• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Economy

Agresi AS-Israel ke Iran: Imperialisme Energi yang Telanjang, Ancaman bagi Kedaulatan Global dan Indonesia

fusilat by fusilat
March 2, 2026
in Economy, Feature, Perang
0
Agresi AS-Israel ke Iran: Imperialisme Energi yang Telanjang, Ancaman bagi Kedaulatan Global dan Indonesia
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Malika Dwi Ana

Bayangkan skenario ini: Amerika Serikat (AS), di bawah komando Presiden Donald Trump yang haus kekuasaan, melancarkan serangan brutal bersama Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026, dengan dalih mencegah program nuklir. Tapi jangan tertipu oleh narasi heroik ini—ini bukan tentang keamanan dunia, melainkan perebutan kendali atas arteri energi global: Selat Hormuz, yang mirip dengan Selat Malaka sebagai jalur vital bagi 20-30% pasokan minyak dan LNG dunia. Iran, dengan kendali atas selat ini, menjadi penghalang terakhir bagi hegemoni AS atas sumber daya alam. Serangan ini adalah langkah licik untuk menguasai rantai pasok global, memastikan AS bisa “duduk manis” saat pasokan langka, sementara negara seperti Indonesia terus dijajah secara ekonomi melalui kontrak raksasa seperti ExxonMobil hingga 2051 dan Freeport-McMoRan hingga 2061. Jadi ini bukan perang melawan teror; tapi ini perampokan imperialis yang akan memicu resesi dunia dan memperlemah kedaulatan bangsa-bangsa Selatan Global.

Motif Sejati: Bukan Nuklir, Tapi Minyak dan Dominasi Ekonomi
Trump mengklaim serangan “Epic Fury” ini untuk menghentikan “ancaman eksistensial” dari Iran, tapi fakta berbicara lain: Ini tentang mengamankan Selat Hormuz, chokepoint yang mengalirkan 20 juta barel minyak per hari—nilai perdagangan US$500 miliar setahun—dari Qatar, UEA, Kuwait, dan Irak. Iran sudah menutup selat ini sebagai balasan, memaksa perusahaan seperti Exxon dan trader global menangguhkan pengiriman, yang langsung melonjakkan harga minyak Brent hingga 2-3%. Mengapa AS begitu ngotot? Karena dengan menguasai Hormuz, AS bisa mengendalikan alur energi dunia, mirip bagaimana mereka mendominasi Selat Malaka melalui aliansi militer. Ini bukan pencegahan nuklir—AS punya ribuan hulu ledak, Israel tak teken NPT—tapi strategi untuk monopoli pasokan saat terjadi kelangkaan sumber daya. Bayangkan: Saat minyak global habis, AS tinggal “kipas-kipas” untung dari harga jual yang tinggi, sementara negara importir seperti China dan India menderita inflasi gila-gilaan. Hipokrisinya sangat mencolok dan terang benderang: bahwa AS menuduh Iran sebagai agresor, tapi merekalah sebenarnya yang membangun armada raksasa di Teluk Persia sejak 2003, dan siap merebut kontrol. Ini adalah pola lama imperialisme: dahulu menginvasi Irak demi minyak, sekarang pun sama, menginvasi Iran demi Hormuz!

Indonesia sebagai Korban Kolateral: Dari Exxon hingga Freeport, Pola Penjajahan Berlanjut
Lihat saja Indonesia: negara kita, dengan kekayaan mineral dunia, sudah menjadi mangsa korporasi AS. ExxonMobil menguasai Blok Cepu hingga 2051, menyedot minyak kita dengan kontrak yang menguntungkan mereka, sementara Freeport-McMoRan menggali emas dan tembaga di Grasberg, Papua, hingga 2061—kontrak yang diperpanjang di bawah tekanan geopolitik. Ini bukan kemitraan; ini penjajahan modern! Serangan ke Iran adalah ekstensi dari strategi ini: Dengan menguasai Hormuz, AS berharap bisa mengendalikan harga global, memaksa negara seperti Indonesia bergantung lebih dalam pada kontrak asing untuk bertahan. Bayangkan dampaknya: Harga minyak naik hingga US$100-150 per barel jika Hormuz tertutup, memicu inflasi di RI, subsidi BBM membengkak ratusan triliun, dan rupiah ambruk. Pemerintah Prabowo, dengan kebijakan “multi-alignment”, malah menawarkan mediasi—sikap lemah yang bisa diartikan tunduk pada AS, padahal sebagai anggota BRICS bersama Iran, kita seharusnya tegas mengecam agresi ini. Jangan biarkan Selat Malaka jadi target berikutnya; ini saatnya Indonesia bangkit, menolak kontrak predatori, dan beralih ke energi terbarukan untuk lepas dari jerat imperialis!

Dampak Global: Resesi, Ketidakadilan, dan Ancaman Perang Dunia
Konsekuensinya mengerikan: penutupan Hormuz bisa memicu resesi global, dengan harga minyak melonjak dua kali lipat, gangguan rantai pasok LNG, dan volatilitas pasar saham. Negara miskin akan paling menderita, sementara AS, sebagai eksportir minyak neto, justru untung dari kenaikan harga—bukti nyata ketidakadilan sistem kapitalis global. Ini mempercepat perpecahan dunia: China dan Rusia melihatnya sebagai serangan anti-multipolar, sementara negara Teluk seperti Saudi Arabia panik, tapi tetap jadi pion AS. Risikonya? Eskalasi ke Perang Dunia Ketiga, dengan proksi Iran seperti IRGC yang mengerahkan rudal dan drone, mengulang trauma Irak dan Afghanistan. AS bukan penyelamat; mereka adalah predator yang memprovokasi konflik untuk dominasi ekonomi, mengabaikan Piagam PBB dan hak kedaulatan.

Bangkit Lawan Imperialisme—Indonesia dan Dunia Tak Boleh Diam!
Agresi AS-Israel ke Iran adalah puncak kebrutalan imperialisme energi: merebut Hormuz untuk menguasai masa depan langka sumber daya, sambil mempertahankan cengkeraman di tempat seperti Indonesia melalui Exxon dan Freeport. Ini bukan pertahanan; ini perampasan yang akan membawa dunia ke jurang kehancuran. Dunia harus bersatu: Desak PBB memberikan sanksi terhadap AS, memboikot korporasi perampok, dan mendukung transisi energi yang adil. Bagi Indonesia, Presiden Prabowo harus tegas menecam, merenegosiasi kontrak asing, dan memperkuat aliansi BRICS. Jika tidak, kita semua akan jadi budak hegemoni AS—bangkit sekarang, atau biarkan sejarah mencatat kita sebagai korban yang pasif.

Malika Dwi Ana

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Berbaring di Dalam Peti Mati, Cara Warga Jepang Menemukan Makna Hidup

Next Post

Minyak = Kekuasaan Dunia: Imperialisme AS yang Brutal dalam Perebutan Sumber Daya

fusilat

fusilat

Related Posts

Retorika yang Berulang, Realitas yang Berjalan: Membaca Diksi Pembangunan Prabowo
Feature

Terkaget-kagetnya Prabowo

July 21, 2026
Feature

Membangun Kembali Kepercayaan Publik (Ketika Strategi Komunikasi Berhadapan dengan Due Process of Law)

July 21, 2026
Anies Janjikan Bikin Hotline Paris. Kata Hotman Mau Bersaing Dengan Hotman 911?
Feature

Sandyakalaning Hotman Paris

July 21, 2026
Next Post
Minyak = Kekuasaan Dunia: Imperialisme AS yang Brutal dalam Perebutan Sumber Daya

Minyak = Kekuasaan Dunia: Imperialisme AS yang Brutal dalam Perebutan Sumber Daya

Amerika Bertambah Luas Wilayahnya, China Bertambah Luas Wilayah Ekonominya

Amerika Bertambah Luas Wilayahnya, China Bertambah Luas Wilayah Ekonominya

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?
Feature

Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

by Karyudi Sutajah Putra
July 11, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024 Jakarta - Akhirnya, Febrie Adriansyah berhasil diamputasi. Jaksa Agung Muda Bidang Tindak...

Read more
AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

July 10, 2026
Geng Trunojoyo Vs Geng Gedung Bundar, Siapa Menang?

Geng Trunojoyo Vs Geng Gedung Bundar, Siapa Menang?

July 9, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Ocean Institute of Indonesia Resmi Berdiri, KKP Satukan 11 Kampus Vokasi Cetak SDM Kelautan Berdaya Saing Global

Ocean Institute of Indonesia Resmi Berdiri, KKP Satukan 11 Kampus Vokasi Cetak SDM Kelautan Berdaya Saing Global

July 21, 2026
Retorika yang Berulang, Realitas yang Berjalan: Membaca Diksi Pembangunan Prabowo

Terkaget-kagetnya Prabowo

July 21, 2026

Membangun Kembali Kepercayaan Publik (Ketika Strategi Komunikasi Berhadapan dengan Due Process of Law)

July 21, 2026
Bentrok Berdarah di NTT: Hentikan Ekspansi Militer dalam Program Ekonomi Desa!

Bentrok Berdarah di NTT: Hentikan Ekspansi Militer dalam Program Ekonomi Desa!

July 21, 2026
Kasus Febrie dan Hotman: Integritas Penegakan Hukum, Martabat Wartawan, dan Kualitas Komunikasi Publik

Polda Metro Mulai Selidiki Laporan PWI terhadap Hotman Paris, Ketua Umum PWI: Ini Soal Martabat Profesi Wartawan

July 21, 2026
IPW Desak Propam Polda Metro Jaya Sidangkan Penyidik Polres Depok

Febrie Adriansyah Tak Ditahan, IPW Geram

July 21, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Ocean Institute of Indonesia Resmi Berdiri, KKP Satukan 11 Kampus Vokasi Cetak SDM Kelautan Berdaya Saing Global

Ocean Institute of Indonesia Resmi Berdiri, KKP Satukan 11 Kampus Vokasi Cetak SDM Kelautan Berdaya Saing Global

July 21, 2026
Retorika yang Berulang, Realitas yang Berjalan: Membaca Diksi Pembangunan Prabowo

Terkaget-kagetnya Prabowo

July 21, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...