katanya.
Persoalan lainnya yang dihadapi saat ini adalah kerusakan sumber daya alam lingkungan, saat ini problem yang dihadapi di tingkat dunia, kelebihan penangkapan (over fishing), deforestasi, menurunnya hutan magrove, dan terumbu karang yang kondisinya sekarang 6,3 persen, serta kerusakan lainnya.
Begitu pula rendahnya kesejahteraan insan agro-maritim, pelaku-pelaku yang ada di maritim menghadapi persoalan terkait kesejahteraan hewan, ketahanan pangan, kemandirian dan kedaulatan pangan, yang saat ini masih begitu kokoh.
Ini diindikasikan dengan produk-produk impor yang masih ada untuk memenuhi kebutuhan kita,.
Begitu pula dengan kontribusi agro-maritim dalam pertumbuhan ekonomi, lanjutnya, sebagai konsekuensi dari transformasi struktura yang tidak seimbang.
Ketidaksiembangan ini, harus diaddress dengan baik, sekaligus untuk untuk mengatasi problem ketimpangan pembangunan antar wilayah barat dan timur.
“Berbagai persoalan yang harus segera diatasi dengan pembangunan yang lebih intensif di Indonesia bagian timur, agar ketimpangan itu semakin lama semakin mengecil,” katanya.
Ia mengatakan, agro-maritim 4.0 adalah sebuah integrasi pengelolaan wilayah darat dan laut secara iklusif melalui pendekatan sistem sosial, ekonomi, ekologi yang komplek sehingga membutuhkan pendekatan transisi tim terpadu, dan stabil.
Konsep pembangunan agro-maritim 4.0 menggunakan tiga pendekatan yakni transdisiplin, konektivitas wilayah ekologi, terintegrasi, dan partisipatif.
“Agro-maritim 4.0 tidak boleh ditafsirkan hanya untuk pencapaian efisiensi, kualitas, keuntungan berlipat, dan nilai tambah dalam pengelolaan sumber daya alam semata,” katanya.
Arif menambahkan, konsep agro-maritim 4.0 perlu dibangun dengan semangat dan nilai-nilai universal yang membawa pada kebaikan. Semangat kreativitas, dan berfikir kritis harus dipupuk untuk menghasilkan inovasi teknologi dan sosial kelembagaan yang bisa adaptif dalam menjawab tantangan zaman.
























