Penulis Amir Faisal, Subscribe channel youtube : “Trainer Amir Faisal”
Kelompok anarko sejatinya tidak ada kaitannya dengan para demonstran yang menyampaikan aspirasi atau protes di DPR. Mereka punya agenda sendiri. Kali ini target mereka jelas: menyerang dan melumpuhkan pemerintahan Prabowo pada titik terlemah—masalah kekurangan anggaran. Untuk tujuan apa, masih menjadi tanda tanya.
Prolognya dimulai dari pemanfaatan keresahan rakyat akibat kenaikan PBB yang melonjak tajam, buntut dari pemotongan dana pusat ke daerah. Keresahan itu diprovokasi, diperbesar, lalu diarahkan menjadi amarah kolektif. Penguasa yang terlihat panik menghadapi defisit APBN, beban utang, dan kekurangan anggaran, seakan memberi celah bagi lawan untuk menyulut api.
Skemanya sederhana: desain kerusuhan. Massa yang marah diprovokasi untuk membakar dan menjarah fasilitas pemerintah daerah. Daerah yang sudah pusing karena kekurangan anggaran, kini dipaksa menanggung beban baru: membangun kembali gedung, perkantoran, komputer, hingga mebelair yang hancur. Sementara di sisi lain, kenaikan PBB terus memantik demonstrasi warga.
Menteri Keuangan yang tengah mengoptimalkan penerimaan pajak pun semakin terpojok. Di mata rakyat, ia tak ubahnya debt collector. Semua mau dipajaki, padahal rakyat sendiri sedang terengah-engah akibat resesi, dampak Covid-19, dan tekanan ekonomi. Sri Mulyani—barangkali—tak pernah benar-benar tahu seperti apa rasanya saat sedang bokek, lalu pintu rumah digedor debt collector.
Lebih parah lagi, DPR yang seharusnya menjadi corong aspirasi rakyat justru sibuk mengurus kocek sendiri. Begitu cair, mereka joget-joget, tanpa malu di hadapan rakyat yang menderita. Maka wajar bila rakyat kemudian murka, kehilangan harapan, bahkan sampai berkesimpulan DPR tak ada manfaatnya lagi, pantas dibubarkan.
Sri Mulyani pernah bahkan menyuruh orang yang enggan bayar pajak untuk hengkang dari Indonesia (Viva.com). Ironisnya, ia sendiri tidak membayar pajak sesuai PP No. 80/2010. Lebih ironis lagi, seorang mantan Direktur World Bank seolah tidak memahami bahwa pajak ada dua jenis—langsung dan tidak langsung—dan bahkan pengemis pun terkena PPN ketika membeli barang industri.
Di sisi lain, kebijakan pemungutan royalti musik juga ikut menambah beban psikologis masyarakat. Musik yang sejatinya bisa jadi pelipur lara di kala stres, kini sulit lagi terdengar di mal, kafe, atau tempat hiburan murah karena pengusaha takut dibebani tagihan royalti. Akumulasi keresahan inilah yang akhirnya meletup pada 28 Agustus, hanya 11 hari setelah gegap gempita HUT RI.
Puncaknya, publik tersulut oleh pemandangan memilukan: seorang driver ojol, pahlawan keluarga, dilindas kendaraan taktis Barakuda. Video itu menyebar jutaan kali, menyalakan bara yang kian membara. Presiden dan Ketua DPR datang bertakziah, namun air bah kemarahan sudah telanjur meluap.
Seandainya kelak emosi rakyat mereda, akar masalah tetap tersisa. Dan selama itu belum diatasi, percikan kecil saja bisa memantik kerusuhan baru. Anasir-anasir busuk jelas mengintai, siap memanfaatkan momentum demi kepentingan sendiri.
Kini Prabowo tengah diuji. Sebagai jenderal, ia tentu tahu cara menghadapi kelompok anarko. Namun dalam membaca aspirasi rakyat, ia butuh membuka telinga lebih lebar. Bukannya tidak pintar, hanya saja ia belum pernah merasakan jadi orang miskin dengan pikiran yang sederhana.
Rakyat tidak sekadar butuh makan gratis bagi anak-anak mereka. Mereka jauh lebih butuh pekerjaan layak agar bisa memberi nafkah secara bermartabat. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dipaksakan justru membebani guru, yang kini harus mengurus ratusan nampan murid, mengganti yang hilang, bahkan ikut merasa bersalah bila terjadi keracunan. Ironinya, dana MBG justru memangkas 44 persen alokasi pendidikan.
Seharusnya Prabowo kembali ke jalur awal: MBG sebagai solusi stunting. Fokuskan di daerah 3T, selektif untuk keluarga miskin perkotaan, dengan pendataan ketua RT yang tahu betul kondisi warganya. Jangan sampai anggaran pendidikan—investasi penting untuk menyiapkan bonus demografi dan Indonesia Emas 2045—justru habis dimakan hari ini.

























