Los Angeles – Aktris dan aktivis kemanusiaan Angelina Jolie kembali menyuarakan kepeduliannya terhadap krisis kemanusiaan di Gaza. Dalam pernyataan publik yang ia sampaikan melalui media sosial, Jolie menyebut kondisi Gaza sebagai “penjara terbuka” selama hampir dua dekade dan kini “dengan cepat menjelma menjadi kuburan massal”.
“Gaza telah menjadi penjara terbuka selama hampir dua dekade dan kini dengan cepat menjelma menjadi kuburan massal,” tulis Jolie. Ia menambahkan bahwa “40 persen dari mereka yang terbunuh adalah anak-anak tak berdosa. Seluruh keluarga dibantai, sementara dunia hanya menyaksikan.”
Pernyataan ini disampaikan menyusul serangan Israel ke Kamp Pengungsi Jabalia di Gaza, yang menewaskan ratusan warga sipil. Jolie mengecam keras serangan tersebut dan menyebutnya sebagai “pengeboman yang disengaja terhadap populasi yang terperangkap dan tak punya tempat untuk melarikan diri.”
“Jutaan warga sipil — anak-anak, perempuan, keluarga — sedang dihukum secara kolektif dan didesak menjadi manusia kelas dua, tanpa akses pada makanan, obat-obatan, atau bantuan kemanusiaan. Ini jelas-jelas melanggar hukum internasional,” ujar Jolie.
Ia juga menyesalkan sikap komunitas internasional yang dinilainya gagal mengambil langkah tegas. “Dengan tidak menuntut gencatan senjata kemanusiaan dan menghalangi Dewan Keamanan PBB untuk menerapkannya pada kedua pihak, para pemimpin dunia turut bertanggung jawab atas kejahatan ini,” lanjutnya.
Angelina Jolie selama ini dikenal aktif dalam berbagai isu kemanusiaan sebagai mantan duta UNHCR dan sering menyuarakan nasib para pengungsi serta korban perang di berbagai belahan dunia. Sikap tegasnya atas krisis Gaza menambah tekanan moral terhadap komunitas internasional untuk segera mengambil tindakan nyata demi menyelamatkan warga sipil, terutama anak-anak, dari kekerasan yang terus berlangsung.
Kamp Pengungsi Jabalia sendiri merupakan salah satu wilayah terpadat di Gaza, dengan lebih dari 110.000 pengungsi terdaftar dalam area sempit seluas 1,4 kilometer persegi. Serangan terhadap kamp tersebut telah memicu kecaman luas dari berbagai organisasi hak asasi manusia.
Jolie menutup pernyataannya dengan menyerukan solidaritas dan keberanian moral dunia internasional. “Tidak ada pembenaran untuk menghancurkan populasi yang tak memiliki tempat berlindung, tak punya air, makanan, atau peluang untuk melarikan diri,” tegasnya.


























